.
Oleh : Nunung Dwi Setyawati (Alumni Kelas Menulis Alineaku)
“Kenyataannya kalau aku tidak menuangkan jatah bicaraku lewat tulisan, malam hari aku tidak bisa tidur nyenyak. Otak terasa penuh, perlu dikosongkan” –Nunung Dwi Setyawati, 2022.
.
Tahu nggak, kenapa aku harus menulis setiap hari? Menulis apa saja yang penting menulis, mengalir saja, tanpa beban. Yah tentang kehidupan sehari-hari seperti yang aku alami di Kepulauan Aru ini.
Kesannya kayak curhat atau seperti nulis buku diary begitu kan, tidak ada isinya. Tetapi ya terserah, ada yang mau baca apa nggak, aku posting saja.
Jawabannya adalah supaya kalau malam aku bisa tidur nyenyak. Lho apa hubungannya?
Menulis Mengosongkan Beban di Ruang Pikiran
“Wanita yang harus membereskan banyak urusan dalam waktu bersamaan dan berbicara lebih banyak adalah untuk menunjang perannya sebagai seorang istri dan juga seorang ibu” –Nunung Dwi Setyawati, 2022.
Sebulan yang lalu aku ikut kegiatan Webinar tentang Keluarga Sakinah, pematerinya Dr. Aisah Dahlan, ahli neurologi.
Dr. Aisah menjelaskan bahwa struktur otak wanita berbeda dengan pria. Setiap hari rata-rata wanita bisa berkomunikasi sekitar 20.000 kata bahkan lebih. Pria hanya bisa berkomunikasi rata-rata 7000 kata per hari. Maka wajar kalau banyak wanita yang lebih cerewet dari suaminya,dan di situlah Maha Adilnya Allah SWT.
Wanita yang harus membereskan banyak urusan dalam waktu bersamaan dan berbicara lebih banyak adalah untuk menunjang perannya sebagai seorang istri dan juga seorang ibu. Bayangkan saja kalau ibu yang sedikit bicara sementara bapak yang banyak bicara, bisa stres tuh anak-anak. Bapak harusnya banyak kerja sedikit bicara.
Terus dampaknya apa kalau istri tidak ada peluang bicara, kayak aku yang tinggal sendiri di rumah? Kalau suami sudah ke kantor, paling kerjaku hanya memasak, menyuci dan bersih-bersih rumah. Tidak ada teman mengobrol, jaringan internet juga kurang bagus.
Akhirnya aku hanya bisa bercerita tentang aktivitas sehari-hari dalam blog terus share di grup keluarga. Dengan demikian suami dan anak-anakku dapat membaca isi hatiku, juga bisa menjadi obat kangen juga, karena kami tinggal berpencar-pencar.
Anak sulung sedang menuntut ilmu di Kairo, yang kedua belajar di pondok pesantren, yang ketiga tinggal di asrama dan dua orang lagi di rumah, di Kota Masohi. Aku dan suami tinggal di rumah dinas, jauh di ujung Maluku, perbatasan dengan Australia.
Sekali-kali tulisan curhatan hatiku, aku upload di facebook. Kalau ada yang komen dan menanggapi, wah bahagia sekali. Ternyata aku belum dilupakan. Tetapi kalau tidak ada yang komen yah aku maklumi, karena memang isinya tidak berarti.
Kenyataannya kalau aku tidak menuangkan jatah bicaraku lewat tulisan, malam hari aku tidak bisa tidur nyenyak. Otak terasa penuh, perlu dikosongkan.
Bermula dari Buku Diary
“Menulis di buku diary itu bukan hanya membuat hati lega karena biasa menumpahkan emosi dan menuangkan ide atau keinginan terpendam. Tetapi juga bisa membuat lebih lancar dalam merangkai kata menjadi kalimat yang bermakna” –Nunung Dwi Setyawati, 2022.
Kalau dulu waktu masih duduk di SMP memang aku sudah biasa menulis di buku diary. Biasanya aku menulis sebelum tidur. Aku ceritakan seluruh pengalamanku di sekolah.
Tentang kelakuan teman-teman, tentang Pak Diman yang Killer tapi baik hati, ibu guru Biologi yang bicaranya melengking, atau tentang ibu Sri, guru bahasa Indonesia yang lucu dan enerjik.
Terkadang buku diary juga jadi tempat pelampiasan kekesalan dan kekecewaan. Misalnya ketika keinginanku tidak ditanggapi oleh orangtuaku, atau aku dijahili sama Mas Nanang kakak sulungku.
Menulis di buku diary itu bukan hanya membuat hati lega karena biasa menumpahkan emosi dan menuangkan ide atau keinginan terpendam. Tetapi juga bisa membuat lebih lancar dalam merangkai kata menjadi kalimat yang bermakna.
Kebiasaanku menulis di buku diary akhirnya juga aku ajarkan pada anak-anak gadisku. Agar mereka tidak curhat pada sembarang orang. Dan sungguh luar biasa, dengan biasa menulis di buku diary itu membuat kosa kata anak-anak menjadi bertambah.
Terbukti dalam pelajaran bahasa Indonesia nilai mereka selalu bagus. Juga dalam menuangkan ide dan gagasan, lebih teratur dan runut.
Dan yang tak kalah penting, ketika kita biasa menulis dan memposting di media massa, kita sudah memiliki andil untuk menyebarkan pengalaman dan menambah wawasan pada orang lain. Setidanya cerita kita bisa menjadi pelajaran bagi para pembaca.
Apalagi kalau yang kita tuliskan adalah sesuatu yang bermanfaat, maka sebagi-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain. Maka marilah kita terus menulis demi menyebarkan virus kebaikan pada orang lain.
Masohi, 27 Januari 2022

Nunung Dwi Setyawati, lahir di Temanggung, 10 April 1972. Kini menjadi guru di Masohi Kab. Maluku Tengah, Prov. Maluku

Keren se.angat menulis