.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Kendala atau kesulitan dalam menulis bersifat subyektif dan kondisional. Kesulitan yang dialami oleh seorang penulis, bisa jadi bagi penulis yang lainnya bukanlah kesulitan. Sangat subyektif, berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.
Demikian pula dalam konteks jenis dan tema tulisan. Seorang penulis fiksi, tidak menemukan kesulitan apapun dalam menulis fiksi. Namun bisa jadi dirinya merasa banyak kesulitan saat menulis nonfiksi.
Sebagaimana seorang penulis nonfiksi, merasa tidak ada kesulitan apapun dalam menulis nonfiksi. Namun bisa jadi dirinya menemukan banyak kesulitan saat menulis fiksi. Inilah yang dimaksud kondisional.
Dalam kaitan dengan tema tulisan, juga bisa berlaku kondisional tersebut. Seorang penulis spesialis tema parenting, mungkin akan menemukan banyak kesulitan jika diminta menulis tema pertanian. Seorang penulis spesialis tema perbankan, mungkin akan menemukan banyak kendala saat harus menulis tema pendidikan anak.
Waktu dan suasana jiwa juga bisa memberikan pengaruh. Ada waktu dan suasana tertentu yang memacu ide kreatif pada seorang penulis, yang bisa jadi tidak muncul pada waktu dan suasana yang berbeda.
Misalnya, penulis tipe burung hantu, merasa lancar tanpa kendala saat menulis di waktu tengah malam. Namun sangat sulit keluar ide ketika harus menulis di pagi hari setelah terbit matahari. Sementara penulis tipe ayam jago akan lancar menulis saat pagi hari. Ide-ide segar mengalir lancar. Namun saat malam mulai gelap, tidak ada ide yang bisa dituliskannya.
Demikian pula suasana. Ada penulis yang tidak bisa diganggu oleh kebisingan suara. Ia harus selalu memilih waktu dan suasana sunyi sepi. Sebagian yang lain, justru tersiksa dalam kesunyian. Mereka memilih tempat yang ramai dan bising untuk bisa menuangkan ide ke dalam tulisan.
Kendala Menulis Buku
Menulis buku adalah sebuah projek yang spesifik. Dibatasi oleh tema, outline, jumlah karakter, dan waktu. Berbeda dengan menulis harian, yang tidak berada dalam konteks projek. Maka kendala dan kesulitannya bercorak lebih spesifik.
Seseorang menulis buku tentu dengan pilihan dan kesadaran. Bahwa dirinya mampu menulis tema tersebut, dengan outline yang telah dibuat dan waktu yang telah ditetapkan. Maka tingkat kesulitannya lebih bisa diprediksi dan dicarikan solusi.
Tidak semua penulis menemukan kesulitan berarti dalam menyelesaikan projek penulisan buku. Berikut saya himpun dari delapan emak penulis buku, dari Kelas Emak Punya Karya (EPK).
- Kelelahan
Ida Kusdiati, penulis Khatulistiwa Cinta, menyatakan hampir tidak menemukan kendala saat menulis buku. Buku setebal 336 halaman tersebut berisi kisah kehidupan sehari-hari di rumah, di masyarakat, di tempat kerja, dan organisasi.
Kadang ia merasakan kelelahan dari aktivitas dinas sebagai pejabat teras di Kalimantan Barat. Waktu yang sudah disiapkan untuk menulis menjadi terlewatkan karena sudah sangat lelah. Tentu ini sangat manusiawi, terlebih usia tidak muda lagi.
Jika menemukan kendala seperti itu, ia langsung mengusahakan untuk merapel pada waktu yang lain. Akhirnya 50 hari ia berhasil merampungkan projek penulisan buku.
Kendala yang sama dirasakan oleh Endang SP Usman. Penulis buku Azzam Penggenggam Quran ini mengaku tidak menemukan kendala yang berarti, namun sebagai ibu rumah tangga sekaligus pengajar, ia kerap terserang rasa mengantuk.
Ia menulis di saat berbagai kesibukan rumah tangga sudah selesai. Maka waktu malam menjadi pilihannya. Saat rasa lelah telah bertumpuk, akhirnya ia mengantuk dan menghentikan proses menulis. Buku setebal 226 halaman itu berhasil diselesaikan dalam waktu 56 hari.
- Kendala kesibukan
Leni Cahya Pertiwi penulis buku Happy Mama menyebutkan kendala berupa kesibukan. Dirinya mengikuti berbagai kelas belajar online. Ada kelas belajar bahasa Arab, ada halaqoh-halaqoh ilmu, dan kelas parenting. Namun ia tidak mau menjadikan kesibukan sebagai alasan. Ia tetap menulis di sela semua kesibukannya.
Syasha Lusiana penulis buku Cahaya Dunia menyatakan hal yang sama. Dalam sepekan dirinya 4 – 5 hari pergi ke luar kota, sehingga penulisan buku sering dilakukan di perjalanan. Bila jadwal menulis terganggu, ia mengompensasi pada weekend dengan menambah jam menulis.
- Aturan Kebahasaan
Yulia K Rohima penulis buku Catatan Pejuang Sakinah mengaku, kendala yang paling dirasakan adalah soal pemahaman akan PUEBI dan KBBI. Ia merasa tidak menguasai kaidah kebahasaan sesuai PUEBI dan KBBI. Dampaknya ketika menulis kadang muncul keraguan apakah yang ditulis sudah benar sesuai kaidah. Meskipun mentor sudah mengarahkan agar mengedit dilakukan setelah menulis, namun rasa penasaran sering hadir.
Mengatasi kendala ini, ia meminta tolong anaknya untuk melakukan editing. Dengan demikian ia lebih fokus menulis, sedangkan mengedit dilakukan anak. Dalam waktu 14 hari, ia berhasil menyelesaikan penulisan buku setebal sekitar 210 halaman tersebut.
- Modal sempit
Kendala kedua yang dirasakan Yulia K. Rohima adalah tidak punya modal untuk menerbitkan buku. Sebagaimana diketahui, untuk menerbitkan buku secara indi memerlukan modal awal. Paling tidak, biaya percetakan.
Untuk mengatasi kendala ini, ia mengusahakan semaksimal mungkin semua proses pracetak dikerjakan bersama keluarga. Maka ia libatkan suami dan anak untuk membantu proses editing dan layout, sehingga mengurangi biaya pracetak.
- Gangguan perangkat
Rifuwanti, penulis buku Great Mother, mengalami kendala sangat teknis, terkait laptop. Selama ini ia menulis menggunakan laptop. Suatu ketika, laptop ketumpahan air minum, sehingga rusak dan harus diservis.
Dampaknya, laptop istirahat selama satu pekan. Tentu saja peristiwa seperti ini sangat mengganggu. Bukan saja mengganggu secara teknis, namun juga memengaruhi motivasi menulis. Bersyukur, setelah laptop selesai diservis, ia segera melanjutkan menulis hingga selesai. Buku setebal 238 halaman itu selesai ditulis dalam waktu 42 hari.
Leni Cahya Pertiwi penulis buku Happy Mama mengaku memiliki kendala yang sama. Yang dihadapi adalah kendala teknis terutama netbook yang sangat tidak mendukung. Nyaris setiap mulai membuka netbook, dibuat kesal karena proses loading sangat lama. Proses menyimpan data juga mengalami masalah yang sama. Koneksi internet juga sangat lambat.
- Konsistensi
Ummu Rochimah penulis buku Chemistry Jiwa menyatakan, kendala saat menulis buku adalah konsistensi pada waktu yang sudah ditetapkan. Di kelas Emak Punya Karya, semua peserta harus menetapkan waktu menulis harian.
Dalam kegiatan keseharian, kadang ditemukan gangguan teknis yang tidak bisa ditolak. Ini yang menyebabkan tidak bisa sepenuhnya konsisten dengan jadwal menulis. Ia bertekad mengganti dengan waktu-waktu lain agar bisa menyelesaikan penulisan. Akhirnya ia berhasil menyelesaikan buku setebal 200 halaman dalam waktu 40 hari.
Kendala sama dirasakan oleh Leni Cahya Pertiwi. Merasa tidak bisa sepenuhnya konsisten karena sifat moody. Adakalanya sangat bersemangat menulis. Dari bangun tidur hingga tengah malam terus menerus menulis di netbook. Di lain waktu berhari-hari tidak menuliskan apapun.
Ia tidak menyerah. Dengan tekad yang kuat, akhirnya dalam 40 hari naskah buku Happy Mama bisa selesai dituliskan. Sekarang sudah berada di pasaran.
- Tidak Menemukan Kendala
Herlin Variani, penulis Parents Smart mengaku tidak menemukan kendala yang berarti. Buku setebal sekitar 250 halaman ditulis dalam waktu 15 hari saja. Secara umum, ia merasa lancar-lancar saja. Di setiap ada waktu, ia menulis dan menulis, bahkan saat menunggu kendaraan umum sepulang kerja.
Kalaupun sempat mengalami kesulitan, ia langsung konsultasi dengan mentor menulis. Dengan demikian, kesulitan langsung terselesaikan. Teknologi komunikasi, membuatnya bisa selalu terhubung dengan mentor, meskipun ia tinggal di Solok yang jauh dari tempat tinggal mentor.
