.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Research suggests that when we see ourselves clearly, we are more confident and more creative” (Tasha Eurich, 2018)
************
Restoran yang sudah sangat lama berdiri dan terkenal, bisa kalah oleh restoran yang baru saja buka. Perusahaan yang sudah sangat besar, bisa kalah bersaing dengan perusahaan yang masih kecil. Guru yang sudah senior, bisa dikalahkan kemampuan mengajarnya oleh guru baru.
Hal sama bisa terjadi dalam dunia kepenulisan. Penulis senior dan ahli, bisa kalah oleh para penulis baru. Kalah dari segi kualitas tulisan, produktivitas menulis, maupun popularitas sebagai penulis. Pendatang baru bisa melejit dan mengalahkan mereka yang senior.
Gejala yang saya sampaikan di atas, tentu ada sangat banyak penyebab dan penjelasannya. Namun dalam kesempatan kali ini, saya akan fokus kepada satu titik yang menjadi penyebab, mengapa mereka yang sudah ahli dan ternama, bisa kalah oleh pendatang baru. Penyebab itu bernama self-awareness.
Apa itu Self Awareness?
Self Awareness atau kesadaran diri adalah perhatian terhadap diri sendiri, terkait kelebihan dan kekurangan, potensi dan hambatan, serta pengaruh lingkungan. Orang yang memiliki self awareness, cenderung mengenal secara jelas berbagai macam kondisi diri, baik berupa kekuatan maupun kelemahan.
Tasha Eurich menyatakan, “Research suggests that when we see ourselves clearly, we are more confident and more creative”. Di sinilah salah satu jawaban yang bisa diberikan, mengapa penulis senior bisa terkalahkan oleh penulis baru. Ketika para penulis baru lebih memiliki self awareness, maka dirinya menjadi lebih percaya diri dan lebih kreatif.
Sementara itu, para penulis senior merasa sudah hebat, sehingga tidak lagi memiliki self awareness. Studi yang dilakukan oleh Dr. Tasha Eurich menemukan, 95% orang merasa diri mereka memiliki self-awareness, namun kenyataannya hanya 15% dari mereka yang benar-benar sadar diri.
Mengapa Gagal Memiliki Self Awareness?
Sangat banyak orang yang ternyata tidak memiliki self awareness. Menurut Dr. Tasha Eurich, ada tiga hal yang menyebabkan kondisi ini. Mari kita bawa penjelasan ini, untuk fokus pada konteks penulis.
- Adanya blind spot
Setiap manusia memiliki titik buta atau blind spot dalam dirinya. Kita tidak akan mungkin mengenali diri kita seutuhnya. Ada bagian dari diri kita yang hanya bisa diketahui oleh orang lain. Menurut Tasha Eurich, hal ini karena sebagian besar perilaku kita telah bersifat otomatis, sehingga kita tidak selalu sadar dengan apa yang kita lakukan.
Ketika menulis sudah menjadi aktivitas rutin harian, maka akan bertemu dengan blind spot dalam dirinya. Penulis tak bisa mengetahui secara utuh kualitas tulisannya, karena terhalang oleh titik buta. Ia memerlukan orang lain untuk mengoreksi dan memberikan masukan.
- Gejala feel-good effect
Makin senior dan makin ahli seseorang, akan membuat dirinya merasa semakin berkualitas. Manusia akan merasa bahagia saat melihat sisi kelebihan dirinya. Pada kondisi itu, mereka akan cenderung fokus hanya pada kelebihan yang dimiliki, dan cepat merasa puas.
Penulis senior bisa terjebak dalam feel-good effect ini. Dirinya enjoy dengan kehebatan menulis yangh dimilikinya, dan ia merasa semua hasil tulisannya sudah bagus. Ia puas dengan karya tulis yang dihasilkan setiap hari.
- Terjebak cult of self
Saat penulis makin produktif dan dikenal luas oleh publik, bisa menyebabkan dirinya merasa besar. Saat ia mulai mengkultuskan diri sendiri, di titik itu ia kehilangan self awareness. Perasaan kebesaran yang dimiliki membuat dirinya telah benar-benar hebat. Tak lagi melihat cela dalam karya tulisnya.
Bisa jadi hal ini akibat dari senioritas dan popularitas yang tercipta melalui sosial media. Seseorang merasa hebat, merasa besar, merasa excellent, padahal kenyataannya tidak sehebat, yang dikira.
Meningkatkan Self Awareness
Agar para penulis selalu memiliki self awareness, maka diperlukan upaya untuk menyadari tiga gejala di atas. Harus sadar bahwa dalam dirinya ada blind spot. Menghindari feel-good effect dalam menulis, serta menghindari cult of self. Para penulis baru yang sadar akan kondisi dirinya, justru akan lebih kreatif menciptakan karya, di saat para senior sudah merasa mapan.
Selain itu, sangat penting untuk menerima feedback. Dengarkan masukan dari pihak lain, untuk terus menerus memperbaiki kualitas tulisan kita.
Rumusnya, siapa paling baik self awareness-nya, dialah juara.
Bahan Bacaan
Tasha Eurich, What Self-Awareness Really Is (and How to Cultivate It), Harvard Business Review, https://hbr.org, 4 Januari 2018

Self awareness, feel-good effect, and cult of self.
Jazakallah khair Pak Cah.
Rumusnya, siapa paling baik self awareness-nya, dialah juara.
Super sekali pak Cah. Terimakasih.
Terimakasih Pak Cah, jazaakumullah. Ilmunya sangat bermanfaat.
Alhamdulillah tambah lagi ilmu mengenali diri ..bisa pakai analisis swot nggih Ustadz? Jazaakallohu khoir
Tiga hal yang harus dipahami oleh penulis adalah self awareness, feel good effect, dan cult of self. Sarapan pagi yang bergizi. Terima kasih, Pak Ustad.
Terima kasih Pak Cah.
Rasanya bukan hanya buat penulis. Buat semua profesi harusnya demikian.
Terima kasih, Pak. Pentingnya self awareness bagi penulis. Nggih Pak.
Alhamdulillah. Terus belajar dan belajar menjadi pembelajar
terima kasih pak cah, ..semoga lebih bisa mengenal diri kedepannya
Sangat menginspirasi, jazakallahu gurunda
yuk semangat berkarya mas Urip…
Saya harus menghindarkan diri dari sifat sombong karena dalam diri ada titik buta, begitu ya Pak Cah.
betttuuuullll…..