19 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

“Saya tidak punya bakat menulis, bisakah saya menulis?” ini pertanyaan banyak orang yang ingin menjadi penulis, namun merasa tidak memiliki bakat.

“Apakah menulis harus dengan mood?” demikian pertanyaan yang lain.

Mari saya ajak Anda membuang harapan untuk mendapat keajaiban —-diturunkan bakat dari langit kepada Anda. Mari saya ajak Anda membuang jauh-jauh obsesi tentang mood —yang tidak pernah jelas bentuk dan wujudnya, namun selalu ditunggu-tunggu. Abaikan bakat, abaikan mood.

Keduanya tidak bisa Anda panggil begitu saja, agar datang segera. Keduanya terlalu abstrak untuk diharapkan menghantarkan Anda menjadi sosok penulis handal dan produktif.

Kini saya ajak Anda membangun sesuatu yang berharga. Membangun, bukan menunggu, bukan berharap. Membangun itu kata kerja aktif, melakukan sesuatu untuk mewujudkannya. Saya mengajak Anda membangun lima modal dasar untuk menjadi penulis.

Lima modal intrinsik yang bisa Anda usahakan dalam jiwa Anda. Lima modal dasar itu adalah HTDKW —hasrat, tekad, disiplin, komitmen dan waktu untuk menulis.

  1. Hasrat

Kita mulai dengan hasrat. Bukan bakat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hasrat adalah keinginan (harapan) yang kuat. Untuk menjadi penulis, Anda bisa menumbuhkan hasrat dalam diri Anda. Hasrat untuk menulis, hasrat untuk menjadi penulis.

Bangunlah hasrat dalam diri Anda, dan mulailah dari pertanyaan-pertanyaan paling mendasar. Untuk apa Anda menulis? Apa makna menulis dalam kehidupan Anda?

Paling tidak ada tiga aspek yang harus Anda wujudkan, untuk menumbuhkan dan menguatkan hasrat —-yaitu MGB, meaning, goal, benefit.

Pertama, menemukan makna (meaning) terdalam dari menulis bagi diri Anda

Bagi saya, menulis adalah ibadah. Menulis adalah lahan perjuangan dan pengabdian. Menulis adalah kontribusi yang bisa saya berikan untuk diri, keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan peradaban dunia.

Menulis adalah kesertaan saya dalam proses pembangunan sumber daya manusia. Menulis adalah kehidupan, jika diam saya akan layu tak berkembang. Inilah makna menulis bagi saya, yang membuat saya selalu berhasrat untuk melakukannya. Dimanapun saya berada.

Semakin besar makna yang Anda berikan terhadap aktivitas menulis, semakin bersemangat pula Anda melakukannya. Tim Denning meyakini, menulis benar-benar memiliki kekuatan untuk mengubah suatu bangsa. Ini adalah contoh makna yang sangat besar, makna perubahan bagi bangsa.

 “Words truly do have the power to change a nation, and you should use them for good. You should use words in everything you do to inspire others and add value to people’s lives. You should use words to live your purpose”, ujar Tim Denning (2018).

Menulis bisa menjadi sarana revolusi, perubahan dan pemberontakan. Dalam setiap sejarah perubahan, selalu melibatkan tulisan. Dipenuhinya media massa atau media sosial dengan tulisan-tulisan yang menggerakkan, tulisan yang melakukan agitasi —maka rakyat bergerak menumbangkan kekuasaan. Betapa dahsyat makna sebuah tulisan, bisa meruntuhkan tirani kekuasaan.

Sebagian dari Anda, menemukan makna dalam menulis sebagai sebuah katarsis. Pelepasan beban, mendapat kebebasan yang tak didapat dalam kenyataan. Menjadi lega dan bahagia saat telah menuliskannya. Menulis telah menyehatkan, menyembuhkan dan membahagiakan.

Inipun makna yang sangat luar biasa. Banyak orang merasa mendapat kebebasan dan kekuatan, dengan menulis. Kesepian, tidak didengarkan, tidak dipedulikan, adalah kondisi yang menyakitkan.

Because we are very lonely”, ini adalah salah satu makna. Bahkan bisa jadi sangat kuat bagi Anda. Saat keinginan dan harapan Anda tak ada yang memedulikannya.

“Writing can be the presenting solution to a more poignant ambition beneath: to be heard, to be held, to be respected, to have our feelings interpreted, and soothed, to be known and appreciated”. Menulis membuat Anda bisa didengar, disentuh, dihormati, dipahami dan dihargai, dan perasaan Anda diakui.

Maka, berikan makna, mengapa Anda menulis? Untuk apa hasil karya tulis Anda? Semakin kuat Anda menciptakan makna, semakin kuat hasrat Anda untuk terus menulis, Tidak terbendung.

Kedua, menemukan tujuan (goal) dari menulis

Dibanding makna, tujuan bersifat lebih definitif. Apa tujuan Anda menulis? Semakin mampu Anda mendefinisikan tujuan paling esensial dari menulis, akan semakin kuat pula hasrat dalam diri Anda. Sebagian dari Anda, tujuan menulis adalah untuk memenuhi syarat kenaikan pangkat serta jabatan.

Ada yang memiliki tujuan untuk mengabadikan kenangan, peristiwa, kejadian, serta mengambil hikmah darinya. Ada yang memiliki tujuan untuk meraih popularitas dan kekayaan lewat jalan menulis. Ada yang bertujuan untuk menyebarkan paham, keyakinan dan ideologi yang dianutnya. Ada yang bertujuan untuk menyebarkan informasi, ilmu dan pengetahuan yang dimiliki kepada publik.

Jika tujuan Anda menulis adalah untuk menyebarkan informasi atau ilmu pengetahuan —misalnya, maka mengapa masih menunggu mood? Bukankah tujuannya sudah sangat jelas dan definitif, maka Anda bisa menulis dimanapun dan kapanpun, berdasarkan definisi tujuan yang telah Anda tetapkan.

Tuliskan pengetahuan yang Anda miliki, yang Anda yakini sebagai bermanfaat bagi orang lain. Tulis saja, karena tujuan Anda sudah sangat jelas, tak ada yang perlu Anda tunggu lagi.

Semakin jelas dan definitif tujuan Anda, akan semakin kuat pula hasrat Anda untuk terus menerus menulis. Bagi saya tujuan menulis adalah memberikan edukasi, motivasi, inspirasi, kepada masyarakat —agar mereka memiliki keluarga yang sakinah, mawadah warahmah, agar mereka memiliki kehidupan keluarga yang harmonis, sejahtera dan bahagia.

Saya mengetahui tujuan saya menulis, maka saya bisa menulis dimanapun dan kapanpun. Tidak perlu menunggu bakat, tidak perlu menunggu mood. Menulis karena hendak mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.

Maka definisikan tujuan Anda, untuk apa Anda menulis? Apa tujuan yang ingin Anda raih dari proses menulis dan karya tulis yang Anda hasilkan?

Ketiga, menemukan kebermanfaatan (benefit) nyata

Adakah manfaat menulis yang sudah Anda rasakan? Atau, adakah manfaat menulis yang Anda ketahui dan ingin Anda dapatkan?

Menemukan kebermanfaatan yang nyata, akan meningkatkan hasrat untuk menulis. Kebermanfaatan ini sederhana saja, tidak harus membayangkan popularitas dan kekayaan JK. Rowling serta Stephen King. Ini mungkin terlalu jauh bagi kita untuk mengejarnya.

Suatu ketika seorang ibu datang ke rumah saya, sambil membawa buku Wonderful Couple —sampul warna hijau, dari Wonderful Series. Ia menunjukkan ke saya, bagian-bagian buku yang distabilo, berwarna-warni.

Ia mengatakan, “Andai saya membaca buku ini enam bulan yang lalu, saya kira keputusan saya akan berbeda. Saya menyesal baru menemukan buku ini sekarang. Ternyata jawaban dari persoalan keluarga saya sudah ada solusi di buku ini”. Ia baru saja bercerai dari suaminya, dan ia yang mengajukan gugatan cerai.

Memang terlambat —-karena terlanjur bercerai. Namun paling tidak saya mengetahui, bahwa ada orang yang mendapat insight —sesuatu jawaban, dari persoalan yang dihadapi. “Meskipun terlambat, namun ini menjadi bekal bagi saya dalam membangun keluarga baru nantinya, jika saya menikah lagi”, ujarnya. “Insyaallah saya akan menjadi istri yang lebih baik. Saya tahu kekurangan saya selama ini —-dari buku ini”, ujarnya.

Suatu peristiwa yang lain, sepasang suami istri menyampaikan kepada saya dalam sebuah forum pelatihan. “Kami tidak jadi bercerai setelah membaca buku ini”. Bahagia rasanya, mendengar yang seperti ini.

Seorang ibu dari Denpasar, Bali, mengirim pesan inbox pada akun saya di Kompasiana. Ia mengatakan, “Saya selalu mengikuti tulisan Bapak tentang keluarga bahagia di Kompasiana. Saya seorang Hindu, namun bisa menikmati dan mendapat pelajaran dari tulisan Bapak yang bercorak Islam”, ujar ibu tersebut.

Saya merasa —tujuan mengedukasi ada hasilnya. Ini adalah contoh kebermanfaatan yang saya rasakan secara nyata. Saya berbahagia bahwa ada seseorang berubah menjadi baik, setelah membaca tulisan saya.

Belum lagi kebermanfaatan yang bercorak materi, pertemanan, jaringan dan pengakuan. Saya sering sampaikan, saya tidak ingin menjadi orang terkenal —cukup menjadi orang yang dikenal. Ini yang namanya pengakuan, bahwa saya dikenal sebagai penulis, dan karya saya dikenal beberapa kalangan masyarakat.

Saya bisa duduk di forum-forum sangat terhormat, termasuk di kampus-kampus internasional —saya bahagia bisa memberi ceramah tentang isi buku Wonderful Family yang saya tulis —untuk mahasiswa Indonesia di kampus Victoria University dan Monash University di Melbourne, kampus Australian National University di Sydney, kampus Al Azhar di Kairo, Kampus Hochschule fur Technik di Stuttgart, dan lain-lain.

Ketiga aspek ini —MGB, meanings, goals, dan benefits, akan melahirkan kekuatan hasrat. Saya pastikan, Anda yang tak memiliki hasrat menulis, karena lemah pada salah satu atau keseluruhan MGB. Tak mampu memberi makna (meaning) atas aktivitas menulis, tak memiliki definisi tujuan (goal) dari menulis, dan tak menemukan kebermanfaatan (benefit) dari menulis.

Komplit sudah, hasrat telah punah. Jangan salahkan mood, jangan salahkan bakat. Yang benar, Anda tidak memiliki hasrat yang kuat.

Bersambung.

Bahan Bacaan

Anonim, The Desire to Write, dalam The Achool of Life, www.theschooloflife.com

Tim Denning, How To Write From The Heart: You’ve Got The Words To Change A Nation, www.medium.com, 25 Februari 2018

12 thoughts on “Menumbuhkan Hasrat Menulis

      1. Persis seperti yang ada dalam pikiran saya pada awalnya bahwa saya tidak berbakat menulis. Namun, sejak berkenalan dengan Pak Ustad Cah dan Ibu Ida pikiran itu sedikit demi sedikit terkikis. Terima kasih Pak Cah dan Bu Ida.

      1. tak perlu bingung… segera menulis, pasti tidak bingung.
        Mengapa bingung? karena belum meulai menulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *