19 September 2026

Oleh : Syasha Lusiana

“Setiap orang sesungguhnya mempunyai kepuasan tersendiri saat menceritakan suatu kisah, suatu masalah, membagi informasi atau menterjemahkan rasa dan pikiranya.” (Syasha Lusiana)

Ketika kita membicarakan dunia menulis memang tidak pernah habis. Terlebih di dunia medsos saat ini, hampir semua orang bisa menulis.

Menulis seolah menjadi kebiasaan baru bagi setiap insan apalagi bila jiwa sedang melankolis maka akan sangat mudah untuk menulis.

Ini membuktikan teori bahwa sesungguhnya disadari atau tidak bahwa  setiap orang adalah penulis. Bobby De Porter dan Mike Hernacki dalam bukunya “Quantum Learning” pada halaman 178, mengatakan bahwa kita semua adalah penulis.  

Dorongan menulis itu sama besarnya dengan dorongan untuk berbicara, mengkomunikasikan pikiran dan pengalaman kita kepada oranglain.  Paling tidak menunjukkan kepada mereka siapa kita.

Bila berbicara tentang menulis pasti tak akan habis bagi mereka yang memang berprofesi penulis serta mencintai dunia tulis menulis. Pantaslah apabila Allah sandingkan dua kosakata membaca dan menulis karena bersamaan dengan menulis diiringi dengan membaca untuk mendapatkan tulisan berkualitas.

Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah; yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S. al-‘Alaq [96]: 1-5).

“Ikatlah ilmu dengan tulisan” (HR.Thabrani).

Demkian pula membaca akan lebih mudah dipahami apabila yang kita baca dibuat resumenya.

Sebagai seorang  penulis, kita membutuhkan berbagai macam strategi agar tetap produktif dalam menulis. Apalagi kesibukan demi kesibukan yang banyak menyita waktu seringkali membuat produktivitas menulis terhambat.

Hambatan yang mungkin seringkali kita rasakan adalah terbatasnya referensi, sehingga diperlukan untuk disiplin membaca berbagai macam literasi agar semakin kaya wawasan, pengetahuan dan daya ungkit untuk memperluas muatan tulisan.

Disiplin membaca harus juga diringi dengan disiplin menulis.  Sehingga berusaha untuk meluangkan waktu untuk menulis.

Menulis seharusnya dijadikan aktivitas rutin setiap hari.  Sama hal dengan membaca Al-qur’an, dzikir pagi dan petang.  Merasa sangat hampa dan berdosa apabila salahsatu aktlivitas itu tertinggal dilakukan.

Seperti itulah seharusnya perlakuan pada aktivitas menulis.   Merasa hampa dan merasa ada yang terlewati apabila aktivitas menulis terlewati sekalipun hanya sehari saja.

Menjadi penulis berarti siap membangun habitat baru dan kebiasaan baru.  Kepiawaian  memanajemen waktu adalah kunci.

Kiat Menulis dengan 3 J

Beberapa kiat memang perlu dilakukan untuk tetap mampu meluangkan waktu untuk menulis.  Saya merangkum kiat tersebut dalam 3J.

  • J Pertama adalah “Jadwal”

Tetapkan berapa lama akan menulis setiap harinya.  Apabila dua jam perhari berarti sesuaikan dengan kondisi yang bisa dicapai penulis.  Satu jam di pagi hari, lanjutkan satu jam di sore atau malam hari.

Buat jadwal rutin untuk menulus setiap hari.  Bila ditargetkan dua jam perhari, maka lakukan menulis di waktu yang memang terasa nyaman untuk diri sendiri. 

Ada penulis yang membagi waktu dua jamnya dengan satu jam di waktu pagi dan satu jam berikutnya di siang atau malam hari. Dengan demikian, ada semangat dan motivasi untuk memenuhinya.

  • J ke dua adalah Jumlah

Tetapkan jumlah target tulisan yang akan dilahirkan setiap harinya.  Menargetkan banyaknya tulisan yang ingin dihasilkan perlu dilakukan oleh seorang penulis agar menjadi daya dorong untuk lebih bersemangat dalam menghasilkan karya. Berapa karakteri yang ingin dihasilkan dan  berapa tema.

Konsistensi diperlukan dalam memenuhi target ini dan jangan berhenti sebelum jumlah target tercapai.  Bila dirasa perlu banyak referensi maka menepilah sejenak untuk membaca berbagai referensi. Kita juga perlu healing sesaat agar terbuka ide untuk menentukan tema apa yang akan jadi bahan tulisan.

  • J ke tiga adalah Jenis

Tentukan jenis tulisan apa yang ingin ditampilkan, apakah jenis tulisan genre, infotaiment, opini, dan berbagai jenis tulisan lainnya. Sehingga jenis tulisan yang diminati akan menjadi ciri khas atau karakter penulis selamanya.

Dengan mempunyai ciri khas jenis penulisan ini akan membuat penulis terus terlatih untuk semakin meningkatkan kualitasnya dalam jenis tulisan ini.

Silahkan menulis tema lain, tetapi jangan menghilangkan ciri khas penulis yang sudah menjadi kekuatan karakternya.

Tiga kiat tersebut hanyalah rangkuman dari pemahaman yang saya dapatkan sebagai upaya memotivasi diri untuk berkomitmen terus menulis dan meluangkan waktu untuk menulis.

Bahkan bukan sekadar “meluangkan”, lebih dari itu menulis dijadikan sebagai sebuah kebutuhan.  Bila menulis dijadikan sebagai sebuah kebutuhan maka tentu akan menimbulkan rasa lapar.

Lapar perlu diberikan asupan yang bergizi agar jiwa menjadi sehat, tubuh menjadi bugar, pikiran menjadi cemerlang, hidup penuh gairah dan motivasi, sehingga, “Tiada hari tanpa menulis”.

-Garut 16 Juli 2022-

Penulis bernama Lusiana Rachmawati dengan memiliki nama pena Syasha Lusiana. Telah menerbitkan buku solo berjudul “Cahaya Dunia”.

Selain sebagai penulis juga seorang konselor keluarga di Bekasi. Bisa dihubungi melalui media sosial “IG syshalusiana (Umi Lusi) dan FB Lusiana R Lacsana.

                                                                                                   

                 

                                                 

1 thought on “3 Kiat Mudah Memulai Menulis bagi Pemula

  1. Baarokallah mak Lusi, dalam hal menulis, sudah tidak di ragukan lagi. Terima kasih atas suguhan ilmu kepenulisannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *