Oleh : Cahyadi Takariawan
Saya sangat sering menciptakan barrier untuk pembaca. Terlalu sering. Ini hal buruk, dan jangan Anda contoh. Boleh dong sesekali buka kartu, bahwa mentor menulis tidak selalu memberikan contoh yang ‘benar’.
Sesungguhnya dunia sudah berubah, dan sering kali manusia sulit berubah dari kebiasaannya. Apalagi manusia tua, semacam saya. Internet, media sosial, gadget sudah merubah semuanya.
Bukan hanya dunia bisnis yang berubah, dunia menulis pun sangat berubah. Berbagai kebiasaan lama dalam menulis, terkoreksi oleh kebiasaan manusia modern. Jika kita tidak menyesuaikan, pasti akan ditinggalkan pembaca milenial.
Di zaman cyber, manusia suka instan dan ringkas dalam komunikasi. Maka ada banyak emoticon diciptakan untuk berkomunikasi di grup chatting, tanpa perlu menulis kalimat apapun. Ini contoh kepraktisan yang disukai masyarakat modern.
Jika kita tidak cermat dalam menulis, akan banyak jenis barrier yang tercipta tidak sengaja dalam tulisan kita. Bisa jadi sejak awal kalimat, pembaca sudah memutuskan untuk tidak mau membaca, karena ada barrier.
Kali ini saya akan sharing tentang lima barrier yang kerap membuat pembaca tidak nyaman membaca tulisan yang kita posting di blog atau web. Saya tidak membahas buku, atau media sosial ya. Ini barrier tulisan di web atau blog saja.
- Satu kalimat lebih dari 20 kata
Kalimat yang terlalu panjang adalah barrier. Ini jelas soal teknis, bukan soal isi dan esensi kalimat. Maka usahakan setiap menulis kalimat, tidak lebih dari duapuluh kata. Tentu ini bukan hukum baku, namun semata-mata gaya atau style yang lebih diterima.
Kalimat yang lebih dari 20 kata, lebih lama membacanya, dan berpeluang melahirkan kebosanan serta kelelahan pembaca. Maka batasi, satu kalimat tak lebih 20 kata saja.
- Satu paragraf lebih dari 4 kalimat
Bagi penulis buku seperti saya —dengan gaya kolonial— terbiasa dengan kalimat panjang dan paragraf panjang. Gaya ini tidak lagi diterima manusia modern. Tidak tahu mengapa, masyarakat cyber lebih mudah merasa lelah membaca.
Mereka lebih suka paragraf pendek, dua atau tiga kalimat. Paling banyak empat kalimat dalam satu paragraf. Pun kalimat yang pendek.
- Satu naskah lebih dari 500 kata
Jika Anda menulis untuk postingan web, akan cenderung dicuekin oleh pembaca jika naskah Anda lebih dari 500 kata. Naskah yang disenangi pembaca adalah yang ringkas, tidak bertele-tele. Maka ciptakan tulisan untuk web Anda, maksimal 500 kata saja.
Saya kira ini alasan utama mengapa MG. Siegler membuat web www.500ish.com yang berisi artikel 500 kata saja. Ringan dan nyaman dilahap semua oleh pembaca.
- Barrier paragraf pertama
Ketika Anda membuat paragraf pertama yang panjang, dengan kalimat-kalimat panjang, barrier itu begitu nyata. Pembaca langsung lelah sejak paragraf pertama, yang membuat mereka tidak meneruskan membaca. Sesak nafas.
Maka ciptakan paragraf pertama, hanya dua atau tiga kalimat saja. Pun kalimat pembuka yang pendek, menarik dan menggelitik.
- Barrier judul
Kira-kira, tertarikkah Anda membaca artikel yang judulnya panjang, bertele-tele dan sangat normatif? “Pengaruh Covid-19 Terhadap Masyarakat yang Tinggal di Wilayah Pedesaan Secara Sosial, Ekonomi dan Budaya, Dalam Perspektif Ketahanan Nasional Guna Mewujudkan Pembangunan Daerah yang Berkesinambungan dan Berkeadilan, Menuju Masyarakat Adil Makmur Sejahtera dalam Lindungan Tuhan Yang Mahaesa”.
Capek deh, baca judulnya saja. Pembaca langsung mencari web lainnya.
Statistik Tulisan
Isi tulisan saya di atas, di luar judul, nama penulis, daftar pustaka dan keterangan statistik ini, total berjumlah 497 kata atau 2.930 karakter.
Bahan Bacaan
Hannah Frankman, Six Rules for Writing a Good Article, http://hannahfrankman.com, 13 Desember 2017

Jazaakumulloh
terus berkarya mbak Syifa…
Subhanallah… Trims ustadz, ulasan singkat dan jelas tentang barrier
Bagaimana agar tulisan bisa singkat tetapi mampu membuat pembaca cukup jelas dengan apa yang kita uraikan
Satu paragraf ada maks 4 kalimat, satu posting 500 kata hampir 3000 karakter di luar judul. Jika tulisan di website. Jadi 1000kata, jika kita bagi dua. Mohon tanya ustadz, kita buat judul bedakah??
Mbak Maryati, jika naskah dibagi dua, apabila bisa menjadi dua bagian terpisah, maka judul dibuat beda. Namun jika tidak bisa menjadi bagian yang terpisah, judul dibuat sama, namun diberi keterangan “Bagian Pertama” dan “Bagian Kedua”
Mantap…terimakasih pak Cah, tips menulis kekinian sesuai dengan zamannya.
Terima kasih ilmunya. Sangat bermanfaat.
semangat menulis mbak…
ayuk terus menulis mbak novita….
para pemakai twitter paling pandai melakukan ini mbak. Twitter mengajari kita hemat kata, meringkas hal-hal panjang menjadi pesen pendek saja.
Namun tidak semua jenis tulisan cocok dengan prinsip ini….
Situs 500sh.com tidak dapat dijangkau
bisa mbak… coba lagi https://500ish.com/about
Makin suka baca dan semangat menulis saya pak. Jazakallah khair pak cah
alhamdulillah, ayuk terus menulis mbak wulan…
Selama ini, saya menulis hanya menuruti kata hati sendiri, belum memikirkan kata hati orang lain, yang lelah mambaca karena terlalu panjang. Berbeda dulu berbeda sekarabg. Terima kasih Pak Cah. Saya berproses.
yup, kita semua berproses terus mbak Sri….
Input baru yang mencerdaskan, maturkesuwun pak…
Semangaaattt mas Subadi….