20 September 2026

.

Ayuk Membuat Buku Antologi – 18

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Jika marketing adalah usaha untuk menciptakan atau menarik calon pembeli, maka selling adalah mengubah calon pembeli menjadi pembeli. Sebuah proses membuat orang yang belum membeli, bisa memutuskan untuk membeli. Jika marketing adalah proses mengenalkan dan mengedukasi pasar, maka selling adalah bab menjual sebanyak mungkin produk.

Dalam postingan sebelumnya, strategi memasarkan dan menjual buku saya rumuskan dengan istilah : “memahami banyak strategi, dan memilih yang sesuai”. Sebab ada sangat  banyak tawaran strategi, namun tidak semua cocok untuk diri Anda dan produk Anda.

Kepada Siapa Buku Anda Jual?

Jika tujuan pembuatan buku antologi adalah untuk mendapatkan keuntungan finansial, maka harus memiliki strategi selling yang handal. Perhatikan, siapakah pihak yang potensial akan membeli buku antologi?

Pertama, mereka yang memiliki keterikatan emosional dengan para penulis. Misalnya, teman-teman lama, teman di medsos, teman di komunitas, teman di grup chating, teman kerja, saudara, kerabat, murid, guru, tetangga, dan yang semacam itu.

Jika antologi ditulis oleh 20 orang kontributor, maka akan sangat banyak pangsa pasar jenis pertama ini. Karena semua orang punya teman, sahabat, kerabat, komunitas dan lain sebagainya. Buku antologi bisa dijual secara massif di jalur ini.

Kedua, mereka yang memerlukan informasi dan pengetahuan melalui buku. Misalnya, sebuah buku antologi bertema pendidikan, akan diakses oleh mereka yang memerlukan informasi dan pengetahuan di sekitar pendidikan. Strategi pemasaran dan penjualan bisa fokus kepada mereka yang diyakini memelukan informasi atau pengetahuan yang ada dalam buku.

Ketiga, mereka yang mengerti urgensi dari tema yang dibahas dalam buku. Orang tidak akan membeli buku antologi apabila mereka tidak mengerti urgensinya. Maka lakukan edukasi agar semakin banyak orang mengerti urgensinya. Bikin tulisan, bikin kegiatan, yang bisa menjelaskan urgensi dari pesan yang ada dalam buku antologi. Misalnya dengan jalan bedah buku.

Keempat, mereka yang memerlukan hiburan dan ‘teman’. Misalnya, untuk menemani perjalanan, atau menemani aktivitas yang cenderung membosankan, seperti menunggu. Mereka memerlukan hiburan dan teman untuk mengatasi kejenuhan.

Soft Selling, Hard Selling, dan Sellang Selling

Ada sangat banyak cara menjual. Anda pasti sering mendengar istilah soft selling dan hard selling. Agar Anda lebih mudah memahami perbedaan soft selling dengan hard selling, perhatikan salah satu postingan saya di medsos berikut.

“Keluarga sakinah bukan berarti tidak ada permasalahan, bukan berarti tanpa pertengkaran, bukan berarti bebas dari persoalan. Namun, dalam keluarga sakinah berbagai persoalan mudah diselesaikan.

Suami dan istri bergandengan tangan saling mengurai persoalan. Mereka bersedia duduk berdua, berbincang berdua, mengurai berbagai keruwetan hidup berumah tangga. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan sepanjang mereka berdua bersedia menyelesaikannya”. (Cahyadi Takariawan, Wonderful Family, Era Intermedia, 2016).

Postingan berupa quotes seperti di atas adalah contoh soft selling. Sebenarnya saya sedang berjualan, namun bentuknya adalah kutipan yang menebar kemanfaatan.

Orang akan dengan suka rela memposting ulang, regran dan reposting, tulisan yang mereka anggap bermanfaat. Padahal itu soft selling. Pada benak pembaca, sudah tertanam pengertian tentang wonderful family, maka akan cepat merespon ketika ditawari buku Wonderful Family.

Sekarang perhatikan postingan berikut.

“Jual paket lengkap buku Wonderful Family, Wonderful Couple, Wonderful Journeys, Wonderful Husband, Wonderful Wife, Wonderful Marriage, Wonderful Love, Wonderful Parent. Jumlah 8 buku. Penulis : Cahyadi Takariawan. Penerbit : Era Intermedia. Harga total sebelum diskon : Rp 550rb. Anda bisa berhemat biaya kirim dengan membeli beberapa buku sekaligus, cek buku kami lainnya. Kontak admin, nomer WA / telpon 081xxxx02.”

Ini yang disebut sebagai hard selling. Saya mengatakan, “Jual buku”, atau “Sedia buku”, atau “Dapatkan buku terbaru”, dan kalimat lain yang langsung menyuruh pembaca untuk membeli buku.

Kadang dengan kalimat yang ‘berbumbu’, seperti, “Yakin kamu gak mau beli buku ini?” Atau kalimat provokatif, “Segera beli, stok habis hari ini” —- ini kalimat saat pameran atau bazar buku. Sangat banyak variasi dan kreasi hard selling. Namun intinya sama, secara langsung mengajak orang untuk membeli produk.

Nah, jika Anda melakukan proses selling melalui medsos, jangan melulu hard selling. Misalnya, setiap hari Anda selalu memposting konten hard selling. Ini cenderung membuat orang bosan dan jenuh, karena merasa dipaksa membeli setiap hari.

Catatan penting, pada dasarnya medsos tidak didesain untuk jualan, meskin bisa digunakan untuk jualan. Netizen cenderung menghindari akun-akun jualan. Untuk itu  gunakan metoda “sellang selling” (baca : selang seling). Sering diistilahkan dengan “sharing sharing dahulu, selling kemudian”.

Anda harus membuat postingan bervariasi, sehingga ada nilai plus bagi orang untuk mengikuti dan menjadikan pertemanan dengan Anda. Misalnya, Anda posting video yang menarik dan unik, atau mengunggah konten yang berisi tausiyah, dan lain sebagainya.

Jadi harus berselang seling antara soft selling dengan hard selling, agar pembaca postingan Anda tidak boring karena hanya berisi jualan melulu. Inilah metoda “sellang selling” itu.

Direct Selling, Konsinyasi dan Reseller

Direct selling artinya kita menjual langsung kepada pembeli, dengan beragam cara. Ada cara lama, datang dari rumah ke rumah, atau mendatangi perkumpulan untuk berjualan.

Bisa pula direct selling dengan teknologi japri. Memposting konten jualan di grup whatsapp, boleh dilakukan. Namun akan lebih menukik jika dikirim japri ke nomer pribadi. Jika Anda tidak kenal dengan pemilik nomer, bersiaplah untuk mendapatkan tanggapan berupa kemarahan. Jika itu terjadi, minta maaflah.

Konsinyasi, artinya Anda menitipkan buku ke toko buku atau kepada lembaga yang bersedia menjualkan buku Anda. Pihak toko buku akan menjualkan buku Anda, dan Anda mendapatkan bayaran sesuai dengan jumlah buku yang terjual.

Selain toko buku ‘resmi’, ada pula lembaga atau tempat yang menjual buku di waktu tertentu. Seperti masjid besar yang membuka lapak setiap hari Jumat dan setiap ada kajian. Biasanya mereka juga menerima konsinyasi.

Selling dengan sistem reseller artinya Anda memiliki jaringan pemasaran, yang langsung terhubung dengan Anda. Pengertian reseller adalah perusahaan atau perorangan yang membeli suatu barang atau jasa dari produsen atau distributor, dengan tujuan menjualnya kembali ke konsumen akhir untuk memperoleh keuntungan.

Dikatakan pula, reseller adalah suatu aktivitas perdagangan dimana seseorang atau perusahaan membeli barang/ jasa bukan untuk dikonsumsi sendiri melainkan dijual kembali ke end user untuk mendapatkan sejumlah keuntungan dari selisih harga beli dan jual.

Anda bisa membangun jaringan reseller dan membina mereka untuk menjual buku Anda. Tentu memerlukan waktu dan kesungguhan, namun cara ini bisa efektif untuk menjualkan produk yang hendak Anda jual, termasuk buku. Jika jumlah reseller yang bisa Anda bangun sudah mencapai ratusan apalagi ribuan, Anda harus menyiapkan sistem yang bagus untuk membuat mereka loyal kepada Anda.

Model direct selling, konsinyasi maupun reseller, semuanya adalah pilihan yang bisa Anda lakukan bersamaan. Bukan untuk dipertentangkan, namun untuk  dilakukan sesuai kondisi, situasi dan kemampuan.

Selamat menjual buku antologi. Selamat menebar manfaat dan motivasi.

1 thought on “Proses Selling Buku Antologi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *