19 September 2026

Ilustasi gambar hasil olah Canva (Sri Rohmatiah)

“Mencintai menjadi alasan mengapa menulis tak pernah henti.” Sri Rohmatiah

Bagi teman-teman yang menikmati masa remaja tahun 90-an tentunya masih ingat lagu yang sering dibawakan AB Three dan Dewi Yull “Terus Berlari” yang ditulis oleh Neno Warisman.

Lagu tersebut isinya tentang semangat Neno Warisman untuk terus bekerja, bekerja, bekerja, menulis, menulis dan menulis. Itulah yang tertulis dalam bukunya yang berjudul “Matahari Odi Bersinar karena Maghfi”.

Saya tidak akan membahas tentang isi buku tersebut, tetapi akan mengambil semangat Neno Warisman menetapkan hati untuk terus menulis.

Syair lagu “Terus Berlari” juga menular kepada saya. Setiap harinya saya hanya ingin menulis dan menulis.”

Sebelum berkisah bagaimana bisa saya terus menulis tak pernah henti. Tidak ada salahnya teman-teman mengetahui penggalan lagu yang penuh semangat tersebut.

“…. Ku akan terus berlari, kuikuti matahari, semangat hidupku tak akan pernah mati, kupacu semangatku sampai akhir nanti …”

Walaupun lagu itu telah lama, tetapi masih terasa semangatnya. Terlebih ketika mengikuti Kelas Menulis Online Alineaku dan Emak Punya Karya dengan mentor Pak Cahyadi Takariawan dan Bu Ida Nur Laela.

Dari beliaulah ilmu-ilmu kepenulisan saya tangkap dan terapkan. Beliau juga merupakan inspirator pertama untuk terus menulis.

Tidak mudah untuk tetap menulis setiap hari karena walaupun aktivitas saya di rumah sebagai ibu rumah tangga, pekerjaan tak pernah henti.

Bagaimana saya bisa terus menulis?

Setelah menikah saya terlena dengan zona nyaman dan aman. Setelah 17 tahun berada di dunia tersebut, hati berontak, pikiran ingin menuju harapan lain.

Dari situlah keinginan belajar menulis mulai muncul. Tidak berjalan mulus, proses belajar menulis penuh drama terutama dari anak-anak dan suami. Mereka merasa terabaikan dengan aktiviitas baru emaknya.

Namun, dengan berjalan waktu, kedua anak saya dan suami mendukung, bahkan dari mereka pula gagasan dan ide membuncah setiap harinya. Seperti artikel-artikel yang saya tulis, 70 persen berkisah tentang anak-anak masa kecil dengan tingkah polah yang tak mudah dimengerti. Buku pertama dan kedua, ide datang dari kehidupan suami yang difabel.

Mereka pula lah menjadi alasan saya terus menulis. Lantas bagaimana saya bisa menulis tanpa henti setiap harinya.

1. Mencintai Proses Menulis

Mencintai apapun, kita ingin selalu dekat. Mencintai menulis, yang kita pikirkan dan ingin kita lakukan tentunya menulis, menulis dan menulis. Walaupun banyak aktivitas sehari-hari, kita akan mencuri waktu untuk menulis artikel, cerpen, berita.

Dengan mencintai tentunya tanpa pamrih. Kita tidak berharap apapun dari menulis kecuali kebaikan, kemanfaatan. Ketika mencintai, tidak ada alasan untuk meninggalkan atau meminta syarat.

Kita pun seirama dengan apa kata Pak Cahyadi, “Menulis semudah bernapas.”

Lalu, bagaimana jika sesak napas?

Untuk mengobati sesak napas, tentunya mencari pengobatan yang tepat. Begitu pun dengan menulis. Jika banyak kendala dalam menulis, perbanyaklah membaca, diskusi di kelompok menulis, jika masih terasa berat, bergurulah di kelas menulis.

2. Tetapkan Tujuan Menulis

Setiap melakukan sesuatu tentu ada harapan dan tujuan yang ingin dicapai. Untuk mencapainya renungkanlah lagu “Terus Berlari”.

Kita tidak bisa duduk diam menikmati kenyaman untuk mencapai tujuan. Berlari, berlari terus berlari, Jika ingin istirahat, jedalah sebentar, tetapi jangan terus rebahan apalagi terlelap hingga bermimpi. Mimpi itu hanya ilusi, jika dibayangkan, kita tidak akan sampai pada tujuan.

Untuk terus menulis, sepantasnya kita tetapkan tujuan. Ada banyak tujuan menulis dan setiap individu tentu akan berbeda. Namun, pada umumnya tujuan menulis karena ingin nama kita abadi. Hal ini selaras dengan Pramoedya Ananta Toer.

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” (Pramoedya Ananta Toer)

Apa yang kita dapatkan dari menulis?

Bahagia. Jawaban sederhana, tetapi luas maknanya. Dengan menulis kita bahagia bisa silaturahmi. Dengan menulis kita bahagia berbagi pengalaman dan kebaikan.

Para peneliti pun menemukan bahwa orang-orang dari setiap sudut dunia menilai kebahagiaan lebih penting daripada hasil pribadi yang diinginkan lainnya, seperti kekayaan, jabatan.

Mengutip dari psychologytoday, para peneliti menemukan bahwa mencapai kebahagiaan biasanya melibatkan ketidaknyamanan yang cukup besar. Bahagia itu tidak datang ujug-ujug, kita harus melewati kegelisahan demi kegelisahan.

Jadi jangan menyerah jika dalam proses menulis ada sedikit kekacauan, kebingungan mendapat ide, keraguan menuangkan.

Semua proses tersebut nantinya akan lberlalu dan kita akan mendapat hasil yakni kebahagian karena telah berhasil melewatinya.

Setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk mencapai kebahagian. Akan tetapi jika ingin bahagia dengan menulis, dengan senang hati, mari menulis dan menulis di ruang menulis bersama Pak Cah.

Semoga bermanfaat.

Salam literasi

Sri Rohmatiah

Sri Rohmatiah, Alumni KMO Alineaku Batch 31, Alumni EPK 2, Penulis produktif di Kompasiana.com, GuruPenyemangat.com, Wartawan Metasatu.com, Wartawan Jatimsatunews.com. Presiden Kantin Emak Produktif (Kepo)

2 thoughts on “Agar Tak Berhenti Menulis

  1. Jika sudah ‘klik’ dengan menulis. Maka menulis sudah menjadi “nadi” dari aktivitas sehari-hari.

  2. Maasyaallah tabarakallah. Semangat dan kegigihan kak Sri memang luar biasa. Baarokallah mak.Good job

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *