19 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

If you wait for inspiration to write you’re not a writer, you’re a waiter” ~ Dan Poynter

.

Untuk menjadi penulis produktif, yang harus Anda lakukan adalah rutin menulis setiap hari. Pukul berapa, dimana, menggunakan alat apa, berapa lama, itu semua  kembali kepada Anda masing-masing. Adalah sangat penting menciptakan keteraturan agar Anda memiliki habit menulis yang baik.

Jika Anda sudah menetapkan waktu tertentu untuk menulis, hendaknya Anda mendisiplinkan diri untuk menulis pada waktu tersebut. Anda tidak perlu menunggu sesuatu. Anda hanya perlu mulai menulis.Karena Anda adalah penulis, dan bukan penunggu.

Jangan Menunggu Kondisi Ideal untuk Menulis      

“A writer who waits for ideal conditions under which to work will die without putting a word on paper” –E.B. White.

Dalam proses menulis, Anda tidak perlu menunggu kondisi ideal. Misalnya, pilihan waktu menulis Anda adalah pagi hari. Lalu Anda membayangkan kondisi ideal itu adalah apabila kondisi cuaca terang, sinar matahari tampak cerah, sudah sarapan pagi, suasana sepi, tidak ada keributan, dan lain-lain, maka ini justru membelenggu diri.

Sebagian yang lain, pilihan waktunya adalah malam hari. Lalu ia mengharapkan kondisi ideal untuk menulis adalah suasana hening, sejuk, tidak gerah, angin sepoi, sudah makan malam, tidak terlalu capek, dan sebagainya. Harapan untuk menjumpai kondisi ideal seperti ini, kadang digunakan sebagai alasan untuk tidak menulis.

Bahkan kadang hanya karena alasan yang sangat sepele dan remeh temeh. Misalnya, karena tempat eksklusif yang biasa digunakan untuk menulis di rumah, sedang digunakan untuk kegiatan anggota keluarga yang lain. Atau karena laptop yang biasa digunakan untuk menulis sedang dipinjam anaknya untuk belajar jarak jauh.

Sikap seperti inilah yang harus dihindari. Jangan menunggu kondisi ideal untuk menulis. Jika sudah tiba waktu eksklusif Anda untuk menulis maka menulislah apapun kondisinya. Meskipun harus menghadapi situasi yang tidak ideal, zero toleransi, Anda tetap harus menulis.

Bisa jadi tengah hujan lebat, mungkin belum sempat sarapan, mungkin suasana ruang menulis sedang banyak keributan –tetaplah menulis. Mungkin sedang ada pemadaman listrik di kawasan Anda, atau cuaca sedang gerah, atau tengah kehabisan sediaan kopi kesayangan –tetaplah menulis.

Jangan Menunggu Kondisi Seperti yang Anda Harapkan

E.B. White, penulis buku Charlotte’s Web, Stuart Little dan puluhan lainnya, mungkin termasuk penulis yang ‘konservatif’. Saat banyak orang terbiasa menulis sambil menikmati musik, ia justru menghindarinya. “Saya tidak biasa mendengarkan musik saat sedang menulis. Saya tidak memiliki kesukaan seperti itu”.

Mengapa ia tidak ‘memelihara’ kesukaan tertentu seperti itu? Mungkin, karena khawatir hal itu justru membelenggunya. Sebab, “Saya mampu bekerja dengan baik di antara gangguan rutinitas sehari-hari”. White tidak memerlukan kondisi tertentu di lingkungannya, untuk dapat menghasilkan karya tulis terbaik.

Lihat seperti apa rumahnya. “Rumah saya memiliki ruang tamu yang merupakan inti dari semua aktivitas hidup keluarga. Ruang ini adalah jalan masuk ke bagian bawah tanah, ke dapur, juga ke sudut tempat telepon berada. Lalu lintas ruang ini sangat padat. Namun itu adalah ruangan yang cerah ceria, dan saya sering menggunakannya untuk menulis, meskipun keramaian sedang berlangsung di sekitar saya”.

Karena White bisa menulis di semua kondisi, maka anggota keluarga di rumahnya merasa bebas berekspresi. Meskipun mereka tahu White sedang serius menulis, namun suasana rumah bias-biasa saja. Artinya, semua kegiatan berlangsung secara normal apa adanya. Mereka merasa tidak perlu melakukan tindakan khusus –misalnya, dilarang ribut—saat melihat White sedang menulis.

“Anggota keluarga saya tidak peduli saya sebagai penulis. Mereka bisa melakukan semua kegiatan dan keributan yang mereka inginkan. Jika merasa terganggu, saya punya tempat yang bisa saya datangi”.

Maka White memberikan saran agar penulis tidak perlu menunggu kondisi ideal untuk menulis. Lakukan dalam situasi dan kondisi apapun, meskipun tidak sesuai yang diharapkan. Sebab, “A writer who waits for ideal conditions under which to work will die without putting a word on paper”, ujar White.

Menurut White, seorang penulis yang menunggu kondisi ideal untuk bekerja akan mati (kehabisan waktu) tanpa menulis sepatah kata pun di atas kertas. Ini yang sering saya sebut sebagai “alasan”. Sepanjang Anda tidak beralasan, maka Anda akan selalu produktif menulis. Seperti apapun kondisi yang tengah terjadi.

Bahan Bacaan

Alison M. Diem, Craft Goals Writing, https://alisondiem.com, 12 Desember 2011

Carol Tice, Be a Writer, Not a Waiter, https://makealivingwriting.com, diakses tanggal 21 Desember 2021

James Clear, The Daily Routines of 12 Famous Writers, www.jamesclear.com

Leilani Belle, Write The Write Way, https://medium.com, 4 Februari 2021

Mel Lee-Smith, Stop Calling Yourself an “Aspiring” Writer, https://www.melleesmith.com,  23 Juni 2017

Suzanna Reeves, Writer or Waiter? https://suzannareeves.com, 19 Mei 2021

1 thought on “Menjadi Writer, Bukan Waiter (2)

  1. Penulis bukan penunggu. Walau banyak gangguan yang menghadang, tetap menulis. Walau cuaca tidak mendukung, tetap menulis. Syukran katsira ustaz Cahyadi Takariawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *