20 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

The greatest obstacle to my writing career has always been me” –Kathy Gottberg.

.

Salah satu tenaga dan energi besar yang harus disiapkan oleh setiap penulis –terutama penulis pemula, adalah mengatasi kendala dalam dirinya sendiri. Dalam dunia tulis menulis, sesungguhnya tak akan ada yang bisa menghalangi dan menghambat Anda. Semua penulis akan berkarya dan berkembang sesuai dengan kemampuannya mengtasi hambatan dalam dirinya sendiri.

Kathy Gottberg, penulis Positive Aging dan puluhan buku lainnya menyatakan, “Hambatan terbesar untuk karir menulis saya adalah saya sendiri”. Ungkapan ini menunjukkan, Anda tidak akan dihalangi orang lain untuk tumbuh dan berkembang dalam kemampuan menulis.

Memang ada banyak orang yang suka memberikan komentar atau penilaian negatif terhadap semua tulisan. Namun komentar dan penilaian negatif mereka tak akan membunuh kemampuan menulis Anda. Komentator itupun tak akan bisa menulis sebaik yang mereka kritikkan kepada Anda. Maka Anda berhak untuk mengabaikan komentar negatif, jika komentar mereka mengganggu ketenangan Anda.

Mengatasi Rasa Rendah Diri

“Young writers tend to overestimate their skills, then when they realize just how far they are from writing at a professional level, they get discouraged or think they’re bad writer” –Donna Cook.

Banyak penulis pemula atau mereka yang masih muda usia dalam proses menulis, mengalami hambatan berupa rasa rendah diri. Merasa terbanting saat membandingkan karya tulisnya dengan karya tulis orang lain yang dianggap lebih hebat dan lebih berkualitas.

Bisa jadi, awalnya mereka adalah orang yang sangat bersemangat dalam menulis. Bahkan beberapa orang di antara mereka melebih-lebihkan kemampuan yang mereka miliki –seakan lebih hebat dari penulis lain yang lebih senior. Hal ini disebabkan oleh semangat yang sangat besar, dan belum melihat ‘rimba literasi’ yang dipenuhi para jawara kepenulisan.

Seperti yang diungkapkan Donna Cook, penulis buku Emotions in Motion dan puluhan bukulainnya, “Penulis muda cenderung melebih-lebihkan keterampilan mereka. Ketika mereka mulai menyadari betapa jauh dari profesional, mereka berkecil hati atau berpikir bahwa mereka adalah penulis yang buruk”.

Padahal seharusnya tidak perlu berpikir demikian. Sebab yang diperlukan adalah kemampuan untuk menghadapi perasaan rendah itu sendiri. Memang memerlukan waktu, namun hasilnya akan sebanding. “Tidak begitu”, ujar Donna Cook. “Hanya butuh waktu untuk mempelajari sesuatu yang begitu kompleks dan canggih. Mendorong melewati puncak itu sulit bagi beberapa penulis muda, tetapi penting dan sepadan,” lanjutnya.

“Not so. It just takes time to learn something so complex and advanced. Pushing past that hump is hard for some young writers, but important and worth it” –Donna Cook.

Persoalan yang sensitif dalam dunia tulis menulis adalah bab membandingkan. Yaitu membandingkan tulisan kita dengan karya para maestro yang telah hebat dalam dunia kepenulisan. Dampaknya, merasa terbanting. Merasa tak berharga. Merasa tak bermakna. Muncullah rasa rendah diri dan tak percaya diri.

Maka jangan bandingkan tulisan Anda dengan tulisan mereka. Mereka telah menempuh asam garam dunia kepenulisan dan berhasil eksis setelah melewati aneka badai. Kita baru saja menapaki. Bagaimana mungkin akan dibandingkan?

Mengetahui Ada Banyak Teman Anda

By no means am I the only one who’s put in hours of work that have yielded no results. It’s never easy, looking at all those documents, knowing how much time went into them and that nothing will come of it. But, that’s how writing goes” –Joshua Isard.

Jika Anda merasa kesulitan dalam menulis, jika Anda merasa kesulitan dalam menciptakan karya berkualitas, ketahuilah –Anda tidak sendirian. Ada sangat banyak teman Anda merasakan kesulitan yang sama. Maka tidakperlu malu danmerasa rendah diri. Karena Anda tidak sedang sendiri.

Joshua Isard, penulis buku Conquistador of the Useless menyatakan, “Sama sekali bukan saya satu-satunya yang bekerja berjam-jam dan tidak membuahkan hasil. Tidak pernah mudah, melihat semua dokumen itu, mengetahui berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk itu dan tidak ada hasil yang didapat. Tapi, begitulah menulis”.

Terkadang untuk menghasilkan satu karya tulis, memerlukan waktu berhari-hari, berpekan-pekan, berbulan-bulan, dengan hasil yang masih jauh dari harapan. Rasanya telah mengeluarkan waktu dan tenaga yang sangat banyak, untuk sebuah karya yang belum bisa dibanggakan. Suasana ini dialami oleh sangat banyak penulis. Jadi jangan merasa rendah diri, karena ada banyak yang mengalami.

“Chuck Palahniuk mengatakan bahwa menulis adalah seni membuang-buang halaman. Jika dia berpikir demikian, tidak apa-apa bagi kita untuk membuang banyak halaman juga, dan tidak membiarkan hal itu membebani kita,” lanjut Joshua Isard. Tidak perlu bersedih jika banyak halaman yang sudah kita tulis harus kita revisi.

“Chuck Palahniuk, I think, said that writing is the art of wasting pages. If he thinks so, it’s ok for us to waste plenty of pages as well, and not let that hang over us” –Joshua Isard.

Yang diperlukan adalah daya tahan untuk terus menerus menulis. Terus menerus berusaha menghasilkan karya terbaik. Seiring berjalannya waktu, perbaikan kualitas pasti akan Anda dapatkan. Yang penting Anda tidak berhenti dan menepi.

Bahan Bacaan

Colleen M. Story, 30 Quotes to Boost a Writer’s Spirit, https://writingandwellness.com, 26 Desember 2016

1 thought on “Menjaga Spirit Menulis – 2

  1. Bismillah. Siap untuk bertahan menjalani kesulitan dalam kepenulisan. Syukran katsira ustadz Cahyadi Takariawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *