.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
“I would advise anyone who aspires to a writing career that before developing his talent he would be wise to develop a thick hide”. Harper Lee.
.
Novelis legendaris, Harper Lee memiliki nasihat yang sangat bagus untuk Anda yang tengah belajar menulis atau berproses menjadi penulis. Sebelum mengembangkan kemampuan menulis, yang harus Anda kembangkan adalah “tebal muka”.
Mengapa demikian? Sebab jika Anda “tipis muka”, membuat Anda selalu tidak percaya diri untuk memublikasikan tulisan Anda. Mengapa banyak orang yang malu dan tidak percaya diri memublikasikan tulisan? Tentu ada sangat banyak alasan.
Salah satu hal yang bisa menjelaskan itu adalah, mereka belum memiliki sikap “tebal muka”. Berikut ini beberapa sebab, mengapa malu dan tidak percaya diri memosting tulisan.
- Merasa masih pemula
Semua yang ahli, dulunya mereka pemula. Tidak ada yang tiba-tiba senior. Tidak ada yang tiba-tiba hebat. Mungkin hanya satu dua orang saja di muka bumi ini, yang ‘langsung hebat’ sebagai pemberian istimewa dari langit. Umumnya manusia, harus memulai dari tertatih. Dari pemula.
So, apa masalah pemula? Hanya soal waktu saja. Jika hari ini Anda tidak memulai, bahkan Anda belum bisa disebut pemula. Jika hari ini Anda mulai, maka esok hari Anda sudah tak lagi pemula.
- Merasa belum bagus tulisannya
Merasa belum bagus, itu bagus. Karena dengan perasaan itu, bisa dikembangkan untuk belajar lebih banyak dan berproses menjadi lebih baik. Jika sejak awal sudah merasa bagus, itu justru menghalangi proses pembelajaran.
Jadi, apa masalahnya jika tulisan Anda belum bagus? Tidak ada masalah kan? Yang masalah adalah ketika Anda tidak mau belajar, dan tidak berani memosting tulisan. Kapan tulisan Anda akan menjadi bagus, jika tidak pernah dipublikasikan?
- Merasa diperhatikan banyak orang
Sebenarnya, tidak semua followers dan likers Anda di media sosial, sempat membaca postingan Anda. Namun kadang ada perasaan, tulisan Anda tengah dipelototi oleh sangat banyak orang.
Anda merasa canggung —seperti saat pakaian Anda berantakan, dan Anda diperhatikan oleh banyak orang. Padahal yang sesungguhnya terjadi tidaklah seperti itu. Hanya beberapa orang saja yang benar-benar memerhatikan dan mencermati tulisan Anda.
Bahkan pada mereka para ‘bintang’ dan seleb sekalipun. Banyaknya followers dan berjibunnya likers di setiap postingan, jika menggunakan hukum Pareto, sebenarnya hanya 20 % saja yang benar-benar membaca postingan mereka. Selebihnya, sekedar setor jempol dan like.
- Khawatir mendapat respon negatif
Muka tipis, membuat khawatir mendapat respon negatif. Muka tebal, bisa tahan mendapat respon negatif. Ketahuilah, kita tidak akan bisa mengendalikan respon orang lain atas tulisan kita. Yang bisa kita kendalikan adalah respon kita sendiri.
Maka miliki muka tebal —dalam artian positif. Tidak baper saat mendapat komentar negatif. “Tulisanmu jelek”. “Tulisanmu berantakan”. “Tulisanmu berantakan”.
Bahkan komentar yang paling jahat sekalipun. “Apakah yang kamu posting itu tulisan? Aku kira sampah.” Ah, biar saja ada komentar seperti itu. Toh itu hak mereka.
Katakan saja kepada mereka yang memberi komentar negatif, “Terimakasih. Saya siap belajar. Saya siap dikoreksi. Saya siap memperbaiki diri”.
- Khawatir dibully teman-teman sendiri
Muka tipis membuat Anda tidak siap dibully. Muka tebal membuat Anda percaya diri, tidak baper saat dibully. Pelaku bullying, sebagian besar adalah teman-teman sendiri. Bukan orang lain.
“Waw, ada penulis datang nih”, ejek seorang teman kerja. “Sekarang jadi seleb facebook ni yee”, ujar yang lain. “Ini dia pendatang baru, penulis best seller”. Sahut menyahut bullying dari teman-teman.
Katakan kepada mereka yang membully Anda, “Terimakasih. Saya sedang belajar. Doakan saya menjadi penulis best seller”.
“Hahahahahahaha….” kata teman-teman di kantor Anda saat Anda meminta doa dari mereka. “Best seller ni yeee….” celoteh mereka.
Muka tebal, membuat Anda tidak memedulikan bully-an mereka. Muka tipis, membuat Anda kapok, “Saya berjanji, mulai hari ini tidak akan menulis lagi”.
Maka jangan lupakan advis dari novelis legendaris ini. “I would advise anyone who aspires to a writing career that before developing his talent he would be wise to develop a thick hide” (Harper Lee).
Mumpung tengah merayakan Idul Kurban. Sembelih ketakutanmu. Sembelih kekhawatiranmu. Teruslah menulis.
Selamat menulis. Tebalkan muka. Luruskan niat. Kuatkan hasrat dan tekad.

rasa itu ada. Kadang hadir dr org terdekat. Tetap semangat tuk perbaiki diri
Assalaamu’alaikum,
Jazakallahu khair ustadz untuk tulisannya. Saya pernah mensurvey lewat IG saya, sebagian besar tidak membaca caption foto.
Barangkali itu, yang juga menyebabkan 2 ustadz, yang saya tahu, ustadz cahyadi dan ustadz salima fillah membuat uraian dalam bentuk tulisan pada muatan gambarnya.
Wassalaamu’alaikum wrwb
Luar biasa menjadi penyuntik semangat buat saya yang sedang berusaha menjadi penulis semoga bisa menghasilkan karya yang dapat bermanfaat buat orang lain
sangat bermanfaat
Terima kasih pak Cah, saya masih belajar menulis dan nasehat ini amat bermanfaat.
Sehat selalu untuk pak Cah, Bu Ida dan keluarga.