.
Oleh Cahyadi Takariawan
.
Pecel itu simbol kesederhanaan. Makan nasi pecel, cukup beralaskan pincuk yang terbuat dari daun pisang. Makan lamgsung dengan tangan. Kesederhanaan justru menjadi sensasi tersendiri yang sangat istimewa.
Pecel juga simbol kerumitan. Ada perpaduan yang khas, antara gula Jawa, kacang tanah, cabe, bawang merah, bawang putih, kencur, jeruk purut serta asam Jawa. Sebuah komposisi yang rumit. Namun, segala yang rumit, apabila tepat memadukannya, akan menjadi nikmat hasilnya.

Pecel itu simbol kedekatan dengan alam. Pohon aren untuk bahan gula Jawa, kita menanam sayur-sayuran hijau, kacang, cabe, serta jeruk purut. Semua bahan dari alam di sekitar kita. Dekat dengan alam, adalah gerbang kesehatan.
Pecel adalah simbol ketahanan pangan. Kita bisa bertahan hidup dengan menikmati berbagai tanaman yang ada di sekita kita sendiri. Ini menandakan adanya keuletan, kegigihan dan kesungguhan.
Pecel adalah simbol aneka rasa. Ada manis yang dihasilkan dari gula Jawa, namun juga pedas dari cabe. Ada sedikit rasa kecut dari asam Jawa, dan kesegaran aroma jeruk purut. Begitulah hidup. Selalu beraneka rasa. Bukan monoton dan statis, namun amat sangat dinamis. Hidup itu meriah, bukan sepi-sepi saja dari makna.

Begitulah pecel mengajari kita kehidupan. Hiduplah dengan sederhana, karena kita semua pasti akan mati menghadap Yang Maha Kuasa. Hidup jangan takut menghadapi kerumitan, sepanjang pandai meramu dengan tepat, hasilnya justru nimat.
Hidup harus dekat dengan alam. Jangan merusak dan mengeksploitasi alam, justru kita harus melestarikan dan memanfaatkan secara bijaksana. Hidup harus memiliki daya tahan, karena kita selalu berhadapan dengan tantangan.
Hidup selalu penuh rasa. Ada manis, ada pedas, ada kecut, ada pula kesegarannya. Nikmati saja semuanya, sebab hidup tak indah apabila hanya satu rasa saja. Semua rasa, senantiasa menghasilkan kekuatan jiwa.
Oh ya, satu lagi. Pecel juga simbol persahabatan, ketulusan dan persaudaraan. Buktinya saya menerima hadiah Pecel Madiun dari seorang sahabat penulis, Sri Rohmatiah Djalil. Tahu-tahu ada paket sampai di rumah. Tiga kilogram Pecel Madiun. Subhanallah.
Insyaallah ketulusannya akan membuahkan pahala. Semoga sukses selalu dunia akhirat, mbak Sri Djalil. Selamat berkarya.
Yogyakarta, 19 Agustus 2020
