.
Writing for Wellness – 2
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Ketika saya menyaksikan peristiwa yang membuat saya ‘nyesek’, karena tidak bisa berbuat apa-apa, maka saya menuliskannya. Setelah menuliskan, saya merasa lega. Hal yang ‘nyesek’, telah saya lepaskan melalui tulisan.
Misalnya, saat menyaksikan suatu musibah atau bencana besar menimpa sebuah daerah, sementara kita tidak bisa membantu mereka. Perasaan kemanusiaan kita pasti sangat bersedih atas ketidakmampuan kita untuk membantu korban bencana. Kita tidur nyenyak di rumah, makan bersama keluarga, sementara para korban bencana kehilangan rumah dan keluarga.
Apa yang bisa kita lakukan? Selain mengirim doa, dana bantuan untuk korban, kita juga bisa menuliskan kesedihan mereka. Para korban bencana tak sempat menulis kesedihan mereka sendiri. Kita bisa menuliskan kondisi yang mereka hadapi, karena kita tidak sedang berada dalam kondisi bencana.
Kita bisa menulis ajakan untuk membantu para korban bencana. Tulisan Anda bisa mengetuk sangat banyak orang untuk turut mendoakan dan membantu meringankan beban korban bencana. Ini akan membuat kita merasa lega. Tugas kemanusiaan sudah kita lakukan, meski hanya lewat tulisan.
Anda juga menulis untuk mengajak masyarakat bersikap secara bijak terhadap bencana yang menimpa. Misalnya tulisan saya tentang banjir berikut ini. Anda juga bisa menulis feature berisi kisah nyata seseorang korban bencana, untuk menjadi inspirasi dan motivasi bagi yang lainnya. Ini adalah berbagai bentuk tulisan yang menjadi sarana kepedulian dan kontribusi bagi korban bencana.
Menulis dengan Spesifik
Agar bisa terasa lega, Anda harus menulis dengan spesifik. Misalnya, terkait bencana yang saya ceritakan di atas. Ketika terjadi bencana gempa, tsunami dan liquifaksi di Palu, Sigi serta Donggala beberapa waktu lalu, saya merasa perlu menuliskan dengan detail.
Saya tulis data-data korban, saya tulis kebutuhan korban dari data lapangan, saya tulis prioritas yang dibutuhkan oleh para korban. Dengan menulis secara detail seperti itu, saya merasa semakin lega. Seakan saya telah melepaskan beban kewajiban yang selama ini tak mampu tertunaikan.
Jadi bukan hanya menulis secara global tentang “ada bencana di Palu, mari kita membantu”. Namun saya tulis sedetail mungkin dari data-data lapangan yang saya dapatkan dari lembaga terpercaya.
Hal serupa juga berlaku dalam konteks pelepasan beban pribadi. Jika ingin mendapatkan suasana lega, beban-beban tersebut bisa ditulis dengan spesifik. Merasa luka? Luka dimana, sebab apa, siapa yang melakukannya? Ini menulis untuk katarsis.
Rupanya katarsis akan efektif jika beban ditulis dengan detail. Agar tulisan katarsis bisa memberikan manfaat bagi masyarakat luas, maka perlu diolah dengan memberikan nutrisi kognitif di dalamnya. Diolah sehingga menjadi tulisan yang bernutrisi tinggi untuk memberikan inspirasi dan motivasi bagi orang lain.
Hal ini sejalan dengan hasil studi yang dilakukan oleh Nathalie Vrielynck dkk (2010). Vrielynck dan tim mengungkapkan bahwa semakin spesifik menulis tentang sesuatu, semakin lega pula kita merasakan tentang hal tersebut.
Studi dilakukan terhadap 54 peserta penelitian. Mereka diminta menuliskan secara detail pengalaman traumatis mereka. Hasilnya, mereka mengaku merasa lebih mudah untuk memahami apa yang terjadi dalam cerita mereka. Rasa amarah yang biasa muncul ketika mereka memikirkan peristiwa traumatis pun menjadi berkurang.
Para peserta menulis dengan detail terhadap pengalaman traumatik yang mereka alami. Usai menulis, mereka merasakan kondisinya semakin baik. Berbagai beban seakan telah dilepaskan melalui tulisan.
Buku ‘Self Love’ karya Hellen Patraliza ditulis awalnya sebagai katarsis. Namun, diolah dengan kerangka ilmiah populer, sehingga bisa memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Hellen mengaku lega setelah menulis, dan bahagia setelah bukunya terbit. Di buku itu, ia menulis dengan detail pengalaman traumatiknya.
Buku ‘Mendaki Sabar Menjemput Syukur’ karya Wydiesti awalnya adalah proses katarsis. Perjuangan sembuh dari kanker payudara, di saat sama harus mendampingi pengobatan suami, adalah pengalaman yang sangat berkesan. Wydiesti menulis dengan detail kejadian demi kejadian, hingga menjadi sebuah buku yang bermanfaat secara luas.
Buku ‘Fanzhuri Aina Anti’ adalah cara Khuriyatul Ainiyah, penulisnya, untuk berdamai dengan tugas rutin yang harus dilakukannya. Merawat suami sejak delapan tahun yang lalu, membuatnya harus semakin berdamai dengan tugas rutin itu. Ia bercerita dengan detail, berbagai peristiwa yang akhirnya menghantarkan dirinya menjalankan tugas perawatan tersebut.
Selamat menulis. Selamat menjemput kelegaan jiwa.
Bahan Bacaan
Nathalie Vrielynck, Pierre Philippot, Bernard Rime, Level of Processing Modulates Benefits of Writing about Stressful Events: Comparing Generic and Specific Recall, November 2010, DOI: 10.1080/02699930903172161

Alhamdulillah, terimakasih Pak Cah
Terima kasih Pak Cah. Sebuah inspirasi baru bagi saya
Alhamdulillaahirabbil’aalamiin.
Jazakallaahu khair, Pak Cah, atas inspirasinya.
Terima kasih Pak Cah motivasi paginya…
Betul apa yg dikatakan Pak Cah …saya secara pribadi merasakannya …dengan menulis rasanya plong dan muncul ide-ide baru yg ingin ditulis …berhubung banyaknya ide bermunculan jadi cepat lupa juga karena mungkin faktor usia kalau tidak cepat dicatat…
sangat memotivasi, terimakasih Gurunda
Terimaksih bapa ilmunya