Oleh : Kantin Emak Produktif
(1)
Apabila diri divonis sakit, tak perlu menjadi panik. Sakit bukan suatu kehinaan, melainkan cara Allah menyayangi agar tetap menyukuri.
Untuk tetap mensyukuri atas apa yang telah Allah beri Allah hanya ingin melihat hamba-Nya terus meminta, bahkan memohon penuh harap. Lalu dia hadapi dengan penuh keridaan diri dan Allah gugurkan dosa-dosanya.
–Syasha Lusiana
(2)
Ilmu yang bermanfaat merupakan salah satu amal jariyah yang terus mengalirkan pahala bagi orang yang mengupayakannya, meski ia telah tiada.
Menulis buku menjadi sarana efektif untuk mengabadikan ilmu, mewariskan pengetahuan kepada generasi setelah kita. Terlebih buku ilmiah, yang sudah jelas menunjang pembelajaran.
Menulis buku ilmiah memiliki struktur dan standar baku tertentu yang harus dipenuhi. Bagaimana memulainya? Langkah awal, banyaklah membaca dan menganalisa tulisan para pakar disiplin ilmu yang kita minati. Jangan lupa, luruskan niat, agar mendapat rida Ilahi. Iqro bismi Rabbikalladzii khalaq.
–Yulia K Rohima
(3)
Adakalanya, kelelahan menerpa di tengah perjalanan. Lelah, bukan hal salah. Ia hanya pertanda kita perlu istirahat, bukan sinyal untuk berhenti. Jangan sekali-kali berhenti melangkah tersebab lelah. Berhentilah, jika engkau telah sampai ke tujuan.
–Junayda
(4)
Tersenyumlah, bila itu bisa membuatmu bahagia dan membahagiakan orang lain. Tersenyum ternyata bisa mengubah susana hati. Bila sedang marah, coba paksakan untuk tersenyum, tarik sudut bibir ke atas maka rasakanlah emosi yang meluap mulai mencair. Tersenyum juga bisa mencairkan hubungan yang memanas antara orang yang bertikai. Mari kita tebarkan senyum.
–Meivany Azarini
(5)
Handphone dapat dimanfaatkan untuk mensyi’arkan jalan kebaikan dan lebih mendekatkan diri pada Allah, misalnya, tadabur Al-Qur’an, hadis, dzikir dan berdo’a, jika sedang tidak membawa mushaf (asal tidak di tempat terlarang).
Jika ada yang membaca postingan kita, maka kita pun panen pahala tanpa mengurangi pahala orang yang membacanya.
Dari Abi Mas’ud ‘uqbah bin Amir Al Anshari r.a. Rasulullah saw., “Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya.” (H.R Muslim imarah No. 1893, H.R Tirmidzi al-ilmu No. 2673).
–Dewi Indrayati
(6)
Usaha dan doa telah kita jalani, maka kepasrahan itulah jalan terakhir dalam menghadapi masalah. Kepasrahan kepada Allah Swt. itu bukan berarti kita kalah, tetapi justeru jalan pembuka simpul-simpul kesulitan menuju terbukanya penyelesaian masalah yang dihadapi.
–Wydiesti
(7)
“Seorang hamba yang muslim melakukan salat sunnah yang bukan wajib karena Allah, sebanyak dua belas rakaat dalam setiap hari, Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah (istana) di surga.” Kemudian Ummu Habibah r.a berkata, “Setelah aku mendengar hadits ini aku tidak pernah meninggalkan salat-salat tersebut.”
Selagi sehat, kuat mari kita coba berusaha melaksanakannya, sebagai ibadah tambahan untuk menutupi kekurangan pada ibadah-ibadah yang lainnya.
–Dede Nurjanah
(8)
Ramadan tinggal beberapa hari lagi, sebentar lagi Syawal akan menjelang. Selagi masih ada waktu dan kesempatan maksimalkan waktu yang ada untuk mengejar target amal yang tertinggal agar tidak terjadi penyesalan.
Tarikan dunia dan persiapan menyambut Idhul Fitri kadang melalaikan kita dari upaya optimalisasi Ramadan dan menggapai indahnya malam Laelatul Qodar.
Teringat sabda Rasulullah saw.,
Ibnu Umar r.a. berkata, “Suatu saat Rasulullah saw memegang pundakku sambil bersabda.”Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau penyeberang jalan.””
Selanjutnya Ibnu Umar r.a berkata, “Jika engkau di waktu sore janganlah menunggu hingga pagi, apabila engkau di waktu pagi jangan lah menunggu hingga sore. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum engkau sakit dan pergunakanlah waktu hidupmu sebelum engkau mati.” (diriwayatkan oleh Imam Bukhari)
–Nur Pujiasih
(9)
“Jangan tertipu oleh angan-angan bahwa engkau akan berumur panjang, hingga melewatkan kesempatan yang datang. Saat kesempatan itu hilang, penyesalan tak lagi berguna. Boleh jadi, Ramadan tahun ini adalah kesempatan terakhirmu, maka janganlah disia-siakan.“
–Atifah Saleha
(10)
Rasanya seperti baru saja mengucapkan ahlan wa sahlan wa marhaban ya Ramadan. Tidak terasa dia akan segera pamit. Bulan yang mulia itu akan meninggalkan kita.
Satu hal yang harus kita renungkan di akhir Ramadan adalah apakah amalan kita diterima oleh Allah? Atau malah sebaliknya, tertolak tiada nilai?
Ibnu Rajab berkata, “Para ulama salaf biasa bersungguh-sungguh dalam menyempurnakan amal dan bersungguh-sungguh ketika mengerjakannya. Setelah itu, mereka sangat berharap amalannya diterima dan khawatir bila tertolak.”
Kita hanya bisa berharap dan memperbanyak doa, semoga Allah menerima setiap amalan kita di bulan Ramadan dan mempertemukan kita kembali dengan bulan yang penuh berkah ini. Aamiin
–Dwi Isnaini

(12)
“Ruh dari Iktikaf adalah hati yang fokus kepada Allah, mengumpulkan hati kepada-Nya, berkhalwat kepada-Nya, memutuskan hubungan dengan makhluk dan menyibukkan diri hanya dengan-Nya.” (Imam Ibnul Qayyim)
“Sampai dia merasa tenteram dan bahagia tatkala dia berduaan kepada Allah yang biasanya dia rasakan tatkala bersama makhluk, yang dengan demikian dia akan mempersiapkan dirinya untuk bisa merasa tenteram dengan Allah ketika dalam kubur di mana tidak ada teman ketika itu.” (Zaad al-Ma’ad 2/107)
Di sepuluh hari tersebut (akhir Ramadan) seseorang hendaknya mengkhususkan waktunya untuk fokus kepada Allah Swt. dan memaksimalkan ibadah kepada-Nya
–Nunun Nurlaila
(13)
Saat tertimpa musibah terkadang kita menganggap diri apes, sial, celaka, terkena guna-guna, sihir, atau kesurupan. Sebagai makhluk berakal, sesungguhnya kita sedang diajak berpikir oleh Allah, bukan hanya agar musibah itu tidak terulang kembali, tetapi ada banyak kebaikan yang bisa digali dari musibah itu sendiri.
Bisa jadi musibah itu teguran agar kita lebih arif dalam memperlakukan orang lain dan alam sekitar.
–Eli Halimah
(14)
Hasil itu penting tapi proses lebih penting. Selaraskan antara hasil dan proses.
Hasil yang baik harus dilalui dengan proses yang baik pula. Ibarat mengharap buah yang baik tentunya di dapat dari bibit yang baik
–Ifah Latifah
(15)
Ramadan mengajarkan kita untuk konsisten melakukan ibadah. Mulai dari puasa yang dilakukan secara terus menerus selama sebulan penuh, Qiyamullail, membaca Al-Qur’an dan kebaikan-kebaikan lain.
Setiap kebaikan yang dilakukan secara konsisten, meskipun terlihat sepele maka dia akan tumbuh dan berkembang.
“Barangsiapa yang konsisten pada suatu titik, maka dia akan tumbuh. Benih sebagus apapun jika ditanam, lalu dicabut, kemudian ditanam lalu dicabut lagi, maka dia tidak akan tumbuh.” (Ustad Nuzul Dzikri)
–Leni Cahya
(16)
Setiap manusia pernah mengalami tersakiti karena lisan, hingga lukanya bagai tersayat sembilu. Hanya karena lisan itulah semua menjadi runyam. Jagalah lisan untuk indahnya kehidupan
–Hellen Patraliza
(17)
Hak dan kewajiban tak dapat dipisahkan. Untuk mendapatkan hak, kita mesti melaksanakan kewajiban terlebuh dahulu.
Pantaskah kita menuntut hak pada Allah Swt, sedangkan kewajibannya masih belum dipenuhi?
Yuuk, penuhi kewajiban, mumpung Ramadan masih menemani nafas kita.
–Khuriyatul Ainiyah
(18)
“Keluarga Allah dari kalangan manusia adalah mereka yang senantiasa dekat dan mengamalkan Al-Qur’an.”
Agar menjadi keluarga Allah, interaksi kita dengan Al-Qur’an seharusnya semakin kuat di bulan Ramadan. Yuk manfaatkan hari-hari terakhir Ramadan ini untuk banyak berinteraksi dengan Al-Quran.
Apakah sahabat mau jadi keluarga Allah?
***
Kita semua dilahirkan sebagai seorang pemimpin bukan pemimpi. Pemimpin dan pemimpi hanya beda satu huruf saja yaitu huruf “n”.
“Seorang pemimpin adalah mereka yang menjadi pemimpi dan berusaha untuk mengubahnya menjadi nyata.”
–Dwi Handayanti
(19)
Sering kali ketika ingin melakukan langkah-langkah besar dalam hidup, langsung memvonis diri tidak bisa atau tidak mungkin. Padahal belum memulai, belum melakukan apa-apa.
Ketakutan yang sebenarnya ada pada pikiran yang membuat diri ciut menghadapi sesuatu dan selalu sibuk memikirkan kekurangan diri.
Teruslah berubah ke arah kebaikan dan bekerja dengan tulus semata karena Allah. Cukup Allah satu-satunya pelindung dan penolong bagi kita semua.
–Warlinah
(20)
Sesungguhnya jika seseorang puas, senang dan bahagia melakukan sesuatu, maka ia tidak akan ‘ngeh’ sudah berkorban. Itulah yang dinamakan keikhlasan.
Dengan ikhlas, berkorban bukan lagi pengorbanan atau mengorbankan diri, tetapi menjadi kemulian diri.
“Berkorban tentu berat, maka ringankanlah dengan tanpa pamrih. Sebagaimana jerih payah seorang ibu merawat anak-anaknya. Lelah, tanpa imbalan, tetapi ia tak merasa sudah berkorban. Maka, ikhlaslah.“
–Tatiek R Anwar
++
Berbakti kepada kedua orang tua merupakan perintah Allah Swt. dalam Al-Quran surah An Nisa : 36 yang artinya, “Sembahlah Allah dan jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.”
Juga di dalam ayat Al-Quran surah Al-Isra : 23 artinya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.”
–Ayu Muliyati
++
Mengharap kepada siapa supaya tidak kecewa?
Hanya Allah muara segala do’a, sertakan ketakutan dan pengharapan akan karunia yang pasti sempurna. Jika itu musibah disempurnakan dengan kesabaran sebagai penawar. Jika itu kebahagian disempurnakan dengan kesyukuran.
–Puspa Mafazan
++
Budaya Jawa punya banyak akronim dan pepatah yang othak-athik-mathuk. Salah satu yang menarik terkait peran generasi.
“Simbok kanggo tombok.
Simbah kanggo tambah.”
Sepertinya plesetan kalau dalam bahasa anak sekarang. Kenyataannya tidak. Ungkapan di atas sarat filosofi. Simbok alias ibu, adalah orang yang rela memberikan apa saja untuk kebahagiaan anak.
Tombok itu menutupi kerugian. Ibu tak menghitung, berapa yang harus dia korbankan demi kesuksesan anak. Tombok dengan bahagia.
Adapun ‘simbah’ alias nenek tugasnya nambahi.
Menurut kalian, apa makna ‘nambahi’ di sini?
–Ida Nur Laila
++
Pada Ramadan ini, tak ada yang lebih aku takuti, dibandingkan dosa-dosa yang tidak terampuni. Tak ada yang lebih aku takuti, dibandingkan amal yang tidak diterima Ilahi. Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan, “Tatkala sangat banyak pengampunan dosa di bulan Ramadan, maka siapa saja yang tidak mendapati pengampunan tersebut, sungguh dia telah terhalangi dari kebaikan yang banyak.”
Ya Allah, aku berlindung dengan keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan pemaafan-Mu dari hukuman-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah. Disahihkan Syaikh Al-Albani).
–Cahyadi Takariawan

Maasyaallah tabaarakallah sungguh syarat dengan ilmu. Banyak sekali nasihat kebaikan yang di suguhkan.Jazaakumullah khoir makkeposemua. Syukran katsiran Makbunda Ida Nurlaila dan ustadz Cahyadi Takariawan. Barakallahufiikum.