19 September 2026

Oleh Cahyadi Takariawan

Banyak penulis menghendaki suasana yang sepi dan privat, jauh dari gangguan keramaian agar bisa konsentrasi menulis. Maka muncullah kebiasaan-kebiasaan ‘pengasingan’ agar bisa menulis dengan produktif. Tentu saja ini tidak salah, namun tidak selalu cocok untuk semua orang. Salah satu penulis ternama yang memiliki kebiasaan pengasingan adalah Maya Angelou.

Kesunyian yang Memicu Instink Menulis

Saya ajak Anda melihat cara kerja Maya Angelou dalam menghasilkan karya tulis. Penulis kesohor Amerika ini sudah menghasilkan belasan buku, baik kumpulan puisi, esai maupun biofrafi. Di antara bukunya adalah I Know Why the Caged Bird Sings, And Still I Rise, On The Pulse Of Morning, dan lain-lain. Ternyata, saking padatnya kesibukan Angelou, untuk menghasilkan karya tulis, ia harus menyepi di kamar hotel. Berikut penuturannya:

“Saya punya hotel langganan di setiap kota yang pernah jadi rumah saya. Saya menyewa sebuah kamar hotel untuk beberapa bulan, dan setiap hari saya meninggalkan rumah pukul 6 pagi dan mencoba sampai ke “kantor” pukul 6.30. Saat menulis, saya duduk di ranjang, supaya siku saya menekuk dengan tepat. Saya tidak pernah mengizinkan orang hotel mengubah penataan ranjang itu, karena saya tidak pernah tidur di sana. Saya bersikeras supaya temboknya polos. Saya tidak mau melihat apa-apa di tembok. Saya ingin masuk ke kamar itu dan merasa seolah seluruh keyakinan saya ditangguhkan”.

Nah, ini kebiasaan pengasingan yang berbiaya —mungkin mahal untuk ukuran rata-rata kita, walaupun itu murah untuk ukuran Angelou. Menyewa kamar hotel untuk beberapa bulan? Waw, asyik juga ya… Jadi punya privasi, mengatur desain kamar sendiri, menggunakan semua fasilitas kamar hotel dengan leluasa untuk membuatnya nyaman, agar tercipta karya tulis. Anda mau meniru? Boleh saja. Namun harus mempertimbangkan cash flow, berapa besar biaya hotel, dan berapa banyak keuntungan yang akan didapatkan dari menulis buku.

Keramaian yang Memicu Instink Menulis

Semua dari kita, memiliki situasi dan kondisi yang berbeda. Ketika beberapa penulis suka menyepi dan sendiri, tak jarang penulis yang lebih menyukai keramaian untuk menghasilkan karya tulis. SH Mintardja —penulis legendaris Nagasasra Sabuk Inten, salah satunya.

Meskipun oleh sang istri telah disediakan ruangan khusus, ia tetap tak mau memakainya dan lebih suka mengetik di ruang makan rumahnya. Alasannya, agar dapat berinteraksi dengan orang lain saat menulis. Ruangan sepi justru membuat produktivitasnya menurun. SH. Mintardja suka bersosialisasi dan tidak suka menyendiri. Maka baginya,menyendiri adalah siksaan yang membuatnya tidak produktif.

Rayni N. Massardi –penulis novel ‘Langit Terbuka’— juga mengaku lebih suka menulis di tempat yang ramai ketimbang tempat sepi. Bedanya, Rayni menulis di keramaian sambil mengenakan headset dan mendengarkan lagu. Dengan cara itu, proses kreatif berjalan dengan lancar. Imajinasi lebih terbuka dan akhirnya lebih mudah menuangkan ide ke dalam tulisan.

Dahlan Iskan menulis di sela-sela kesibukan dirinya yang sangat padat. Ia tidak mensyaratkan suasana tertentu —ramai ataupun sepi. Jika ia naik pesawat terbang, beberapa menit setelah take off, ia mulai menghidupkan smartphone, dan menulis. Demikian pula saat perjalanan dengan kereta api ataupun mobil. Itulah waktu yang sering dimanfaatkan Dahlan Iskan untuk menulis. Artinya, ia sering menulis di antara banyak orang, seperti dalam pesawat.

Hampir semua tulisan Dahlan Iskan ditulis menggunakan smartphone, hanya satu tulisan lahir dari laptop. Saat menulis di smartphone, ia hanya menggunakan satu jari, yaitu ibu jari kiri. Ini tentu sangat unik dan menarik —bahwa etos menulis Dahlanmemang luar biasa. Ibu jari kiri bergerak ke sana kemari di smartphone yang dibawa kemana-mana. Satu jari yang hasilnya menggetarkan sangat banyak pembaca. Pun dilakukan di ruang-ruang terbuka, bukan ruang-ruang sunyi.

Bagaimana Dengan Anda?

Anda tidak harus meniru siapapun. Seperti penuturan Nick Greene, “Saya meniru kebiasaan penulis terkenal supaya ikutan sukses, hasilnya ambyar”. Tulisan Greene sangat unik dan menggelitik. Anda harus memiliki kebiasaan sendiri, memiliki ciri sendiri. Suasana seperti apa yang membangkitkan instink menulis bagi Anda. Tidak meniru sesiapapun, meskipun boleh mengambil inspirasi dari orang lain yang  mirip kondisinya dengan Anda.

Apakah gelap malam yang membangkitkan naluri menulis Anda? Apakah gemerlap bintang gemintang yang membuat Anda bergairah melahirkan kata-kata? Apakah terik matahari di siang benderang yang membuat Anda tertantang menuliskan ide-ide? Apakah suara gemercik air yang mampu membawa Anda ke alam imajinasi untuk dituliskan? Apakah aroma kopi arabica yang membuat khayalan Anda mencapai puncaknya untuk dituangkan dalam tulisan? Apakah suara merdu Anisa Rahman yang menyanyikan lagu Aisyah Istri Rasulullah yang membuat Anda bangkit menuliskan kata-kata?

Apakah Anda pecinta senja yang tengah menuju peraduannya —sehingga jingga ufuknya membangkitkan imajinasi Anda? Apakah Anda pecinta udara pagi usai dzikir Subuh, sehingga geriap dinginnya memaksa tangan Anda bergerak menuliskan kata demi kata? Apakah suara gemuruh roda kereta api menyusur rel yang memantik ide-ide segar untuk dituliskan? Apakah deburan ombak di pantai yang menghanyutkan khusyuk mampu mengusik Anda untuk melahirkan karya?

Apakah aroma mie instan dan aneka sajian makanan yang melejitkan imajinasi Anda untuk mengelana dengan kata-kata? Apakah pijitan lembut dari tangan istri atau suami di punggung Anda yang melejitkan motivasi Anda untuk menuliskan berbagai peristiwa? Apakah ruang sempit segi empat berisi tumpukan barang-barang di kamar kos Anda yang memberikan gairah menyala untuk mengubah keadaan melalui literasi? Apakah suara-suara sangat keras di tengah keramaian pasar yang membuat Anda berpikir lateral untuk melakukan perubahan melalui tulisan? Itu semua kembali kepada Anda.

Namun, Rumi mengingatkan, “Makin sunyi dirimu, makin mampu mendengar” (Jalaluddin Rumi).

Bahan Bacaan

Amanda Patterson, Maya Angelou’s Writing Process, https://writerswrite.co.za, 4 April 2018

Nick Greene, Saya Meniru Kebiasaan Penulis Terkenal Supaya Ikutan Sukses, Hasilnya Ambyar, www.vice.com, 22 Januari 2018

Khun, Heartbeat Style, Menulis Patah-patah ala Dahlan Iskanhttps://ceritakhun.com, 23 November 2019

17 thoughts on “Apakah Kesunyian atau Keramaian yang Memicu Insting Menulis Anda?

  1. Sangat bermanfaat saya jadi coba mengamati cara saya menulis. Saya sering nyesel seharian nganggur tidak ada aktifitas, ide punya tapi tudak menghasilkan apa-apa? Sebalik banyak tulisan saya yang selesai selama perjalanan kerja naik KRL commuter line. Jangan-jangan saya termasuk yang suka menulis dalam keramaian? Satu hal curhat enaknya lewat puisi dan itu tengah malam. He he he.
    Terima kasih Pak Cah.

  2. Buat saya..sangaat menginspirasi sekali, saya punya ruangan khusus, dan alat khusus serta saya sudah punya waktu khusus di mana saya bisa menulis seperti bernafas. Saya pun memang senang dalam perjalanan sambil menunggu perjalanan ingin saya manfaatkan untuk menulis, tapi belum pernah saya coba….terima kasih Pak Cahyadi …Jadi tambah semangat untuk menulis…

  3. Masya Allah, pak cah menulisnya bagus sekali. Dg mudah mendptkn referensi yg sesuai dg tulisannya. Bgm pak cah, caranya?

  4. Terjawab sudah yg selama ini dicari..Semua kembali kepada diri. Terima kasih pak Cah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *