.
RM 0007-20
Oleh : Cahyadi Takariawan
Di Kelas Menulis Online (KMO) Alineaku, saya sering mendapat pertanyaan tentang bagaimana cara memasarkan dan menjual buku. Padahal nama kelasnya adalah Kelas Menulis, dimana saya tengah mengajari menulis —namun saya juga harus menjawab pertanyaan tentang pemasaran dan penjualan, padahal saya bukan ahlinya. Namun karena ditanya oleh peserta, mau tidak mau saya harus menemukan jawabannya.
Contoh pertanyaannya seperti ini, “Bagaimana tips bagi penulis pemula untuk memasarkan buku hasil karyanya?” (Umi Nadhifah, Batch 29 / 2020). Saya senang-senang saja dengan pertanyaan ini —meskipun saya sama sekali bukan ahli pemasaran dan jualan, namun saya tetap bisa sharing pengalaman. Semampu saya.
Memahami dan Memilih Strategi
Teori tentang teknik memasarkan dan menjual buku, sudah sangat banyak ditulis oleh para pakar dan praktisi. Silakan searching “teknik jitu memasarkan buku” atau “teknik jitu menjual buku”, akan muncul sangat banyak ulasan dan penjelasan. Pada dasarnya, berbagai strategi, cara, metode, teknik, tips —atau apapun namanya, akan kembali kepada masing-masing kita : mana yang paling tepat atau cocok bagi kita, pun bagi jenis buku kita. Tidak semua teori penjualan itu cocok bagi Anda. Tidak semua teori pemasaran itu, tepat bagi jenis buku dan jenis pangsa pasar yang Anda bidik.
Saya bukan ahli marketing, saya juga bukan ahli selling, maka saya tidak berkompeten mengajarkan kepada Anda strategi memasarkan dan menjual buku. Yang bisa saya lakukan adalah sharing pengalaman, apa yang saya lakukan selama ini, juga apa yang saya saksikan dari proses penjualan buku-buku saya, yang dilakukan oleh banyak kalangan.
Dalam konteks memasarkan dan menjual buku, maka strategi pemasaran (marketing) dan penjualan (selling), saya rumuskan dengan istilah : “memahami banyak strategi, dan memilih yang sesuai”. Memahami banyak strategi adalah tindakan yang sangat penting, karena bisa jadi kita tidak melakukan suatu tindakan pemasaran atau penjualan, karena kita tidak mengerti. Memilih yang sesuai juga penting, karena tidak semua strategi yang kita pelajari sesuai dengan kondisi diri kita dan pangsa pasar yang hendak kita raih.
Pertama, Sisi Marketing
Apa yang disebut sebagai marketing? Mungkin ada ratusan pengertian marketing, namun salah satu definisi yang mudah dipahami adalah ungkapan Joey Iazzetto, dari UniCom Marketing Group, “Marketing is defined as we help people sell more stuff.” Marketing atau pemasaran adalah membantu orang untuk menjual lebih banyak barang. Jadi, hakikat marketing adalah mempermudah terjadinya penjualan, atau membantu agar tercipta banyak penjualan.
Marketing Langit dan Marketing Bumi
Anda sudah sering mendengar istilah marketing langit —sebuah proses marketing dengan pendekatan spiritual, atau proses marketing yang dilakukan berdasarkan arahan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. Sebagai contoh, aktivitas istighfar. Selama ini istighfar dipahami sebagai aktivitas memohon ampunan kepada Allah. Namun, dalam istighfar ternyata terkandung kelimpahan rezeki. Perhatikan firman Allah,
“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan makna ayat di atas, “Tinggalkanlah dosa, beristighfarlah pada Allah atas dosa yang kalian perbuat. Sungguh Allah itu Maha Pengampun. Dosa yang begitu banyak akan dimaafkan oleh Allah. Maka hendaklah mereka segera memohon ampun pada Allah meraih pahala dan hilanglah musibah. Allah pun akan memberikan karunia yang disegerakan di dunia dengan istighfar tersebut yaitu akan diturunkan hujan dengan deras dari langit, juga akan dikarunia harta dan anak yang diharapkan. Begitu pula akan diberi karunia kebun dan sungai di antara kelezatan dunia.”
Istighfar memberikan kepada pelakunya “wayumdidkum bi amwal” —membanyakkan hartamu, sebagaimana penjelasan Syaikh As-Sa’di, dengan istighfar “akan dikarunia harta dan anak yang diharapkan”. Maka, memperbanyak istighfar adalah strategi jitu marketing langit. Demikian pula aktivitas infak atau sodakoh, shalawat, shalat berjama’ah ke masjid, shalat duha, dan amal jiwa seperti taqwa dan tawakal kepada Allah —-adalah bagian dari langkah marketing langit yang bisa dilakukan untuk mendatangkan rezeki.
Namun harus ditopang pula dengan marketing bumi, yaitu menyapa manusia di bumi, berbuat baik kepada mereka, berwajah cerah, ramah, supel, jujur, amanah, mudah menolong orang, membantu mereka yang memerlukan pertolongan —-dan berbagai bentuk perbuatan baik lainnya kepada sesama. Jika Anda ramah dan supel, akan lebih mudah memasarkan produk dibandingkan dengan Anda yang jutek dan cuek.
Marketing langit itu dengan mengetuk pintu langit. Marketing bumi itu dengan mengetuk pintu hati manusia. Keduanya jangan dipertentangkan, namun keduanya bisa dilakukan secara bersamaan.
Traditional Marketing dan Digital Marketing
Pemasaran dengan cara tradisional biasanya dilakukan dengan iklan melalui koran, majalah, radio dan TV; memasang bilboard, banner, flyer, poster, spanduk di pinggir jalan dan tempat-tempat strategis; membuat dan membagikan brosur, leaflet dan lain sebagainya. Cara-cara tradisional ini sudah dikenal sejak lama, dan sampai sekarang masih ditempuh oleh banyak pihak untuk memasarkan produk. Tidak semua sarana ini cocok untuk memasarkan buku, karena relatif berbiaya cukup besar.
Untuk menyiasati agar tidak berbayar mahal, metode pemasaran tradisional bisa dilakukan dengan “soft”. Pada jenis produk buku, bisa dilakukan dengan model menulis resensi di koran dan majalah, atau bedah buku melalui radio. Ini adalah model pemasaran tidak langsung yang sangat murah, karena tidak perlu membayar. Berbeda dengan mengiklankan secara langsung melalui koran, majalah dan TV, tentu berbayar cukup mahal.
Digital marketing adalah pemasaran melalui jaringan internet, atau sistem online. Biasanya menggunakan website, media sosial, online advertising, dan email marketing. Kelebihan cara digital marketing adalah jangkauan yang lebih luas, lebih tersegmentasi dari segi pangsa pasar yang dibidik, juga biaya relatif lebih murah. Jangkauan digital marketing luas tanpa batas wilayah, tempat dan waktu. Sangat berbeda dengan traditional marketing.
Kedua model marketing ini —traditional dan digital— jangan dipertentangkan. Namun lakukan sesuai kondisi, situasi dan kebutuhan. Pada dasarnya kita hanya melakukan usaha terbaik, dengan berbagai cara yang memungkinkan untuk memasarkan buku kita.
Kedua, Sisi Selling
Selling atau penjualan adalah usaha untuk menjual produk. Jika marketing adalah usaha untuk menciptakan atau menarik calon pembeli, maka selling adalah mengubah calon pembeli menjadi pembeli, membuat orang yang belum membeli, bisa memutuskan untuk membeli. Jika marketing adalah proses mengenalkan dan mengedukasi pasar, maka selling adalah bab menjual sebanyak mungkin produk.
Soft Selling, Hard Selling, dan Sellang Selling
Orang tidak akan membeli buku Wonderful Family, apabila mereka tidak mengerti urgensinya. Maka saya memposting banyak konten tentang pernikahan dan keluarga sakinah melalui website, fanspage, facebook, instagram dan twitter. Saya juga membuat banyak tulisan ringan tentang pernikahan dan keluarga melalui grup-grup whatsapp. Saya menjual buku-buku bertema pernikahan dan keluarga, maka sangat banyak tulisan saya di Kompasiana, Ruang Keluarga (www.ruangkeluarga.id), Pak Cah (www.pakcah.id) dan Lockdown 2020 (www.lockdown2020.id), yang bertema keluarga.
Mungkin selama ini Anda tidak menyadari, itu semua sebenarnya adalah soft selling. Sebuah proses menjual buku secara tidak langsung. Pembaca menjadi mengerti urgensi menjaga keharmonisan keluarga, maka saat saya menawarkan buku-buku —secara hard selling— lebih mudah untuk diakses oleh masyarakat.
Agar Anda lebih mudah memahami perbedaan soft selling dengan hard selling, perhatikan salah satu postingan saya di medsos berikut.
“Keluarga sakinah bukan berarti tidak ada permasalahan, bukan berarti tanpa pertengkaran, bukan berarti bebas dari persoalan. Namun, dalam keluarga sakinah berbagai persoalan mudah diselesaikan. Suami dan istri bergandengan tangan saling mengurai persoalan. Mereka bersedia duduk berdua, berbincang berdua, mengurai berbagai keruwetan hidup berumah tangga. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan sepanjang mereka berdua bersedia menyelesaikannya”. (Cahyadi Takariawan, Wonderful Family, Era Intermedia, 2016).
Postingan berupa quotes seperti di atas adalah contoh soft selling. Sebenarnya saya sedang berjualan, namun bentuknya adalah kutipan yang menebar kemanfaatan. Orang akan dengan suka rela memposting ulang, regran, reposting, tulisan yang mereka anggap bermanfaat. Padahal itu soft selling. Pada benak pembaca, sudah tertanam pengertian tentang wonderful family, maka akan cepat merespon ketika ditawari buku Wonderful Family.
Sekarang perhatikan postingan berikut.
“Jual paket lengkap buku Wonderful Family, Wonderful Couple, Wonderful Journeys, Wonderful Husband, Wonderful Wife, Wonderful Marriage, Wonderful Love, Wonderful Parent. Jumlah 8 buku. Penulis : Cahyadi Takariawan. Penerbit : Era Intermedia. Harga total sebelum diskon : Rp 550rb. Anda bisa berhemat biaya kirim dengan membeli beberapa buku sekaligus, cek buku kami lainnya. Kontak admin, nomer WA / telpon 081xxxx02.”
Ini yang disebut sebagai hard selling. Saya mengatakan, “Jual buku”, atau “Sedia buku”, atau “Dapatkan buku terbaru”, dan kalimat lain yang langsung menyuruh pembaca untuk membeli buku. Kadang dengan kalimat yang ‘berbumbu’, seperti, “Yakin kamu gak mau beli buku ini?” Atau kalimat provokatif, “Segera beli, stok habis hari ini” —- ini kalimat saat pameran atau bazar buku. Sangat banyak variasi dan kreasi hard selling. Namun intinya sama, secara langsung mengajak orang untuk membeli produk.
Nah, jika Anda melakukan proses selling melalui medsos, jangan melulu hard selling. Misalnya, setiap hari Anda selalu memposting konten hard selling. Ini cenderung membuat orang bosan dan jenuh, karena merasa dipaksa membeli setiap hari. Untuk menghindari kesan pemaksaan atau kebosanan, gunakan metoda “sellang selling” (baca selang seling), atau sering diistilahkan dengan “sharing sharing dahulu, selling kemudian”.
Anda harus membuat postingan bervariasi, sehingga ada nilai plus bagi orang untuk mengikuti dan menjadikan pertemanan dengan Anda. Misalnya, Anda posting video yang menarik dan unik, atau mengunggah konten yang berisi tausiyah, dan lain sebagainya. Jadi berselang seling antara soft selling dengan hard selling, agar pembaca postingan Anda tidak boring karena hanya berisi jualan melulu. Inilah metoda “sellang selling” itu.
Direct Selling, Konsinyasi dan Reseller
Direct selling artinya kita menjual langsung kepada pembeli, dengan beragam cara. Ada cara lama, datang dari rumah ke rumah, atau mendatangi perkumpulan untuk berjualan. Bisa pula direct selling dengan teknologi japri. Memposting konten jualan di grup whatsapp, boleh dilakukan. Namun akan lebih menukik jika dikirim japri ke nomer pribadi. Jika Anda tidak kenal dengan pemilik nomer, bersiaplah untuk mendapatkan tanggapan berupa kemarahan. Jika itu terjadi, minta maaflah.
Konsinyasi, artinya Anda menitipkan buku ke toko buku atau kepada lembaga yang bersedia menjualkan buku Anda. Pihak toko buku akan menjualkan buku Anda, dan Anda mendapatkan bayaran sesuai dengan jumlah buku yang terjual. Selain toko buku ‘resmi’, ada pula lembaga atau tempat yang menjual buku di waktu tertentu. Seperti masjid besar yang membuka lapak setiap hari Jumat dan setiap ada kajian. Biasanya mereka juga menerima konsinyasi.
Selling dengan sistem reseller artinya Anda memiliki jaringan pemasaran, yang langsung terhubung dengan Anda. Pengertian reseller adalah perusahaan atau perorangan yang membeli suatu barang atau jasa dari produsen atau distributor, dengan tujuan menjualnya kembali ke konsumen akhir untuk memperoleh keuntungan. Dikatakan pula, reseller adalah suatu aktivitas perdagangan dimana seseorang atau perusahaan membeli barang/ jasa bukan untuk dikonsumsi sendiri melainkan dijual kembali ke end user untuk mendapatkan sejumlah keuntungan dari selisih harga beli dan jual.
Anda bisa membangun jaringan reseller dan membina mereka untuk menjual buku Anda. Tentu memerlukan waktu dan kesungguhan, namun cara ini bisa efektif untuk menjualkan produk yang hendak Anda jual, termasuk buku. Jika jumlah reseller yang bisa Anda bangun sudah mencapai ratusan apalagi ribuan, Anda harus menyiapkan sistem yang bagus untuk membuat mereka loyal kepada Anda.
Model direct selling, konsinyasi maupun reseller, semuanya adalah pilihan yang bisa Anda lakukan bersamaan. Bukan untuk dipertentangkan, namun untuk dilakukan sesuai kondisi, situasi dan kemampuan.
Sharing Pengalaman Praktis Menjual Buku Sendiri
Saya menyarankan Anda untuk menyimak pengalaman pribadi Bang Yudisrizal, dalam menjual buku perdana beliau yang berjudul “Pelajaran Sederhana Luar Biasa”, terbitan Gramedia tahun 2017. Pengalaman beliau bisa menjadi inspirasi berharga bagi para penulis yang ingin menjual bukunya sendiri. Silakan dibaca dengan seksama, tulisan beliau berjudul Delapan Cara Jitu Menjual Buku ala Yudisrizal, melalui link ini. Sangat inspiratif.
Selamat berkarya, selamat menjual buku. Tetap produktif selama #StayAtHome. Semangat #WriteFromHome. Mari #LawanCorona bersama-sama.
Bahan Bacaan
Yudisrizal, Delapan Cara Jitu Menjual Buku ala Yudisrizal, di web www.birokratmenulis.org, 19 April 2018.

Terimakasih pencerahannya.
Saya pernah mau bikin buku, dari mulai administerasi, ijin, biaya cetak dll diminta menyiapkan 25 juta. Bila mau, akan dapat buku 2000 exemplars.
Saya hitung misal bisa laku semua satu buku 12.500, menurut saya murah. Bila laku separonya 1000. Maka satu buku 25.000. Bira laku seperempatnya maka ongkos cetak 1 buku 50.000.
Pertanyaannya berapa exemplar potensi lakunya? Dan akhirnya tidak berani lanjut.
Salam
Adji Soegiatno