.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“It’s easy to see the success of others online and think you’re a failure. That you’re not good enough. That you’re not fast enough. You’re thirty, forty, fifty years old, still without a book deal, and you wonder if all your effort has been for nothing” –Brian Rowe, 2021.
.
Beberapa waktu lalu, saya memosting tulisan berjudul Hidup adalah Pilihan bagian pertama. Tulisan tersebut merespon pertanyaan Uni Mardhiyan Novita saat berlangsung workshop kepenulisan di Perpustakaan Bung Hatta, Bukittinggi Sumatera Barat, 6 – 8 Juni 2022 lalu.
Inti pertanyaan Uni Dhiyan adalah semacam kemandegan –bahwa sudah banyak menulis namun selalu ragu untuk memublikasikan. Selalu berpikir sisi kualitas, sepertinya semua naskah yang telah ditulis tidak sesuai harapan. Ia memilih status quo, membiarkan naskah-naskah menumpuk tanpa dipublikasikan.
Seperti sudah saya nyatakan dalam tulisan ‘Hidup adalah Pilihan’, maka semua dari kita berhak memilih. Apakah memilih untuk selalu publikasi, sembari belajar memperbaiki kualitas tulisan. Ataukah memilih untuk menunggu hingga benar-benar memiliki naskah nan cetar membahana. Tak ada yang salah dengan memilih salah satu dari keduanya.
Pertanyaan pentingnya adalah, apakah seorang penulis harus memiliki sangat banyak karya agar bisa terkenal dan melegenda? Ternyata tidak. Penulis tidak diukur dengan jumlah karya tulis, sebagaimana pengusaha rumah makan Padang tidak diukur semata dari jumlah rumah makan yang dimiliki.
Menjadi Legenda Dunia Hanya dengan Dua Karya
Mari saya ajak Anda belajar kepada Harper Lee, seorang legenda dalam dunia sastra. Kita semua tahu, seumur hidupnya, Harper Lee hanya menghasilkan dua karya. Namun justru mendapatkan predikat sebagai penulis paling berpengaruh di abad ke-21. Ini bukti bahwa kualitas seorang penulis tidak diukur oleh jumlah buku yang berhasil diterbitkan.
Bernama lengkap Nelle Harper Lee, ia lahir pada 28 April 1926 di Alabama, Amerika Serikat. Lee pernah belajar di Universitas Alabama di Tucaloossa. Saat kuliah, Lee menulis untuk media mahasiswa dan menjadi editor majalah kampus, Rammer Jammer. Dari pengalaman inilah Lee menemukan bahwa ia memiliki kemampuan menulis.
Buku pertama karya Lee ditulis tahun 1960 berjudul ‘To Kill A Mockingbird’, menjadi best seller dan mendapatkan penghargaan Pulitzer pada tahun 1961. Novel ini juga dinobatkan sebagai buku sastra klasik yang paling berpengaruh di dunia. Produser film tertarik untuk mengangkat kisah dalam novel tersebut ke layar lebar dengan judul yang sama.
Film yang diproduksi oleh Robert Mulligan dan Alan J. Pakula ini berhasil mendapatkan penghargaan dari Academy Awards. Bintang Hollywood Gregory Peck, John Megna, Frank Overton, Rosemary Murphy, Ruth White, Brock Peters, Estelle Evans, dan James Anderson membuat film To Kill a Mockingbird semakin berkelas.
Pada tahun 2005 buku karya Harper Lee ini masih mendapatkan penghargaan Los Angeles Public Literally Award. Lee pribadi juga mendapatkan penghargaan Presidential Medal of Freedom dari presiden George Walker Bush pada tahun 2007, dan di tahun 2010 ia juga mendapatkan National Medals of Arts dari Presiden Obama.
Lee menerbitkan novel kedua berjudul ‘Go Set A Watchman’ pada tahun 2015, atau 55 tahun setelah terbitnya buku pertama. Buku ini langsung terjual sebanyak 1,1 juta kopi pada pekan pertama penjualannya. Setahun setelah menerbitkan buku keduanya, pada 19 Februari 2016, Lee meninggal dunia di tanah kelahirannya.
Harper Lee : “I’m a slow worker; I’m a steady worker”
“I’m slowly but surely working toward my dream because I know one day I’m going to make it. I don’t care if it takes another ten years and lots more manuscripts. I don’t care if I’m working a little bit slower than everybody else” –Brian Rowe, 2021.
Harper Lee menyatakan dirinya sebagai pekerja yang lamban, atau semacam ‘pekerja tetap’. Namun, apakah dalam menulis dan menghasilkan karya tulis diukur dengan kecepatan? Tentu saja tidak.
Saya selalu menyatakan, kembali kepada tujuan yang kita tetapkan masing-masing. Anda berhak menetapkan target berbentuk jumlah buku dalam satuan waktu. Misalnya, dalam satu tahun harus menerbitkan minimal dua buku. Maka Anda akan berjuang mengejar target penulisan dua buku dalam satu tahun.
Sebagian dari Anda menyatakan, saya tidak akan membuat buku, namun akan selalu produktif menulis melalui blog atau media sosial. Targetnya adalah satu tulisan ringan setiap hari, yang diterbitkan melalui media sosial. Ini juga sah saja, karena masing-masing kita memiliki alasan dan tujuan tersendiri. Tak harus sama dengan orang lain.
Saking lambannya cara kerja Lee dalam menulis, ia hanya menghasilkan dua novel di sepanjang karier menulisnya. Namun keduanya mencapai best seller, dan membuat Lee menjadi salah satu legenda dalam karya sastra. Bukan karena banyaknya jumlah buku yang berhasil diterbitkan. Namun dari kualitas yang berhasil dihadirkan untuk pembaca.
Terjebak Perlombaan Semu di Media Sosial
“One of the hardest things about being a writer now is having such easy access to social media to see how much faster it’s taking for other writers to find success. You’re slowly working away on a new manuscript, and boom, there are five more authors you follow on Twitter who just signed new big publishing deals or landed new literary agents” –Brian Rowe, 2021.
Menurut Brian Rowe, salah satu hal tersulit untuk menjadi penulis di zaman sekarang adalah kemudahan akses ke media sosial. Dengan cepat kita bisa melihat seberapa cepat waktu yang dibutuhkan penulis lain untuk menemukan kesuksesan. Menengok Twitter, Facebook, Instagram, Tiktok atau Yaoutube, dengan mudah kita terhubung dengan orang lain.
Di saat Anda sedang dengan perlahan-lahan mengerjakan naskah baru, tiba-tiba ada lima penulis yang Anda ikuti di Twitter menyatakan baru saja menandatangani kesepakatan dengan penerbitan mayor. Anda merasa terpukul, atau mungkin merasa malu.
“Sangat mudah untuk melihat kesuksesan orang lain secara online dan berpikir Anda gagal,” ujar Rowe. Ketika membaca postingan penulis lain bahwa mereka sudah menerbitkan buku, atau mereka sudah habis terjual, dengan mudah Anda merasa gagal. Postingan orang lain di media sosial telah membajak dan memengaruhi semangat Anda dalam berkarya.
“Bahwa Anda tidak cukup baik. Bahwa Anda tidak cukup cepat. Anda berusia tiga puluh, empat puluh, lima puluh tahun, masih belum memiliki kontrak penerbitan buku, dan Anda bertanya-tanya apakah semua usaha Anda sia-sia”, ungkap Rowe.
“Take a breath. Calm down. Relax. It’s okay if you’re not a writing superstar by the time you hit thirty. I’ve written twenty-one novels in ten years, and now at the age of thirty-six, I still have no traditionally books in the world or much that I’ve written that truly qualifies as a success. And you know what? I’m okay with it” –Brian Rowe, 2021.
Maka jangan baper. Tarik napas panjang. Tenanglah. Santai saja. Jangan cemas dan jangan tegang. “Tidak masalah apa-apa jika Anda bukan seorang penulis superstar pada saat Anda mencapai usia tiga puluh,” ugkap Rowe. Jangan sampai Anda patah semangat karena prestasi orang lain yang lebih melejit.
“Saya telah menulis dua puluh satu novel dalam sepuluh tahun, dan sekarang pada usia tiga puluh enam, saya masih tidak memiliki buku-buku populer; atau tulisan yang benar-benar memenuhi syarat sebagai sebuah kesuksesan”, ujar Rowe. Apakah adamasalah dengan halitu? “Saya baik-baik saja dengan itu”, ujar Rowe.
“Perlahan tapi pasti saya bekerja menuju impian. Saya tahu suatu hari saya akan berhasil. Saya tidak peduli jika perlu sepuluh tahun lagi dan harus lebih banyak menulis manuskrip. Saya tidak peduli jika saya bekerja lebih lambat dari orang lain”, ungkap Rowe.
“Don’t feel like you have to be a fast writer to be a success. As long as you put in a little bit of work every day and stay consistent, you’ll be well on your way to a completed manuscript and potential success in the near future” –Brian Rowe, 2021.
Rowe menyarankan, jangan merasa harus menjadi penulis cepat untuk bisa sukses. “Selama Anda melakukan sedikit pekerjaan setiap hari dan tetap konsisten, Anda akan baik-baik saja di jalan menuju karya tulis yang lengkap dan potensi kesuksesan dalam waktu dekat”, saran Rowe.
Bagaimana dengan Anda? Sudah siap menghasilkan karya?
Bahan Bacaan
Brian Rowe, 5 Quotes by Harper Lee to Make You a Better Writer, https://writingcooperative.com, 5 Maret 2021
Tutur Literatur, Harper Lee: Penulis yang Dicintai Dunia, https://kumparan.com, 22 Mei 2017
