M. Anis Romzi, Alumni KMO Alineaku Batch 2 / 2018
“Kapan Mulai Menyebut Diri Anda Sebagai Penulis?” Sebuah pertanyaan menggelitik saya. Dalam sebuah grup WA komunitas penulis ‘KALIMAT’ yang saya ikuti. Tulisan pembuka dari mentor Kelas Menulis Online Alineaku Cahyadi Takariawan. Saya tergolong alumni bimbingannya, karena saya mengikuti kelas itu selama 3 bulan di akhir tahun 2018. Pertanyaan yang harus segera dijawab.
Saya memberanikan diri untuk menjawab, ya saya seorang penulis. Walaupun kelas amatir. Namun jawaban ya tidaklah cukup. Saya harus membuktikannya dengan aksi.
Setiap pagi Pak Cah biasa kami sebut selalu memberikan asupan gizi kepenulisan. Khususnya di masa lockdown 2020. Ia selalu mengirimkan tulisan. Saya menandai setelah subuh. Di kalangan kami menyebutnya sarapan yang tidak membatalkan puasa. Setiap pagi saya ikuti. Ada lagi, besok ada lagi akhirnya membuat saya malu.
Kiriman tulisan pak Cah setiap pagi di masa pandemic ini begitu menginspirasi. Tulisan-tulisan itu sangat berkualitas. Pantas, ia menahbiskan diri sebagai pengasuh Kelas Menulis Online (KMO) Alineaku, Penulis Buku Berbahasa Indonesia Terbaik 2006 Kemendiknas RI, founder Angkringan Penulis Indonesia (API), Senior Editor di PT Era Adicitra Intermedia, penulis 55 judul buku, Best People Choice Kompasiana 2014, Kontributor 147 naskah di web Lockdown 2020, kontributor 750 naskah di Kompasiana, kontributor 144 naskah di ruang keluarga. dan lain-lain. Layak jadi guru, Pak Cah.
Saya belajar untuk istikomah menulis pula setiap hari. Sebuah upaya agar tidak malu. Saya berupaya menulis setiap malam setelah isya. Ini Zona Waktu Menulis saya. Pelajaran dari Pak Cah pula. Pak Cah memprovokasi dengan program SHSB (Seratus Hari Satu Buku). Saya ikut-ikutan dengan Sehari 500 Kata. Dan untuk melakaukan itu ternyata memang harus dipaksa. Pak Cah hanya membutuhkan ukuran menit untuk menyelesaikan 900 karakter. Saya lebih dari dua jam untuk 500 kata. Tidak pantas untuk dibandingkan. He…. He…he.
Ini adalah pemantik semangat untuk menggairahkan semangat menulis saya. Sekaligus pula bertepatan dengan masa PSBB akibat wabah covid-19. Semua harus di rumah saja. Kesempatan untuk mengiringi, kalau pun pantas kecepatan Sang Guru. Tidak pantas tampaknya. Saya mengikuti jauh dari belakang kecepatan menulis Pak Cah. Senyampang ada pelatih hebat, sayang kalau tidak diikuti. Walaupun saya harus terengah-engah.
Saya meniatkan diri untuk produktif di masa pandemic. Saat ini masih berusaha sekuat tenaga untuk menghasilkan sebuah buku lagi. Kehadiran tulisan Pak Cah secara eksklusif setiap pagi benar-benar menyegarkan. Naskah-naskah yang terbengkalai seolah memanggil-manggil untuk ditengok kembali. “ Jadikan kami buku” andai saja mereka dapat berbicara. Well, ini adalah saat yang tepat. Saat harus bekerja dari rumah. Idulfitri tidak diperkenankan kemana-mana. Silaturahim online saja. Saatnya harus produktif.
Sehari 500 Kata adalah inisiatif sendiri. Ini terpicu dari kawan-kawan di Grup WA KALIMAT. Sebuah program menulis berjudul ‘Kalimat-kalimat Ramadan’. Sampul buku antologi selesai dibuat oleh Agus Susilo. Ia ‘usil’ meletakkan nama saya di jajaran penulis. Kembali ini adalah pembakar semangat untuk menulis. Sampul buku yang sudah ada sebelum ramadan 2020. Sang Ketua Ade Zaenudin juga sangat rajin ‘menggoda’ untuk menulis. Semangat sehari 500 kata kian membara.
Saya memaksakan diri untuk memosting tulisan setiap hari. Berbekal dari blog hasil pelatihan bersama dengan mentor Husin Ludiono. Saya berpikir blog itu harus diisi. Kasihan ketika sudah diajari membuatnya tidak dimanfaatkan. Lahirlah tulisan-tulisan ‘paksaan’ di blog [email protected]. Pemantik-pemantik semangat yang saya kumpulkan untuk Sehari 500 Kata. Saya terobsesi mengejar, walaupun dari jauh Sang Guru. Pak Cah, Ade Zaenudin, Agus Susilo, Husin Ludiono, dan seluruh kawan-kawan KALIMAT, terima kasih.
Sumber:
M. Anis Romzi. Mengejar Sang Guru: Obsesi Seorang Murid, www.anisbetter.wordpress.com, 29 Mei 2020

Sebuah deadline/ batas waktu membantu agar lebih disiplin
Mantap