19 September 2026

.

Oleh : Khuriyatul Ainiyah (Alumni KMO Basic Alineaku)

“Mulailah menulis dengan niat, maka Anda akan menjadi penulis” –Khuriyatul Ainiyah, 2022.

.

“Apabila benar kemauannya maka terbukalah jalannya”. Pepatah terjemahan dari bahasa Arab tersebut bukanlah isapan jempol belaka. Petuah itu menjadi motivasi bagi seseorang yang mempunyai cita-cita atau keinginan.

Apapun itu jika niat dan kemauannya jelas dan sungguh-sungguh maka tak ada yang mustahil. Kesungguhan niat akan membuka jalan menuju cita-cita. Seperti halnya dengan menulis. Menjadi seorang penulis juga tergantung bagaimana kesungguhannya mengelola niat.

Niat yang sungguh-sungguh adalah modal utama seorang penulis jika ingin menciptakan sebuah karya,  buku misalnya. Jika ada seseorang menyangsikan kemampuan dirinya bisa membuat buku, maka patut dipertanyakan kesungguhan niatnya.

Seperti halnya saya, dulu ketika berada di toko buku dan menyaksikan buku-buku berjajar di pajang di rak buku, dalam hati mengatakan, “Wah, hebat sekali seorang penulis buku ya, bisa mengumpulkan ratusan bahkan ribuan kata, rasanya hanya orang-orang pilihan yang bisa menulis buku-buku seperti ini”.

Waktu itu saya dan anak-anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar mencari buku-buku bacaan di toko buku. Setelah belasan tahun yang lalu, hari ini dan setelah anak-anak telah lulus kuliah, Alhamdulillah (justru) saya bisa menciptakan buku sendiri.

Pandemi Membawa Berkah Tersendiri

Seperti mengenal dunia baru, materi dan teori yang langsung dipraktekkan menjadi pengalaman yang luar biasa” –Khuriyatul Ainiyah, 2022.

Berawal dari adanya pandemi covid pada tahun 2019 yang lalu menjadikan semua lini kehidupan vacum dari segala rutinitas dan aktivitas. Termasuk di dalamnya dunia pendidikan.

Dalam rangka menghindari penyebaran covid, banyak agenda kegiatan yang tertunda bahkan ditiadakan. Seperti adanya larangan tatap muka dalam pembelajaran karena menghindari kerumunan.

Dunia pendidikan mati gaya, namun demikian pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan mengharuskan pembelajaran tetap berlangsung. Untuk itu pembelajaran moda jaringan internet atau daring menjadi solusi yang tepat. Walaupun sebenarnya banyak kendala dan kekurangan yang terjadi selama pembelajaran berlangsung.

Guru yang terbiasa berinteraksi dengan peserta didik akhirnya cukup berada di rumah dengan melaksanakan pembelajaran dengan moda daring atau Work from Home atau WFH.

Kesempatan luang di rumah inilah yang kemudian mempertemukan saya dengan “Kelas Menulis Online” atau KMO yang dimentori oleh Pak Cahyadi Takariawan. Dari KMO saya berlanjut belajar bersama komunitas EPK “Emak Punya Karya”. Kelas yang secara intensif mengajarkan bagaimana seseorang bukan hanya bisa menulis tapi bagaimana bisa menerbitkan buku sendiri atau buku solo.

Tepat bulan September 2020 saya bergabung di kelas EPK. Dengan bermodal tekad Bismillah saya mengikuti kelas dengan penuh semangat. Seperti mengenal dunia baru, materi dan teori yang langsung dipraktekkan menjadi pengalaman yang luar biasa. Terlebih kita juga dapat  berinteraksi dengan emak-emak dan saling support antara satu dengan yang lain.

Menerbitkan Empat Buku Solo

Keempat buku yang saya terbitkan di atas  adalah hasil dari niat atau tekad yang sungguh-sungguh dalam berkomitmen” –Khuriyatul Ainiyah, 2022.

Alhamdulillah saat ini saya telah menerbitkan empat buku solo. Empat buku  tersebut kini telah terpajang di rak buku rumah saya.

Buku pertama saya lauching tanggal 20 Desember 2020 dengan judul “Fandzuri Aina Anti”. Buku yang berisi tentang bagaimana perjuangan seorang isteri selama delapan tahun mendampingi suami yang sakit akibat kecelakaan.

Bagaimana suka duka menjalani kehidupan sebagai isteri sekaligus perawat bagi suaminya. Keberaniannya memberikan suntikan insulin setiap hari membawanya semakin akrab dengan jarum suntik. Peran ganda yang ia jalani dengan sabar dan penuh keihlasan membawanya menuju dermaga sakinah dalam rumah tangganya.

Selanjutnya buku kedua dilanching pada Juni 2021, buku dengan judul “Setangguh Tetesan Rabiah” ini ditulis selama masa iddah. Suami yang dirawatnya selama delapan tahun dipanggil untuk menghadap Sang Pencipta langit.

Buku kedua ini menceritakan tentang bagaimana seorang Ibu dengan sabar dan penuh keihlasan  menyerahkan buah hatinya kepada orang lain setelah disusuinya selama 40 hari. Diceritakan pula bagaimana seorang ibu menahan kerinduan terhadap buah hatinya, menahan sakit dan perihnya air susu yang seharusnya masih diperuntukkan sang bayi, namun terbuang karena udzur.

Bagaimana perihnya gejolak jiwa ketika ditanya sang kakak, “Mama, kenapa adik dikasihkan orang lain?”, adalah sepenggal kisah nyata  yang dikemas apik dalam sebuah romansa hidup.

Dan Januari 2022 ini buku yang ketiga telah terbit dengan judul “Merajut Aksara Peneman Rindu”, ditulis ketika mengikuti challenge selama Ramadhan. Buku yang mengupas tentang kenangan menjalani hidup bersama suami tercinta.

Mengenang sang mualim kapal yang mengarungi lautan, berlayar dengan harapan dan cita-cita membawa para penumpang dan mengantarkannya menuju puncak ihtiyar. Namun tiba-tiba sang mualim kapal berhenti tersebab udzur, akankah kapal berhenti?

Kedahsyatan cinta dan kerinduan yang mendalam dikemas apik dalam rajutan aksara sebagai peneman rindu. Guncangan asmara dan balutan rindu yang tak tertahan tertuang dalam sebuah tulisan. Semua terangkum apik dalam sebuah buku ketiganya “Merajut Aksara Peneman Rindu”.

Buku keempat berjudul “Seribu Satu Guru Mendidik”, adalah hasil dari komitmen saya ketika menulis di kompasiana “One week one artikel”.  Tulisan yang bergenre edukasi ini kurang lebih ada 33 judul.

Berisi tentang bagaimana cara seorang guru mendidik dan mengantarkan putra-putrinya yang mempunyai karakter berbeda. Bagaimana menangani anak yang suka bolos karena tidak punya sangu, anak yang suka berkata kotor ( misuh) juga anak yang lambat belajar.

Buku ini menceritakan pengalaman penulis ketika berhadapan dengan berbagai macam karakter yang berbeda menjadi sebuah khazanah yang dikemas menjadi sebuah kebaikan. Keempat buku yang saya terbitkan di atas  adalah hasil dari niat atau tekad yang sungguh-sungguh dalam berkomitmen.

Bagaimana Mengatur Waktu Menulis?

Menulis bagi saya menjadi bagian dari mengisi waktu luang, jeda dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain” –Khuriyatul Ainiyah, 2022.

Pertanyaannya, apakah tak ada kesibukan selain menulis? Menulis bagi saya menjadi bagian dari mengisi waktu luang, jeda dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain.

Setiap hari saya mengajar di Sekolah Dasar, sedangkan sore harinya saya  di TPA.  Pagi hari saat jam istirahat saya buka lap-top dan memulai menulis dan berhenti menulis ketika bel masuk pada pelajaran berikutnya.

Malam hari setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, kembali saya membuka laptop untuk menulis. Rutinitas yang saya bangun menjadi habit dan kebiasaan menulis.

Mari mengisi waktu luang kita dengan hal-hal yang bermanfaat, salah satunya dengan menulis. Siapa tahu dari apa yang kita tulis ada kebermanfaatan bagi orang lain. Mulailah menulis dengan niat, maka Anda akan menjadi penulis. Salam sehat selalu, semoga bermanfaat.

1 thought on “Apabila Benar Kemauannya, Terbukalah Jalannya

  1. Luar biasa proses menulis disela-sela rutinitas yang begitu sibuk masih bisa menulis dengan bagus, pengalaman hidup yang bisa diteladani oleh wanita-wanita sholihah yang tangguh dengan berbagai lrofesinya. Terima kasih ibu Khuriyatul Ainiyah semoga Ibu tetap semangat menginspirasi kami

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *