19 September 2026

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“I will tell people not to call in the morning” –Susan Sontag.

.

Sebagaimana telah saya sampaikan pada beberapa postingan terdahulu, pada dasarnya tidak ada satu cara atau teknik untuk produktif menulis yang bisa berlaku secara umum. Setiap penulis bisa memiliki cara dan teknik yang paling cocok untuk dirinya. Ini seperti yang diungkap oleh Mark D. White, Ph.D.

Namun Bamidele juga mengingatkan, bahwa tidak semua orang berbeda secara keseluruhannya. Selalu akan ditemukan orang-orang dengan sifat dan karakter yang sama atau hampir sama. Selalu ada orang-orang dengan situasi dan kondisi yang sama atau hampir sama. Untuk itu kita bisa saling belajar.

Tips berikutnya untuk bisa produktif menulis, adalah dengan banyak belajar dari para penulis produktif. Mereka sudah terbukti memiliki banyak karya, maka kita belajar kepada mereka bagaimana bisa mendapatkan produktivitas dalam menulis. Tidak semua tips cocok untuk kita, namun akan ada hal yang bisa kita ambil sebagai inspirasi.

Seri # 6 – Belajar Produktif dari Susan Sontag

Kali ini kita akan belajar dari Susan Sontag, seorang novelis yang sangat produktif. Siapakah jati dirinya? Mari kita simak.

Susan Sontag (16 Januari 1933 – 28 Desember 2004) adalah seorang penulis, produser film, pengajar, dan aktivis politik Amerika. Ia banyak menulis esai, tetapi juga menerbitkan novel. Karya besar pertamanya adalah sebuah esai berjudul “Notes on ‘Camp'”, pada tahun 1964. Sontag aktif menulis dan berbicara tentang konflik, penyiksaan, perang, dan tanggung jawab.

Lahir di New York pada tahun 1933, namun Sontag dibesarkan di Tucson, Arizona, dan California Selatan. Sontag mulai belajar di sebuah universitas di Berkeley pada usia 16. Ia adalah kutu buku. Ia suka membaca dan menulis, menggunakan buku hariannya untuk mereview berbagai hal yang ia baca, dan untuk mengembangkan ide-idenya tentang diri dan seni.

Ia mengunjungi Hanoi selama Perang Vietnam. Di Sarajevo pada tahun 1993, selama perang Bosnia, dia mementaskan Waiting for Godot (1953). Sontag menyatakan, bukan hal yang berlebihan jika mementaskan drama tentang keputusasaan di tempat di mana orang-orang putus asa. Bahkan bisa menumbuhkan rasa dikuatkan dan dihibur pada masyarakat Bosnia.

Sontag kerap memancing kontroversi melalui tulisan. Misalnya, saat menulis tentang Perang Vietnam, ia menyebut ras kulit putih sebagai ‘kanker kemanusiaan’. Ketika menulis di The New Yorker pada 24 September 2001, ia mengatakan bahwa 9/11 bukanlah serangan “pengecut” terhadap “peradaban” atau “kemanusiaan”. Tetapi serangan terhadap negara adidaya yang memproklamirkan diri di dunia, yang dilakukan sebagai konsekuensi dari aliansi dan tindakan Amerika tertentu.

Tentang tulisan esai, ia mengatakan, “Sebuah esai bukan rencana, bukan meditasi, bukan ulasan buku, bukan memoir, bukan laporan, bukan penghinaan, bukan cerita picisan, bukan monolog, bukan catatan perjalanan, bukan himpunan kata mutiara, bukan elegi, bukan berita. Tidak, sebuah esai tidak boleh menjadi salah satu dari yang disebut di atas”. 

Bagaimana Sontag Menulis?

“I was not looking for my dreams to interpret my life, but rather for my life to interpret my dreams” –Susan Sontag

“Menurut pendapatmu, bagaimana kita dapat mencegah perang?” Inilah salah satu dari tiga pertanyaan yang diajukan Virginia Woolf dalam buku Three Guineas. Pertanyaan yang berusaha dijawab oleh Susan Sontag melalui esai panjang dengan menggunakan fotografi untuk menopang ikhtiarnya. Setelah menulis On Photography, Susan Sontag menerbitkan Regarding the Pain of Others pada 2003, sekitar satu tahun menjelang kematiannya.

Dalam buku hariannya di tahun 1977, Sontag menulis resolusi pribadi yang membantunya mempertahankan kebiasaan menulis harian. Ia mengatakan, mulai besok — jika tidak hari ini:

  • Saya akan bangun setiap pagi paling lambat jam delapan (boleh melanggar aturan ini sepekan sekali).
  • Saya makan siang hanya dengan Roger Straus (boleh melanggar aturan ini setiap dua pekan sekali)
  • Saya akan menulis di buku catatan setiap hari.
  • Saya akan memberitahu orang-orang untuk tidak menelepon di pagi hari, atau, saya  tidak menjawab telepon yang masuk.
  • Saya akan membatasi bacaan saya pada malam hari. (saya terlalu banyak membaca, sebagai pelarian dari menulis).
  • Saya akan menjawab surat sepekan sekali.

Bagi Sontag, menulis adalah salah satu cara untuk mempertahankan hidup. Dengan menulis, Susan menyatakan keberpihakan dan posisinya terhadap beragam isu. “Penulis adalah orang yang menaruh perhatian terhadap dunia,” ujarnya kepada The Paris Review.

Dalam wawancaranya dengan Paris Review hampir duapuluh tahun kemudian (edisi 137, Winter 1995), Susan menjelaskan kebiasaannya menulis. “Saya menulis dengan pena, atau kadang-kadang dengan pensil, di atas alas berwarna kuning atau putih, yang jadi ‘jimat’ penulis Amerika”.

“Saya menyukai kelambanan menulis dengan tangan. Lalu saya mengetiknya dan mencoret-coretnya. Lalu saya mengetik ulang, setiap kali saya membuat koreksi dengan tangan maupun langsung dengan mesin tik, hingga saya tidak tahu bagaimana membuat tulisan itu jadi bertambah baik. Hingga lima tahun yang lalu, seperti itu”, ujarnya.

“Setelah itu, komputer memasuki hidup saya. Setelah draf kedua atau ketiga saya memindahkannya ke komputer, jadi saya tidak perlu mengetik ulang lagi seluruh manuskrip, tapi tinggal melanjutkan revisi dengan tangan pada draf cetakan dari komputer,” tambahnya.

Susan menulis ketika merasa ia harus menulis karena tekanan yang ia rasakan. “Ketika sesuatu benar-benar tengah berjalan, saya tak ingin hal lain. Saya tidak keluar rumah, seringkali saya lupa makan, dan saya tidur sangat sedikit. Ini cara kerja yang sangat berdisiplin dan membuat saya tidak menulis sangat banyak. Tapi saya berminat pula pada banyak hal lain,” ujar Sontag.

Membaca menjadi sisi lain dari menulis yang tak terpisahkan. “Saya banyak membaca tentang sejarah seni, sejarah arsitektur, musikologi, tulisan akademis mengenai beragam subyek. Juga puisi,” kata Susan. Menurutnya, “Penulis, seperti atlet, harus ‘berlatih’ setiap hari,” tulis Susan.

“Saya harus menulis setiap hari. Apa saja. Setiap hal. Saya selalu membawa buku catatan, sepanjang waktu. Saya merasa bersalah bila tidak menulis,” ujar Sontag.

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah merasa bersalah jika tidak menulis?

Bahan Bacaan

Dian Basuki, Susan Sontag, Hidup untuk Menulis, https://www.indonesiana.id, 27 April 2019

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/

Lauren Elkin, Susan Sontag Was a Monster, https://aeon.co, 16 Mei 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *