20 September 2026

Oleh : Meivany Yuanita Azarini

“Menulis, selain bisa mengobati luka batin diri kita sendiri, juga dapat bermanfaat bagi orang lain.”

Ada banyak manfaat dari menulis, salah satunya sebagai healing. Healing berasal dari bahasa Inggris yang artinya sembuh.

Kata healing memiliki kontek yang beragam, tetapi merujuk pada penyembuhan. Dalam bahasa gaul bermakna sesuatu yang kita lakukan yang bisa menghilangkan ras sedih, galau ataupun beban yang sedang kita hadapi.

Namun, walaupun menulis bisa menyembuhkan luka batin, masih banyak yang merasa kesulitan untuk menulis. Banyak juga yang mengatakan, “Aku tidak bisa menulis” atau ada yang mengatakan, “Tulisanku tidak bagus.”

Mereka lupa, sedari kecil sudah terbiasa menulis diari, catatan harian. Hampir setiap hari mereka meluapkan curahan hati di buku harian. Hal itu sebenarnya sudah menjadi latihan menulis. Latihan mengungkapkan kata, latihan bercerita, karena sejatinya, menulis itu adalah bercerita melalui tulisan.

Kita mungkin tak pandai berbicara di depan orang banyak. Kita juga mungkin tak biasa curhat pada orang lain, bercerita tentang gundah gulana yang sedang kita hadapi. Namun, begitu menemukan kertas dan pena, mengalirlah semua perasaan, mengalirlah semua emosi.

Begitu selesai menulis, hilang sudah gundah gulana, hilang sudah ganjalan yang tadi mampir di hati. Tertuang melalui tulisan.

Contoh Menulis Sebagai Healing

Banyak orang telah membuktikan kalau menulis itu bisa menghilangkan kesedihan. Salah satu contohnya dialami putri sulung saya dan temannya.

Waktu anak sulung saya pertama kali masuk pesantren selepas lulus sekolah dasar, ia hampir menangis setiap minggu ketika jadwal menelepon tiba. Ia mengatakan belum punya teman, ia terbiasa bercerita kepada saya setiap pulang sekolah. Ia bercerita dari A sampai Z.

Kini, ia tak punya teman bercerita. Ia sedih. Esoknya, saya kirim buku diari. Saya suruh ia menulis semua yang ingin diceritakan kepada saya. Pun sebaliknya, saya juga menulis untuknya, menulis tentang keseharian saya. Sehingga ketika waktu penjengukan tiba, kami saling bertukar buku diari untuk saling baca.

Efektif, putri sulung saya terbantu sekali dengan adanya buku diari itu. Ia menumpahkan gundah gulananya di buku diari. Ia tulis semua yang ingin ia ceritakan kepada saya. Sedikit banyak tekanan yang ia hadapi sebagai murid atau penghuni baru di tempat yang sama sekali asing baginya berkurang.

Cerita lain, ada seorang santri yang juga mengalami tekanan berat. Ia tidak bisa bercerita kepada temannya yang lain, karena masalah yang ia hadapi sangat pribadi. Masalah internal keluarganya. Sehingga mengakibatkan santri itu depresi berat.

Suatu ketika saya bertemu dengan santri itu dan saya usulkan untuk menulis buku diari. Di sanalah tempat di mana ia bebas bercerita. Tumpahkan semua yang dirasa tanpa khawatir rahasia keluarganya terbongkar. Tak lama santri itu berhasil dari keterpurukan, alhamdulillah.

Bagaimana agar bisa menulis sebagai healing?

Seperti kisah putri pertama saya dan temannya, mereka menuliskan semua kisahnya dalam diari. Hal yang sangat mudah untuk menemukan obat kesedihan.

Dari kisah mereka, kita bisa memulai. Cobalah untuk menulis. Minimal menulis di buku catatan harian, buku diari. Jika merasa tak bisa mengungkapkan kepada orang lain, cobalah ungkapkan melalui tulisan.

Pada mulanya kita akan mengalami kesulitan menulis. Jangan khawatir semua orang mengalami hal yang sama yakni kesulitan memulai menulis. Dengan sering menulis, yakinlah lama-lama akan terbiasa.

Tulisan kita pun selain bisa meng-healing diri kita sendiri, suatu saat bisa menginspirasi dan menjadi “healing” bagi orang lain juga.

Selamat menulis!

Biodata Penulis :

Penulis bernama Meivany Yuanita Azarini. Selain sebagai penulis, ia pun berprofesi sebagai dokter gigi. Karya perdananya berjudul “Merawat Duka Menyemai Cinta.”

Medsos : FB, Meivany Yuanita Azarini, IG : drg.meivany_azarini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *