Oleh : Cahyadi Takariawan
Anda bukan Tere Liye. Anda bukan Leila Chudori. Anda bukan Joko Pinurbo. Anda bukan Reda Gaudiamo. Anda bukan Joan Aurelia. Anda bukan Asma Nadia. Anda bukan Raditya Dika. Anda bukan Helvy Tiana Rosa. Anda bukan Ayu Utami. Anda bukan Dewi Lestari. Anda bukan Pidi Baiq. Anda bukan Habiburrahman El-Shirazy. Anda bukan Andrea Hirata. Pun, Anda juga bukan KW dari mereka semua.
Anda adalah anda sendiri. Bukan orang lain. Maka ketika menulis, gunakan keunikan Anda sendiri, bukan menggunakan keunikan orang lain. Ketika menulis, gunakan gaya Anda sendiri, bukan gaya orang lain. Gunakan sudut pandang Anda, sesuai keyakinan Anda, sesuai passion Anda, sesuai intuisi Anda. Anda bebas berekspresi —maka menulislah dengan kebebasan ekspresi Anda sendiri.
Kita semua belajar dari karya para maestro pada berbagai bidang kepenulisan. Mereka tokoh-tokoh hebat yang tak tertandingi —jika berniat menandingi mereka. Namun, Anda adalah tokoh hebat yang tak tertandingi —ketika ada orang lain ingin menandingi Anda. Masing-masing kita unik, masing-masing kita hebat, masing-masing kita tak tertandingi : pada titik pengalaman hidup kita masing-masing.
Maka mulai saja dari sini. Dari titik Anda sendiri. Bahwa Anda telah melewati perjalanan hidup yang tidak sama dengan orang lain. Anda tidak melewati proses hidup yang sama dengan Andrea Hirata. Anda tidak melewati pengalaman dan peristiwa kehidupan yang sama dengan Tere Liye. Sama sekali berbeda. Itu sebabnya, Anda bukan mereka, dan mereka juga bukan Anda. Maka Anda memiliki titik tersendiri, sebagaimana mereka juga memiliki titik masing-masing yang membentuk jati diri dan corak tulisan mereka saat ini.
Maka tampilkan diri Anda sendiri. Gaya Anda sendiri. Sudut pandang Anda sendiri. Gairah Anda sendiri. Cinta Anda sendiri. Benci Anda sendiri. Pengalaman Anda sendiri. Intuisi Anda sendiri. Perasaan Anda sendiri. Percayalah, bahwa dengan menggunakan titik Anda sendiri, maka Anda akan menemukan keasyikan dalam proses menulis.
Saya memulai dari titik saya sendiri, maka saya menulis dengan cara saya, dengan gaya saya, dengan sudut pandang saya, dengan pengalaman yang menempa saya. Saya menulis dengan kepahitan dan penderitaan yang pernah saya rasakan, dengan kebahagiaan dan kenikmatan yang pernah saya dapatkan, dengan kerasnya perjuangan hidup yang pernah saya lalui, dengan lembutnya takdir yang saya alami. Titik saya ini, berbeda dengan Anda, dan berbeda dengan orang lain.
Saya percaya dengan keyakinan hidup saya, maka saya menuliskannya. Saya percaya bahwa semua kepahitan dan kelezatan hidup akan membentuk sudut pandang, semua penderitaan dan kebahagiaan akan melahirkan kebijaksanaan —-yang layak untuk membangun karakter tulisan kita masing-masing. Itu sebabnya saya percaya diri dengan tulisan saya —tidak peduli penilaian dan komentar orang atas karya tulis saya. Maka saya katakan, tulisan saya unik, sebagaimana tulisan Anda semua unik.
Semua orang boleh mencela tulisan saya, namun saya bisa katakan kepada mereka, bahwa mereka tidak pernah tahu dahsyatnya ‘peperangan’ yang pernah terjadi dalam hidup saya —-sebagaimana saya tidak pernah tahu dahsyatnya peperangan yang pernah terjadi dalam hidup mereka. Lebih baik Anda gunakan waktu untuk menghasilkan karya tulis baru, dibanding habis untuk memikirkan komentar negatif dan tanggapan sinis orang atas tulisan Anda. Itu sebabnya saya terus menerus menulis. Tidak berhenti menulis karena dicaci, tidak lebih bersemangat karena dipuji.
“Trust yourself. Trust your experience. Trust your hunches, your opinions, your feelings”, ungkap Roberta Jean Bryant. Karena itulah titik kebermulaan Anda dalam menulis. Kita memulai dari titik kita masing-masing. Saya unik, Anda unik, mereka para penulis hebat itu juga unik. Saya tidak perlu membandingkan tulisan saya dengan tulisan mereka, namun saya selalu belajar kepada mereka agar bisa lebih baik dalam menghasilkan karya.
“Trust your uniqueness as a vulnerable human being who has experienced life in a different way from any other individual, past, present, or future. There are no new ideas — only new perceptions, new ways of seeing things, fresh points of view. Trust yours”, lanjut Bryant. Masa lalu Anda, masa sekarang dan masa depan Anda —berbeda dari orang lain. Masing-masing kita telah ditempa dengan berbagai pengalaman kehidupan, berbagai kejadian dan peristiwa — yang berbeda-beda. Di sini keunikan kita. Dari sini kita mulai menulis.
“As a writer, the only thing you have to offer the world is your own unique self. Be courageous”, ujar Bryant. Kita tidak perlu meniru gaya siapapun, karena para peniru hanya akan menjadi KW seumur hidupnya. Ada peniru nama —-memirip-miripkan nama pena dengan nama penulis yang sudah terkenal. Ada peniru judul buku —-memirip-miripkan judul buku dengan buku yang sudah laris. Ada peniru gaya bahasa —memirip-miripkan cara berututur seperti penulis favorit. Bolehkah? Boleh saja. Namun itu bukan Anda.
Maka hargai diri Anda sendiri, karena Anda unik. “When you think, ‘Oh, I can’t write that part; it’s too petty, too shameful. It’s not respectful. People won’t understand’ — ignore these subversive thoughts. Be willing to say whatever you have to say truthfully (full truth). Trust yourself, and trust your potential reader”, tutur Bryant. Kadang kita merasa apa yang kita tulis itu sebagai sesuatu yang sangat kecil dan tak bermakna —karena kita bandingkan hasil karya tulis kita dengan para maestro yang telah mendunia. Ini tidak adil, tentu saja.
“When you trust the truth, you can have the courage to write at risk”, ujar Bryant. Itu sebabnya saya selalu percaya diri dalam menulis, karena saya menulis sesuai dengan keyakinan saya. Mungkin saja berbeda dengan keyakinan orang lain, namun saya telah memilih keyakinan, dan keyakinan itu membentuk tulisan saya. Anda pasti memiliki sesuatu yang Anda yakini —misalnya perjalanan hidup Anda sendiri, yang menghantarkan Anda pada kondisi saat ini.
Misalnya Anda menulis, “Berkat doa restu ibu, maka saya sekarang diangkat menjadi guru tetap di Sekolah yang saya cita-citakan. Maka bagi saya, doa ibu sangatlah penting dalam kehidupan manusia”. Bisa saja orang berbeda keyakinan dengan Anda. Seseorang boleh saja mengatakan, “Anda menjadi guru di Sekolah, itu karena Anda memang memiliki prestasi akademik yang di atas rata-rata para pendaftar lainnya, tak ada hubungannya dengan doa ibu”. Namun orang itu tidak pernah tahu pergulatan Anda untuk bisa menjadi guru tetap tersebut.
Oleh karena itu, “Trust your intuition, your absurdities, your loves, your hates. Most of all, trust your passions, those extra-strong feelings and urges that flow and surge and pulse with aliveness. Passion provides momentum, involvement, commitment, action. Trust passion”, ujar Bryant. Untuk menjadi penulis produktif, Anda hanya perlu mempercayai diri Anda sendiri. Bahwa Anda adalah pribadi unik, memiliki pengalaman kehidupan yang unik —berbeda dengan orang lain.
Anda memiliki sejarah cinta, benci, rindu, marah, bahagia, sengsara, menangis, tertawa, terluka, berjaya, yang tidak sama dengan sejarah orang lain. Lalu mengapa Anda masih saja merasa malu dan tidak percaya diri untuk memulai menulis dan mempublikasikan tulisan? Berkali-kali secara jujur saya katakan, tulisan saya tidak bagus, tidak seperti tulisan para maestro. Namun saya selalu enjoy dan happy dalam proses menulis dan menghasilkan karya tulis, karena saya tengah mengekspos jati diri saya —-yang tak pernah bisa dicuri orang lain.
Selamat menulis.
Bahan Bacaan
Roberta Jean Bryant, Anybody Can Write, Tips for All Levels of Writers, http://www.grandtimes.com, 1999

Terimakasih telah menginspirasi saya untuk memulai menulis
ayuk… mulai menulis kak..
belajar kepada mereka orang-orang hebat agar bisa lebih baik dalam menghasilkan karya.
yesss… semangat menulis mbak…..
Terimakasih pencerahannya, pak.
ayuk… mulai menulis kak..
Terima kasih Pak Cah.
Sulit juga kalau tidak menjadi diri sendiri, kadang-kadang ambil gaya orang lain tapi lama-lama akan kembali lagi ke gaya diri sendiri.
bener mas Adji… kesel…
Saya menulis dengan gaya sendiri.
Tulisan saya jauh lebih lebih baik bukan dibandingkan dengan tulisan orang lain, tetapi membandingkan tulisan saya yg dulu dengan yang sekarang.
yessss…. ini bagus sekali. Lanjutkan mbak Iwi…
Sebagai pemula kayaknya masih meniru dulu gaya orang lain. Semoga lambat laun kembali ke habitatnya
lambat tapi cepat bang 🙂
Terima kasih
semangat menulis bang…
Terima kasih suportnya Pak Cah
ayuuukkk semangat menulis mbak…. sukses selalu…
Terimakasih pak selalu menginspirasi
Pak mau bertanya bagaimana caranya minta testimoni buku kita kepada orang lain apakah buku kota harus terbit dulu atau bagaimana mohon pencerahannya
Terimakasih
naskah buku kirimkan kpd tokoh tsb melalui email —bisa pula hanya resensi dan daftar isi—
tidak perlu menunggu buku terbit. Justru endorsment diperlukan sebelum terbitnya buku…