20 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

If you wait for inspiration to write you’re not a writer, you’re a waiter” ~ Dan Poynter

.

Salah satu kendala penulis adalah, merasa tidak punya waktu. Padahal, untuk menjadi penulis produktif, Anda harus mengalokasikan waktu khusus untuk melakukannya. Bukan waktu sisa-sisa, namun waktu yang Anda kelola dengan baik dan efektif.

Jika Anda merasa tidak punya waktu untuk menulis, cobalah menelisik waktu-waktu yang Anda miliki. Tanyakan kepada diri sendiri dan jawablah dengan jujur. Benarkah semua waktu Anda sudah habis untuk aktivitas kebaikan dan tidak ada sedikitpun slot untuk menulis?

Tidak adakah 30 menit –dari 24 jam sehari semalam yang Anda miliki, yang bisa Anda gunakan untuk menulis? Jika Anda merasa tidak ada slot waktu 30 menit, tidak adakah sekedar 15 menit untuk menulis? Betulkah semua waktu Anda sudah habis untuk hal-hal lain?

Mengalokasikan Waktu untuk Menulis, Bukan Menunggu Waktu Senggang

An artist, writer, creative does the work because they must. They simply cannot not do it. The storyteller must write stories; the artist must paint; and the songwriter must write songs” –Suzanna Reeves, 2021.

Jika memang Anda memiliki kesibukan yang sangat padat, sekarang mari telisik ulang. Kegiatan apa yang bisa diringkas waktunya. Misalnya, berapa jam jatah tidur Anda? Mungkinkah Anda mengurangi jatah tidur barang 15 menit saja?

Hitung lagi dengan cermat, berapa menit Anda alokasikan waktu untuk makan? Berapa menit Anda alokasikan waktu untuk olah raga? Berapa menit Anda alokasikan waktu untuk mandi dan urusan toilet setiap harinya? Berapa menit Anda alokasikan waktu untuk chatting dengan teman di grup? Berapa menit Anda alokasikan waktu untuk medsos.

Coba Anda lakukan penghematan waktu. Cermati jadwal kegiatan Anda setiap hari, dan lakukan penghematan serta pengurangan jatah. Untuk hal-hal yang bersifat ibadah khusus, tidak boleh dikurangi jatah waktunya –seperti shalat, tilawah, berdoa, berdzikir, dan lain-lainnya. Namun untuk hal-hal teknis dan praktis, bisa coba Anda kurangi jatahnya.

Misalnya, kurangi jatah waktu tidur Anda 10 menit dari biasanya. Kurangi jatah waktu makan 2 menit dari biasanya. Jika sehari Anda makan tiga kali, berarti terkumpul penghematan 6 menit dari urusan makan. Kurangi jatah waktu chatting dan medsos 5 menit dari biasanya. Kurangi jatah waktu mandi / toliet, 1 menit dari biasanya. Jika urusan toilet dan mandi Anda lakukan 4 kali setiap hari, maka ada penghematan 4 menit dari urusan toilet.

Hitung berapa penghematan waktu yang bisa Anda dapatkan? Misalnya 10 menit (pengurangan jatah waktu tidur), ditambah 6 menit (pengurangan jatah waktu makan), ditambah 5 menit (pengurangan jatah waktu chatting dan medsos), ditambah 5 menit (pengurangan jatah waktu mengobrol dengan teman), dan ditambah lagi 4 menit (pengurangan jatah waktu toilet dan mandi). Total ada 30 menit. Nah, ternyata masih bisa kan mengelola waktu, sehingga tersedia 30 menit yang Anda gunakan untuk menulis.

Ini berlaku bagi Anda yang mengaku, bahwa 24 jam sehari semalam sudah full dengan agenda sehingga tidak punya sedikitpun waktu untuk menulis. Dengan mencermati jadwal kegiatan harian, Anda akan bisa melakukan penghematan. Bagian mana dan berapa banyak waktu yang Anda kurangi, tentu bersifat fleksibel sesuai situasi dan kondisi.

Satu Kunci Menjadi Penulis adalah Menulis!

I’ve concluded that if you can’t seem to find the words to write what you want to write, look at something else you have and write about that. Perhaps you just need to free write. Write about whatever comes to your brain” –Leilani Belle, 2021.

 “Jika Anda menunggu inspirasi untuk menulis; Anda bukan seorang penulis, Anda adalah seorang penunggu”, demikian petuah Dan Poynter. Salah satu alasan paling klise yang digunakan untuk membenarkan diri tidak menulis adalah karena tidak memiliki ide atau inspirasi untuk ditulis.

Penulis itu berbeda dengan penunggu. Waiter dalam budaya Barat adalah pelayan restoran atau pelayan toko, yang ‘menunggu’ tamu datang, atau menunggu meja untuk ditempati tamu restoran. Mereka bukan seorang yang melakukan pemasaran aktif, namun tugas mereka menunggu tamu datang untuk dilayani.

Seseorang menjadi penulis adalah karena menulis, bukan karena ia berniat menulis. Seseorang menjadi penulis adalah karena menulis, bukan karena ia menunggu inspirasi atau ide. Seseorang menjadi penulis adalah karena menulis, bukan karena ia menunggu mood. Seseorang menjadi penulis adalah karena menulis, bukan karena ia menunggu kondisi ideal untuk menulis.

Leilani Belle (2021) menyatakan pengalamannya. “Saya telah menyimpulkan bahwa jika Anda tidak dapat menemukan kata-kata untuk menulis, lihat sesuatu yang lain dan tulis tentang itu. Mungkin Anda hanya perlu menulis bebas. Menulis tentang apa pun yang datang ke otak Anda”.

Seseorang menjadi penulis produktif adalah karena ia terus menulis menghasilkan karya tulis. Seperti yang diungkapkan Alison M. Diem (2011), “Yang saya tahu adalah saya ingin menjadi penulis profesional yang diterbitkan, dan untuk itu saya perlu menyelesaikan sesuatu”.

“Sesuatu itu”, lanjut Alison, “perlu menjadi proyek yang dapat saya jual kepada seseorang, siapa saja, dan itu perlu ditulis dengan baik, jumlah kata yang benar, dan dengan pikiran saya sendiri”.

“All I know is that I want to be a professional, published author, and to do that I need to get something done. That something needs to be a project that I can sell to someone, anyone, and it needs to be well written, the correct word count, and in my own voice” – Alison M. Diem, 2011.

Sebenarnya hal ini berlaku secara umum dalam berbagai bidang kehidupan. “Seorang seniman, penulis, kreatif melakukan pekerjaan karena mereka harus. Mereka tidak bisa tidak melakukannya. Pendongeng harus bercerita dongeng; pelukis harus melukis; dan komposer harus menulis lagu,” ujar Suzanna Reeves (2021).

Maka benarlah ungkapan Dan Poynter, “Jika Anda menunggu inspirasi untuk menulis; Anda bukan seorang penulis, Anda seorang penunggu.” Berhentilah menunggu sempurna, atau bintang-bintang akan redup sebelum Anda menyelesaikan tulisan. Menulis sekarang!

Bahan Bacaan

Alison M. Diem, Craft Goals Writing, https://alisondiem.com, 12 Desember 2011

Carol Tice, Be a Writer, Not a Waiter, https://makealivingwriting.com, diakses tanggal 21 Desember 2021

James Clear, The Daily Routines of 12 Famous Writers, www.jamesclear.com

Leilani Belle, Write The Write Way, https://medium.com, 4 Februari 2021

Mel Lee-Smith, Stop Calling Yourself an “Aspiring” Writer, https://www.melleesmith.com,  23 Juni 2017

Suzanna Reeves, Writer or Waiter? https://suzannareeves.com, 19 Mei 2021

1 thought on “Menjadi Writer, Bukan Waiter (3)

  1. Masyaallah begitu berartinya waktu yang tersisa jika di alokasikan untuk selalu produktif menulis. Syukran katsira ustaz Cahyadi Takariawan atas sentilannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *