19 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Seorang peserta Kelas Menulis Online (KMO) Basic mengajukan sebuah tulisan kepada saya. Ia bertanya, “Apakah tulisan saya ini masuk kategori fiksi atau nonfiksi?”

Pertanyaan tersebut serasa seperti mengajukan teka-teki silang yang harus saya selesaikan. Tentu saja saya tidak tahu. Karena ia yang menulis. Harusnya ia yang tahu, apakah tulisan dia itu fiksi atau nonfiksi.

Pertanyaan itu muncul karena bingung memahami, apa yang disebut sebagai fiksi dan nonfiksi. Dimana batas keduanya, apa yang membedakannya? Mungkin saja dilatarbelakangi oleh –konon—ketidakjelasan sebagian sejarah. Seperti sejarah Super Semar, dan bahkan gugatan sebagian orang terhadap sejarah G30S / PKI.

Pengertian Fiksi dan Nonfiksi

Supaya tidak bingung, kita gunakan versi KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) saja. Menurut KBBI, kata fiksi berarti rekaan, khayalan, dan tidak berdasarkan kisah nyata. Tulisan fiksi berarti tulisan yang dibuat berdasarkan imajinasi penulisnya dan bersifat rekaan.

Tulisan fiksi bisa mengangkat kisah nyata atau fakta, namun sudah mendapatkan tambahan atau perubahan tertentu untuk memperindah jalan cerita sehingga sifat faktualnya menjadi hilang.  Contoh karya sastra fiksi antara lain novel, cerpen, cerbung, sinetron, film, drama dan lain sebagainya. Syair dan puisi juga kerap dimasukkan rumpun fiksi.

Sedangkan non-fiksi berarti bukan rekaan, bukan khayalan, dan berdasarkan kejadian nyata. Tulisan non-fiksi adalah tulisan yang bersifat faktual, ditulis berdasarkan kenyataan, penelitian, bisa juga berupa gagasan, opini atau pendapat yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademis.

Tulisan non-fiksi ada yang berbentuk naskah akademik atau ilmiah murni, seperti skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian, artikel untuk jurnal akademik, dan lain sebagainya. Ada pula tulisan populer, seperti opini, artikel, feature, esai, diary, kisah berhikmah dan resensi buku.

Apa Perbedaan Keduanya?

Novelis Josip Novakovich menyatakan, jika kita menemukan fakta lalu kita sampaikan apa adanya, itu namanya nonfiksi. Sedangkan jika kita membungkus dan menghiasnya dengan imajinasi, itu namanya fiksi. Inti perbedaannya adalah pada pesan yang disampaikan. Bukan pada gaya bahasa yang digunakan.

Menurut Afifah Afra, dalam fiksi terdapat pola yang khas, seperti penokohan, plot, konflik, klimaks, setting dan lain sebagainya. Fiksi memberikan kebebasan luas bagi pengarang untuk menyampaikan pesan kepada pembaca. Sebaliknya, pembaca juga memiliki kebebasan untuk menginterpretasikan makna yang terkandung dalam tulisan tersebut.

Pada tulisan nonfiksi, pesan bersifat langsung. Kesimpulan telah jelas dinyatakan dalam tulisan. Pembaca akan diajak menerima kesimpulan yang disampaikan oleh penulis. Ini karena tulisan nonfiksi harus mengandung ‘clarity’ yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademik.

Lebih spesifik lagi, Afra menyatakan bahwa tulisan fiksi menyasar kepada emosi pembaca, sedangkan nonfiksi lebih menyasar sisi logika. Itu sebabnya, fiksi akan mengajak pembaca memiliki pengalaman estetik yang membahagiakan, mencerahkan dan menghibur. Mungkin karena itu —menurut Afra, sebagian besar penulis dan pembaca fiksi adalah perempuan. Karena perempuan lekat dengan sisi perasaan.

Sebagian orang memahami perbedaan tulisan fiksi dan non-fiksi terletak pada gaya bahasa yang digunakan. Misalnya tulisan fiksi memakai bahasa informal dan nonfiksi menggunakan bahasa resmi. Padahal faktanya tidak demikian. Gaya bahasa formal dan informal sama-sama bisa digunakan pada semua jenis tulisan.

Tulisan nonfiksi bisa ditulis dengan diksi dan gaya bahasa yang indah, sehingga seperti gaya sebuah fiksi. Sebaliknya, karya fiksi bisa dilatarbelakangi oleh kajian sains yang aktual, sebagaimana terjadi pada nonfiksi. Bahkan gaya metafora bisa digunakan dalam fiksi maupun nonfiksi.

Jadi, perbedaan bukan terletak pada gaya bahasa maupun cara pengungkapannya. Sekali lagi, perbedaan pokok terletak pada sifat dari isi pesannya.

Jika suatu pesan dituliskan secara nyata, baik fakta maupun opini, maka disebut sebagai nonfiksi. Sedangkan apabila pesan yang dituliskan bersifat khayalan dan imajinasi, atau kenyataan yang dibumbui imajinasi, maka disebut sebagai fiksi.

Bahan Bacaan

Afifah Afra, Menerawang Fiksi, Materi Kuliah Umum Kepenulisan, 11 Oktober 2020

Josip Novakovich, Writing Fiction Step by Step, Story Press, 1998

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *