19 September 2026

https://writingcooperative.com/

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“The hardest part will be taking the first step and committing to the journey” –Brian Tracy

.

Apakah bagian yang tersulit dari menulis? Masing-masing kita bisa memiliki jawaban yang berbeda atas pertanyaan ini. Sebagian besar kesulitan menulis itu bersifat subjektif. Tidak sama tingkat dan jenis kesulitan yang dialami satu penulis dengan penulis lainnya.

Kita belajar dari salah satu penulis besar dunia, Brian Tracy. Menurut Tracy, bagian tersulit adalah mengambil langkah pertama dan berkomitmen untuk menyelesaikan perjalanan menulis. Benarkah demikian? Mari kita cermati.

Bagian tersulit dari menulis, menurut Tracy, adalah mengambil langkah pertama. Menurut saya, langkah pertama menulis adalah menetapkan niat, tekad atau motivasi. Tanpa niat atau tekad yang kuat, Anda tidak akan menulis, meski memiliki banyak waktu dan banyak fasilitas. Hal ini sudah saya ulas pada postingan sebelumnya. Simak kembali di sini.

“The hardest part will be taking the first step and committing to the journey” –Brian Tracy

Bagian tersulit berikutnya, masih menurut Tracy, adalah komitmen untuk menyelesaikan tulisan. Kadang seseorang sudah mulai menulis, namun teramat banyak teror yang ia temukan di sepanjang prosesnya. Akhirnya ia berhenti. Tidak menyelesaikan naskah yang sudah mulai ditulisnya.

Godaan Menilai Tulisan

Godaan di saat menulis teramat sangat banyak. Salah satunya adalah godaan untuk menilai tulisan, dan godaan untuk menulis tema yang lain. Yang dimaksud dengan godaan menilai tulisan adalah, Anda sudah banyak melakukan penilaian atas tulisan Anda, sementara masih sangat sedikit tulisan yang Anda hasilkan.

Baru menulis sedikit, sudah memberi banyak penilaian. Anda selalu merasa kurang. Tulisan Anda kurang bagus, kurang indah, kurang sistematis, kurang nendang, dan lain sebagainya. Seakan tak ada kebaikannya. Penilaian ini sering membuat Anda ciut atau kecut. Maka Anda memilih untuk menghentikannya.

Terlebih bagi Anda yang bercorak idealis. Suka membandingkan tulisan sendiri dengan karya penulis ternama. Dampaknya, merasa seperti terbanting. Mengapa tulisanku tidak sebagus tulisan Tere Liye? Mengapa bahasaku tidak seindah Asma Nadia? Mengapa kualitas pembahasanku tidak sedalam Dahlan Iskan?

Rupanya, episode mengalahkan godaan menilai tulisan ini cukup berat. Banyak penulis kesulitan untuk menghentikan atau mematikan sensor penilaian ini di saat sedang menulis. Dampaknya, tidak bersemangat untuk melanjutkan menulis. Menghentikan tulisan di saat sudah memulai beberapa bagian. Tidak bisa menjaga komitmen dan konsistensi menulis.

Godaan Menulis Tema Lain

Yang dimaksud godaan tema lain adalah berhamburannya sangat banyak tema menarik untuk ditulis. Saat tengah menulis artikel tema pendidikan, misalnya, mendadak melintas tema keluarga. Ia merasa tema keluarga lebih menarik, mengingat di masa pandemi sangat banyak keluarga yang terdampak.

Segera ia tinggalkan tulisan yang belum selesai, untuk menulis tema lain yang dianggap lebih menarik. Begitu mulai menulis tema keluarga, mendadak melintas menulis tema kesehatan. Ia berpikir bahwa sangat banyak masyarakat yang mengabaikan kesehatan di masa pandemi, maka perlu diingatkan melalui tulisan.

Demikian pula ketika  tengah menulis sebuah cerpen, mendadak melintas ide menulis cerpen dengan tema yang lain. Di kesempatan lain, saat sedang menulis artikel, terlintas ide menulis puisi. Saat asyik menulis puisi, terlintas ingin membuat novel. Begitu seterusnya, godaan tema-tema lain yang datang tanpa henti.

Jika godaan itu dituruti, maka dipastikan tidak ada karya tulis dihasilkan. Semua tulisan hanya seperempat atau setengah jadi. Tidak ada yang bisa dipublikasikan sebagai karya yang bisa dibaca dengan utuh. Rupanya komitmen menulis pada satu tema, sering kali dikalahkan oleh lintasan pemikiran sesaat. Kalah oleh ide-ide yang datang tiba-tiba.

Benar kata Tracy, hal paling berat dalam menulis adalah komitmen untuk menyelesaikan tulisan. Pada sebagian orang, komitmen menyelesaikan tulisan terhambat oleh penilaian kualitas tulisan. Merasa tidak pantas, merasa tidak indah, merasa tidak layak, sehingga menghentikan menulis.

Pada sebagian orang yang lain, komitmen menyelesaikan tulisan terhambat oleh hadirnya berbagai ide-ide segar di saat sedang menulis. Dampaknya, konsentrasi menulis tema yang sudah mulai dikerjakan menjadi buyar. Ambyar. Tergoda menulis tema atau rumpun lain yang dianggap lebih menarik.

Menggapai Komitmen Menulis

Pada Kelas Emak Punya Karya (EPK), Bapak Punya Karya (BPK) serta Kelas Buku Single (KBS), saya menerapkan kewajiban pembuatan komitmen diri dan komitmen aksi yang harus dibuat setiap peserta. Saya harus memastikan bahwa setiap peserta memiliki komitmen diri dan komitmen aksi untuk menyelesaikan karya tulis berupa buku.

Para peserta membuat pernyataan komitmen untuk menulis setiap hari, dalam hitungan tertentu, untuk menyelesaikan satu buku. Ada yang berkomitmen menulis selama 30 hari, ada yang 40 hari, ada pula yang 60 hari. Semua tergantung kemampuan masing-masing. Mereka menyatakan, pada pukul berapa mereka akan menulis setiap harinya. Komitmen inilah yang menjadi alat ukur dan evaluasi kinerja setiap peserta.

Terbukti, komitmen menyelesaikan menjadi hal berat. Meski sudah menyatakan akan menulis dalam kurun waktu tertentu, namun teramat sangat banyak godaan yang merontokkan komitmen tersebut.

Saya dengan sabar menunggu semua peserta menyelesaikan karyanya. Saya malu jika tidak berhasil menghantarkan para peserta menerbitkan buku tunggalnya. Komitmen, ternyata memang tidak mudah.

Bahan Bacaan

Brian Tracy, Should I Write A Book? https://www.briantracy.com, diakses 5 Juni 2021

.

Ilustrasi : https://writingcooperative.com/

1 thought on “Bagian Tersulit dari Menulis – 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *