19 September 2026

 .

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Ada sebuah puisi pendek tentang buku, yang sangat inspiratif. Ditulis oleh seorang pelukis bernama Jeihan, di tahun 1973. Saya kutipkan puisi tersebut, yang dimuat dalam buku karya Jakob Sumardjo, Sajak Filsafat Jeihan Bukuku Kubuku (2010).

..

Buku

Karya : Jeihan

.

bukuku

kubuku

.

1973 

..

Puisi Jeihan tersebut, disyarah oleh mas Bambang Trim dengan ungkapan “buku adalah kubu”. Buku adalah kubu yang menunjukkan keberadaan kita. Anda berada di kubu mana? Akan tampak dari buku Anda.

Coba tulis pendapat Anda tentang urgensi vaksinasi di masa pandemi. Jadikan tulisan Anda sebagai buku, maka akan segera tampak Anda berada pada kubu yang mana? Karena, melalui buku Anda dapat menguraikan dengan detail pemikiran, pendapat, ide, pengalaman, perasaan, ataupun kegelisahan.

Mochtar Lubis mengatakan, “Senjata kukuh yang berdaya debat hebat untuk melakukan serangan maupun pertahanan terhadap perubahan sosial, termasuk perubahan nilai-nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan, adalah buku.” Artinya, melalui buku kita dapat terlibat dalam berbagai perubahan kemanusiaan dan kemasyarakatan.

Mengenal Buku Antologi

Di antara jenis buku yang banyak kita jumpai di toko buku maupun perpustakaan adalah antologi. Ini merupakan salah satu jenis buku yang memiliki nilai kelebihan tersendiri. Apakah yang dimaksud dengan antologi?

Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan pengertian kata antologi sebagai kumpulan karya tulis pilihan dari seorang atau beberapa orang pengarang. Sedangkan menurut Wikipedia Bahasa Indonesia, antologi, secara harfiah diturunkan dari kata bahasa Yunani yang berarti “karangan bunga” atau “kumpulan bunga”, adalah sebuah kumpulan dari karya-karya sastra.

Awalnya, definisi ini hanya mencakup kumpulan puisi (termasuk syair dan pantun) yang dicetak dalam satu volume. Namun, antologi juga dapat berarti kumpulan karya sastra lain seperti cerita pendek, novel pendek, prosa, dan lain-lain.

Dalam pengertian modern, kumpulan karya musik oleh seorang artis, kumpulan cerita yang ditayangkan dalam radio dan televisi juga tergolong antologi. Pengertian antolohi berkembang dengan luas.

Apakah Kumpulan Tulisan Banyak Orang Layak Disebut Buku?

Sebuah pertanyaan klasik, apakah kumpulan tulisan banyak orang layak disebut sebagai buku? Mas Bambang Trim adalah salah satu contoh tokoh literasi yang menolak menyebut sebagai buku.

“Mengapa saya menolak antologi disebut buku?” ujar mas Bambang Trim. “Antologi yang ditulis beramai-ramai hanya memberi ruang sempit bagi pemikiran dan perasaan kita. Itu sama saja dengan menulis sebuah artikel atau esai –tidak memberikan ruang kontemplasi bagi pembaca yang cukup luas”, jawabnya.

Tentu saja kita menghormati pandangan beliau, sebagai tokoh literasi. Namun dalam konteks populer, kumpulan tulisan banyak orang bisa disebut sebagai buku, dengan jenis buku antologi. Demikian pula kumpulan tulisan dari satu orang, bisa disebut sebagai buku antologi.

Pada dasarnya, buku antologi berisi kumpulan tulisan.  Oleh karena itu, bisa ditulis oleh satu orang maupun oleh banyak orang. Apabila tulisan satu orang dikumpulkan dari beragam media, atau dari berbagai kurun waktu, bisa disebut pula sebagai buku. Contohnya antologi cerpen yang ditulis oleh satu orang, yang ditulis dalam kurun waktu tertentu, seperti Antologi Cerpenku (1990 – 2000), Antologi Cerpenku (2001 – 2010), dan sebagainya.

Jadi buku antologi tidak selalu menunjukkan ditulis secara keroyokan oleh beberapa orang penulis. Memang yang paling dikenal oleh masyarakat luas, buku antologi itu adalah kumpulan dari tulisan banyak orang, bukan satu orang.

Istilah buku antologi kerap digunakan untuk menyandingkan dengan istilah buku solo atau buku yang ditulis oleh satu orang. Hal ini sah saja disebut sebagai buku dan mendapatkan ISBN. Unsur-unsur pembentukan buku, bisa terpenuhi dalam sebuah buku antologi yang ditulis oleh banyak orang.

Menulis Buku Antologi

Pada tulisan kali ini, saya membatasi antologi sebagai buku yang ditulis oleh beberapa orang. Proses pembuatan buku antologi dimulai dengan pengumpulan naskah dari para penulis, dilanjutkan dengan proses editing atau penyuntingan naskah, dan penerbitan buku.

Buku antologi memiliki banyak fungsi dan manfaat secara intelektual, emosional dan sosial. Manfaat intelektual, mampu mengeksplorasi berbagai pandangan intelektual para penulis sesuai disiplin ilmu atau latar belakang masing-masing. Satu tema, misalnya terkait pandemi, dipadang dari multi disiplin ilmu. Pembaca akan mendapatkan kekayaan sudut pandang.

Manfaat sosial, sebuah buku antologi bisa merekatkan persahabatan dari para kontributor. Mungkin satu angkatan kuliah, atau alumni sekolah menengah, atau satu komunitas, yang membuat kenangan bersama dalam bentuk tulisan. Maka buku antologi telah menautkan semua penulis dalam ikatan emosional. Mereka terajut dalam suasana emosional, mengabadikan kebersamaan dan kenangan.

Bagaimana menulis buku antologi? Ikuti prosesnya dalam postingan selanjutnya.

Bahan Bacaan

Bambang Trim, Buku Adalah Kubu, www.bambangtrim.com, 4 September 2017

Jakob Sumardjo, Sajak Filsafat Jeihan: Bukuku Kubuku, Jeihan Institute, Bandung, 2010

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *