19 September 2026

Oleh : Cahyadi Takariawan

“The best time for planning a book is while you’re doing the dishes” —- Agatha Christie

Pertama kali saya membuat buku, adalah saat pengantin baru, tahun 1991. Waw, betapa tuanya saya saat ini… Saat itu, saya sangat ingin memberi hadiah kepada istri saya, berupa buku. Alhamdulillah, terbit buku perdana saya di tahun 1991 itu, dengan self publishing.

Saya membuat naskah buku dengan mesin ketik manual jadul, yang masih pakai kertas dan pita untuk tinta. Suara tuts mesin ketik terdengar keras, dari pagi sampai malam di rumah kontrakan saya, ditemani istri tercinta. Saya belum memiliki komputer saat itu. Namun berhasil membuat buku.

Sempat berhenti membuat buku, sampai tahun 1997 saya baru membuat buku kedua. Ini mulai diterbitkan oleh penerbit mayor. Saya menulis sudah mulai menggunakan komputer, dengan disket yang bentuknya segi empat tipis berwarna warni. Inilah buku pertama saya yang bertema keluarga.

Jeda waktu antara 1991 hingga 1997, saya kembali fokus menulis di koran dan majalah, yang bisa memberi kepada saya uang harian. Jujur, waktu itu saya memenuhi kebutuhan dapur, hanya dari menulis, tak ada yang lainnya.

Saya menulis di koran sejak tahun 1986, menulis di majalah sejak tahun 1988. Ketika fakum tidak membuat buku, maka pada periode 1991 hingga 1997 itu, tulisan saya bertebaran kembali di koran dan majalah, dan dari situlah saya mendapatkan fee menulis.

Saya tidak menulis untuk uang, namun saya mendapatkan uang dari menulis. Saya menulis untuk ibadah. Saya menulis untuk melakukan edukasi. Seperti para guru, mereka mengajar bukan untuk uang. Namun mereka mendapat uang (gaji) dari mengajar, dan itu sah saja. Jangan dipertentangkan.

Saya masih ingat, sebelum tahun 1990, ada majalah yang menghargai satu naskah dengan Rp. 25.000. Namun saya bisa memasukkan tiga naskah ke majalah tersebut dalam satu edisi, dengan tiga nama yang berbeda. Ini cara saya agar bisa mendapatkan lebih banyak uang dari satu majalah.

Setelah 1990, koran nasional memberi insentif Rp. 75.000 untuk satu naskah saya, dan ada pula yang Rp 150.000 untuk satu naskah. Inilah yang saya sebut sebagai uang harian, saya gunakan untuk memenuhi kebutuhan dapur. Pada waktu itu, sebagai pengantin baru, dengan Rp 150.000 sebulan sudah bisa bertahan hidup.

Setelah 1997 itulah, mulai banyak menulis buku, karena untuk dapur sudah ada alternatif yang lain. Hasil dari menulis buku, tidak bisa untuk memenuhi keperluan harian, karena royalti dibayarkan setahun dua kali. Dari royalti buku, saya bisa mengontrak rumah, dan membeli kendaraan, dan kebutuhan hidup lainnya.

Setelah era gadget, saya lebih fokus menulis di web dan media sosial. Saya “resmi” meninggalkan koran dan majalah. Dari tulisan di web inilah, akhirnya lahir banyak buku. Semua buku Wonderful Series lahir dari berbagai tulisan yang pernah saya posting di web.

Awalnya, saya menulis buku dengan berbagai macam tema, tidak sepesifik. Saya juga ikut proyek-proyek pembuatan buku dari beberapa Kementrian. Hingga saat saya membuat tulisan ini, total buku yang pernah saya tulis dan sudah diterbitkan —dari berbagai jenis buku tersebut— adalah 54.

Rencanakan Buku Anda Sendiri

Nah, dari pengalaman inilah, saya selalu mengatakan dengan penuh keyakinan —betapa mudah membuat buku sendiri, di zaman ini. Sulit bagi saya untuk memahami, mengapa ada orang hidup di zaman serba mudah saat ini, yang mengatakan tidak bisa membuat buku sendiri.

Untuk membuat buku sendiri, yang Anda perlukan pertama kali adalah perencanaan. Ya, rencanakan buku Anda sendiri. Jangan menunggu orang lain membuat rencana untuk Anda. Bikin rencana, kapan Anda akan menerbitkan buku sendiri. Benar, buku Anda sendiri, bukan antologi keroyokan.

Boleh saja Anda membuat buku antologi, sebagai sebuah ‘pemanasan’, namun Anda harus tetap merencanakan buku Anda sendiri. Hadiahi diri Anda sendiri dengan buku mandiri. Hadiahi pasangan Anda, hadiahi anak-anak Anda, hadiahi orangtua Anda dengan buku.

Bikin rencana, apa tema buku Anda, siapa segmen pembacanya, apakah sudah ada bahannya, kapan mulai prosesnya, kapan deadline penulisan naskahnya, dimana menerbitkannya, seperti apa covernya, dan lain sebagainya.

Saya tertarik dengan cara SH. Mintardja merencanakan tulisannya. Beliau adalah penulis legendaris yang menghasilkan sangat banyak karya berupa kisah fiksi berlatar belakang sejarah Mataram. Dalam kisahnya, banyak adegan perkelahian, maka ia pun mempelajari silat Jawa, agar benar-benar menjiwai.

SH. Mintardja juga melakukan survey sendiri ke tempat yang akan dijadikan setting lokasi dalam cerita yang dikarangnya. Beliau berjalan ke desa-desa di sekitar pebukitan Menoreh. Kisahnya fiksi, namun setting tempatnya nyata. Maka nama-nama desa yang disebut dalam serial Api Di Bukit Menoreh, benar-benar nyata adanya. Ini contoh betapa serius beliau merencanakan bukunya.

Namun Anda tidak harus mencontoh SH. Mintardja. Anda bisa mengambil spiritnya saja, untuk memacu kesungguhan dalam membuat perencanaan. Anda bisa mengambil spirit dari mbak Maryati Arifuddin, salah seorang alumni Kelas Menulis Online, yang bertekad membuat buku mandiri di tahun ini. Beliau memulai dengan membuat cover buku.

“Aku telah menggambarkan, cover bukuku berupa foto berdua dengan suami, dengan menggandeng jari jemari secara erat. Seerat dan sekuat harapanku menyelesaikan program SHSB, Seratus Hari Satu Buku” (Maryati Arifuddin, alumni Kelas Menulis Online, anggota Komunitas Kalimat).

Anda bisa belajar dari Agatha Christie yang sangat ringan dalam proses perencanaan. “Waktu terbaik untuk merencanakan buku adalah saat kamu mencuci piring,” ujar Agatha. Anda juga bisa belajar dari John Kerrison, “I do my best thinking in the shower, which is something absolutely none of you wanted to know”. Kerrison merencanakan membuat buku saat mandi.

Nah, betapa ringan dan mudah saja melakukan perencanaan untuk menghasilkan buku. Jangan dibuat rumit, jika Anda tidak suka rumit. Kecuali jika memang Anda suka yang rumit-rumit. Namun, mau rumit atau sederhana, yang penting Anda berproses nyata merencanakan karya abadi berupa buku sendiri.

Selamat merencanakan.

Bahan Bacaan

John Kerrison, 11 Useful Writing Tips, from World-Famous Writers, www.radix-communications.com, 13 Februari 2019

10 thoughts on “Rencanakan Buku Anda Sendiri

    1. Saya sulit focus pada satu tema. Kalaupun ada tema yang saya putuskan untuk digarap, saya kesulitan referensi pendukungnya.

      1. Bulir air mata saya menetes , mengingatkan mimpi saya
        Saya paksa suami saya yang pasca stroke, tuk menuangkan pokok utama. Saya ramu menjadi tulisan. Ingin hati berdakwah lewat tulisan, ada satu, dua, tiga oorang di teman2 esilon 1,2,3 berubah lewat tulisan saya. Jika ssaya buntu menulis. Saya menangis sujud dihadapan Alloh, ya Alloh bukakan pintu untuk menulis dengan hati dan hidayahmu. Jujur ssya hanya mengetuk Illah tuk menyampaikan ayatnya, walau satu ayat saja tiap hati. Mungkin orang bosam dengan postingan saya di gruop atau fb. Namun saya tidak merespon perasaan oramg. Ada satu harapan, sampaikan satu moral kebaikan. Minimal mampu belajar memperbaiki diri sedikit demi sedikit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *