20 September 2026

Serial SHSB “Seratus Hari Satu Buku”

Oleh : Cahyadi Takariawan

“People love stories. It’s one of the basic truths of humanity — we always respond to a compelling story. Keep this knowledge in your toolbox!” — Hannah Frankman, 2017

Tersebutlah seorang ibu bermata satu yang sangat dibenci anak kandungnya sendiri. Anak itu merasa malu memiliki ibu bermata satu. Setiap hari ia mendapat ejekan dari teman-teman sekolahnya. Ia merasa tertekan dan ingin segera keluar dari rumah agar tidak berhubungan lagi dengan ibunya.

Keinginan si anak tercapai, ia mendapat beasiswa ke Singapura. Akhirnya ia studi, dan menetap di sana.

Suatu ketika ibu bermata satu menjenguknya di Singapura. Namun si anak kandung mengusir ibu pergi.

Setahun kemudian, si anak pulang ke Indonesia untuk suatu urusan. Ia melewati rumah ibunya. Tetangga yang mengenalnya memberikan sepucuk surat kepadanya dan mengatakan bahwa ibunya telah meninggal.

Segera ia baca surat tersebut.

“Anakku tercinta aku memikirkanmu setiap saat. Maafkan Mama, jika membuat kamu malu di hadapan teman-temanmu dulu. Semoga kamu mengerti bahwa pada waktu kamu masih kecil, Mama tak sanggup melihat anak Mama tumbuh dengan satu mata saja, jadi Mama berikan satu mata untukmu. Aku bahagia karena kamu akan memperlihatkan seluruh dunia untukku, dengan mata itu. With love, Mama.”

Bukan Untuk Dibaca

Semoga Anda pernah membaca buku “Bukan Untuk DIbaca” karya mbak Deassy M. Destiani. Kisah di atas adalah salah satu bagian yang ada dalam buku tersebut. Bagaimana cara mbak Deassy mendapatkan sangat banyak kisah inspiratif yang dikompilasi dalam buku tersebut?

Ia sangat rajin mengumpulkan berbagai kisah yang beliau dapatkan dari grup mailing list —model komunikasi zaman dulu, sebelum marak smartphone dan medsos. Mbak Deassy mengumpulkan semua kisah yang didapatkan dari berbagai sumber, termasuk dengan berselancar di dunia maya.

Sebelum akhirnya menjadi buku laris, kumpulan kisah tersebut ia print out dan difotocopy, untuk dibagi secara gratis kepada sahabat-sahabat beliau. Saya termasuk yang mendapatkan fotocopy-an tersebut dan membaca isinya. Maka saya rekomendasikan agar naskah itu diterbitkan melalui PT Era Adicitra Intermedia.

Tak menyangka, buku setebal 490 halaman itu super laris. Sangat cepat habis dan segera cetak ulang terus menerus, dan disusul dengan buku jilid dua dan tiga dengan tema yang sama. Hingga saat ini sudah ada tiga buku Bukan Untuk Dibaca, sampul hitam, sampul putih dan sampul merah.

Pertanyaan penting, mengapa buku itu sangat laris? Padahal mbak Deassy belum pernah membuat buku sebelumnya, dan isi buku itu ‘hanyalah’ kumpulan kisah yang didapat dari berbagai sumber?

Salah satu jawabannya adalah, karena kebanyakan manusia senang dengan cerita positif.

Ini yang disarankan oleh Hannah Frankman (2017), tulislah cerita. Mengapa? “People love stories. It’s one of the basic truths of humanity — we always respond to a compelling story. Keep this knowledge in your toolbox!” ujarnya.

Manusia tidak bosan dengan kisah berhikmah. Ini juga pelajaran dari Al-Qur’an, bahwa isinya lebih banyak kisah. Ternyata kisah mampu meneguhkan keyakinan, kebenaran dan kebaikan. Maka tulislah kisah, ini akan menjadi sangat menarik.

Jika Anda tak mampu menulis atau mengarang sendiri, lakukan seperti mbak Deassy telah melakukan. Kumpulkan, dan posting. Anda telah menebar kebaikan, Anda telah memposting pahala yang akan terus mengalir sepanjang masa.

Kisah untuk Postingan SHSB

Anda masih ingat rumus postingan untuk program Seratus Hari Satu Buku (SHSB)? Ya, tiap pagi dan sore Anda harus memposting satu tulisan di Facebook atau Instagram, dengan jumlah karakter pada kisaran 900 hingga 1.000 karakter setiap postingan.

Kisah ibu bermata satu di atas, yang saya tulis ulang dari buku mbak Deassy, berjumlah 931 karakter. Nah, sudah pas untuk menjadi satu postingan positif di Facebook atau Instagram Anda. Mudah banget kan? Siapa yang masih mengatakan SHSB itu sulit?

Anda hanya harus rajin mengumpulkan kisah positif dari kiriman teman di grup WA, atau kiriman teman di Facebook, Instagram, atau searching dari berbagai web dan blog terpercaya. Bisa juga Anda ciptakan kisah sendiri dari pengalaman dan pengamatan Anda. Bisa juga Anda tuliskan kisah yang Anda dengar dari orang lain.

Coba saya hadiahkan satu kisah positif lagi, yang bisa bisa menjadi salah satu postingan untuk SHSB. Simak kisah Arthur Ashe berikut ini, dan lihat berapa jumlah karakternya.

Belajar Positif dari Arthur Ashe

Arthur Ashe (1943 – 1993) adalah petenis kulit hitam dari Amerika, juara dunia Wimbledon (1975). Pada tahun 1979 ia terkena serangan jantung yang mengharuskannya menjalani operasi bypass. Setelah dua kali operasi, bukannya sembuh ia malah harus menghadapi kenyataan pahit, terinfeksi HIV melalui transfusi darah yang ia terima.

Seorang penggemarnya menulis surat kepadanya, “Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit itu?”

Ashe menjawab, “Di dunia ini ada 50 juta anak yang ingin bermain tenis, di antaranya 5 juta orang yang bisa belajar bermain tenis, 500 ribu orang belajar menjadi pemain tenis profesional, 50 ribu datang ke arena untuk bertanding, 5000 mencapai turnamen grandslam, 50 orang berhasil sampai ke Wimbeldon, empat orang di semifinal, dua orang berlaga di final”.

”Dan ketika saya mengangkat trofi Wimbledon”, lanjut Ashe, “Saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan : Mengapa saya? Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan : Mengapa saya?”

Lihat, betapa positif sikap hidup Ashe. Begitulah semestinya sikap kita menghadapi setiap keadaan dalam kehidupan.

Jumlah : 964 karakter.

Kisah Arthur Ashe di atas saya ambil dari web Lockdown2020. Silakan mencari sebanyak mungkin kisah dari berbagai sumber. Jangan lupa, tuliskan sumbernya, sehingga Anda tidak dituduh plagiat.

Kisah positif, adalah salah satu postingan yang menarik minat baca. Kelak ketika telah terkumpul dalam seratus hari, menjadi buku yang menarik dan tidak terbatas masa. Bisa cetak ulang terus menerus, seperti buku Bukan Untuk Dibaca.

#SeratusHariSatuBuku

#SHSB

Bahan Bacaan

Deassy M. Destiani, Bukan Untuk Dibaca, Era Adicitra Intermedia, Solo, 2017

Hannah Frankman, Six Rules for Writing a Good Article, www.hannahfrankman.com, 13 Desember 2017

8 thoughts on “Belajar Membuat Postingan Kisah Positif

  1. Tulisan yang lagi-lagi menginspirasi untuk mengajak menulis. Mungkin denan membaca tulisan Bapak saya akan menulis. Terima kasih atas motivasinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *