19 September 2026

Bagian Kedua

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Your readers have a right to see the best parts of the story play out in front of them. Show the interesting parts of your story, and tell the rest” –Joe Bunting, 2021.

.

Menulis itu mudah, namun menulis cerita yang bagus tidaklah mudah. Perusahaan besar seperti Pixar, rela menghabiskan banyak waktu dan biaya untuk bisa menghasilkan cerita-cerita yang hebat untuk film mereka. Normalnya pembuatan cerita untuk film Pixar memerlukan waktu sampai enam tahun (Joe Bunting, 2021).

Bagaimanakah langkah membuat cerita yang bagus? Berikut saya nukilkan pengalaman Joe Bunting, bagaimana ia menghasilkan cerita-cerita yang berkualitas. Joe Bunting berbagi sepuluh rahasia agar cerita yang Anda tulis bisa lebih bagus.

Ini lanjutan dari postingan sebelumnya, yang telah membahas poin pertama hingga ketiga. Sekarang lanjut poin keempat dan kelima.

4. Showing, Bukan Telling

Dalam menulis cerita, gaya showing akan sangat mengena dibandingkan dengan telling. Tentu saja ini berlaku untuk cerita yang memberikan cpace naskah cuku panjang. Misalnya sebuah cerpen sepanjang 3.000 sampai 5.000 kata. Apalagi untuk novel 50.000 kata. Sangat leluasa.

Kadang kita menulis cerita superpendek. Misalnya cerpen tiga paragraf (pentigraf), yang sangat terbatas jumlah kata dan karakternya. Tentu tidak bisa leluasa menggunakan gaya showing jika space yang sediakan sangat terbatas. Harus rela menggunakan lebih banyak telling.

Gaya telling bercorak abstrak dan tidak melibatkan pembaca untuk berimajinasi bebas. Pembaca diberikan kesimpulan tentang apa yang diceritakan, tanpa diajak untuk mengolah informasi dalam cerita. Pembaca telah diajak memiliki kesimpulan yang sama dengan penulis.

Sedangkan gaya showing bersifat lebih konkret, dan secara aktif melibatkan pembaca untuk berimajinasi bebas menggambarkan karakter, sifat, atau kejadian dan peristiwa. Dengan demikian, showing memerlukan lebih banyak kata atau kalimat, dibanding telling.

Showing berusaha menciptakan gambaran dari dunia konkret ke alam pikiran pembaca sehingga menjadikan karakter atau cerita semakin hidup –disertai imajinasi pembaca. Showing mengajak pembaca ikut mengolah apa yang disampaikan penulis dan bahkan mengambil kesimpulannya sendiri.

“When something interesting happens in your story that changes the fate of your character, don’t tell us about it. Show the scene! Your readers have a right to see the best parts of the story play out in front of them. Show the interesting parts of your story, and tell the rest” –Joe Bunting, 2021.

Contoh gaya telling, “Cenna, gadis muda belia itu, berparas cantik jelita”.

Contoh gaya showing, “Memiliki bentuk wajah oval, dengan hidung mancung, bibir tipis, alis mata melengkung dan bulu mata lentik, membuat Cenna menjadi wanita yang diidamkan banyak pria. Rambutnya yang berurai sebahu, kulit putih mulus dan tinggi badan ideal, terlihat penampilannya kian sempurna”.

Dengan gaya telling, penulis telah menyimpulkan, bahwa Cenna adalah gadis yang cantik jelita. Pembaca akan menerima kesimpulan itu tanpa terlibat mengolah informasi dalam benaknya.

Sementara dengan gaya showing, penulis menggambarkan wajah Cenna secara konkret, dan memindahkan ke alam pikiran pembaca untuk diolah dengan imajinasi bebas. Pembaca akan membayangkan, dan bisa sampai kepada kesimpulan yang sama —bahwa Cenna adalah gadis yang cantik jelita. Pembaca tidak disodorkan sebuah kesimpulan, namun bisa mengambil kesimpulan sendiri.

5. Hadirkan Dialog yang Baik

“Good dialogue comes from two things: intimate knowledge of your characters and lots of rewriting” –Joe Bunting, 2021.

Menurut Joe Bunting. dialog yang baik datang dari dua hal. Pertama, pengetahuan mendalam tentang karakter Anda sendiri, dan kedua banyak menulis ulang. Yang dimaksud adalah, karakter yang “gue banget”, karakter yang sesuai dengan value Anda sendiri.

Setiap tokoh yang Anda hadirkan harus memiliki karakter yang unik. Untuk memastikan semua tokoh tampil secara berbeda, baca ulang dialog setiap karakter dan tanyakan pada diri Anda, “Apakah ini terdengar seperti karakter saya?” Jika jawaban Anda tidak, maka Anda harus menulis ulang.

Secara teknis penulisan, Bunting menyarankan untuk menggunakan “katanya”. Buntig menilai, ungkapan “dia berseru,” atau “dia memberi tahu,” atau “dia berbicara dengan keras”, justru mengganggu dan tidak perlu. Penggunaan “dia bertanya” sesekali waktu, tidak masalah.

“Also, with your speaker tags, try not to use anything but “he said” and “she said.” Speaker tags like “he exclaimed,” “she announced,” and “he spoke vehemently” are distracting and unnecessary. The occasional “he asked” is fine, though” –Joe Bunting, 2021.

Selamat menulis cerita. Selamat mengubah dunia.

Bahan Bacaan

Joe Bunting, Ten Secrets To Write Better Stories, https://thewritepractice.com, diakses 24 Agustus 2021

1 thought on “Bagaimana Menulis Cerita yang Bagus?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *