19 September 2026

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“When I am working on a book or a story I write every morning as soon after first light as possible. There is no one to disturb you and it is cool or cold and you come to your work and warm as you write” –Ernest Hemingway.

.

Sebagaimana telah saya sampaikan pada beberapa postingan terdahulu, pada dasarnya tidak ada satu cara atau teknik untuk produktif menulis yang bisa berlaku secara umum. Setiap penulis bisa memiliki cara dan teknik yang paling cocok untuk dirinya. Ini seperti yang diungkap oleh Mark D. White, Ph.D.

Namun Bamidele juga mengingatkan, bahwa tidak semua orang berbeda secara keseluruhannya. Selalu akan ditemukan orang-orang dengan sifat dan karakter yang sama atau hampir sama. Selalu ada orang-orang dengan situasi dan kondisi yang sama atau hampir sama. Untuk itu kita bisa saling belajar.

Tips berikutnya untuk bisa produktif menulis, adalah dengan banyak belajar dari para penulis produktif. Mereka sudah terbukti memiliki banyak karya, maka kita belajar kepada mereka bagaimana bisa mendapatkan produktivitas dalam menulis. Tidak semua tips cocok untuk kita, namun akan ada hal yang bisa kita ambil sebagai inspirasi.

Seri # 9 – Belajar Produktif dari Ernest Hemingway

“You read what you have written and, as you always stop when you know what is going to happen next, you go on from there” –Ernest Hemingway.

Kali ini kita akan belajar dari Ernest Hemingway, seorang novelis yang produktif. Siapakah jati dirinya? Mari kita simak.

Ernest Miller Hemingway adalah salah satu penulis terkemuka di abad 20. Novelis kelahiran Illinois pada 1899 ini, ternyata telah suka menulis di koran sekolahnya saat duduk di bangku SMA.

Ia menuliskan pengalaman hidupnya yang luas dalam novel The Old Man and the Sea (1952). Novel yang ditulis saat ia tinggal di Kuba ini memenangi Hadiah Pulitzer 1953 dan Award of Merit Medal for Novel dari American Academy of Letters. Novel ini juga mengantarnya meraih penghargaan bergengsi, Nobel Sastra pada 1954. Sangat banyak novelnya diangkat menjadi film.

Hemingway dikenal sebagai seorang ‘pecinta’ yang berkobar-kobar. Ia menikah empat kali dan menjalin sekian banyak affair dengan perempuan selama hidupnya. Tiga pernikahannya berakhir dengan perceraian. Sebuah anekdot mengatakan bahwa untuk menyelesaikan sebuah novel hebat, ia membutuhkan seorang istri yang berbeda (Audinovic, 2021).

Akhir hidupnya tragis. Ia kecanduan alkohol dan mati bunuh diri. Hemingway merasa depresi setelah kehilangan kemampuan menulis pada usia tuanya. Ia menembak kepalanya sendiri dengan senapan berburu beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang ke-62 di Idaho.

Ternyata, beberapa anggota keluarga dekatnya juga mati bunuh diri. Di antaranya adalah ayahnya, Clarence, dan dua orang saudaranya Ursula dan Leicester. Belakangan cucunya, Margaux Hemingway, seorang aktris, juga bunuh diri (Audinovic, 2021).

Gaya Penulisan Hemingway

“Nothing can hurt you, nothing can happen, nothing means anything until the next day when you do it again. It is the wait until the next day that is hard to get through” –Ernest Hemingway.

Saat menulis cerpen dan novel, Hemingway mengadopsi gaya penulisan jurnalistik. Ini yang membuat tulisannya menjadi berbeda dan menarik perhatian pembaca (Diva Press, 2021). Gaya penulisan jurnalistik cenderung menggunakan kalimat yang pendek agar mudah dicerna pembaca. Teknik inilah yang diadopsi Hemingway dalam menulis fiksi.

Selain kalimat yang pendek, Hemingway juga suka menggunakan paragraf pendek. Ia menghindari membuat paragraf panjang. Hal ini untuk menjaga agar pembaca tidak bosan atau kelelahan saat membaca. Hemingway juga menghindari penggunaan metafora yg bertele-tele.

Hemingway cenderung menggunakan kalimat positif dalam karya tulisnya. Kalimat positif, bagi Hemingway, akan lebih nyaman dan mudah dipahami pembaca. Menurutnya, kalimat negatif sangat menyakitkan bagi pembaca. Kalimat negatif yang dimaksud, adalah yang berkonotasi ‘tidak’ atau ‘bukan’. Ia mengubahnya menjadi kalimat positif.

Contoh kalimat negatif, “Lelaki itu tidak menerima penggusuran rumahnya”. Kata ‘tidak’ adalah sesuatu yang menegasi. Sedangkan gaya kalimat positif yang disukai Hemingway berbentuk, “Lelaki itu menolak penggusuran rumahnya” (Diva Press, 2021).

Teknik Interupsi yang Berguna

“According to a 1935 article Hemingway Penned for Esquire Magazine, when asked “How much should you write in a day?” by a young writer, he replied: “The best way is always to stop when you are going good and when you know what will happen next. If you do that every day when you are writing a novel, you will never be stuck” –Zaria Gorvett, 2019.

Ernest Hemingway bukan hanya novelis papan atas. Ia juga menemukan satu teknik produktivitas, yaitu teknik ‘the useful interruption‘ atau interupsi berguna (Zaria Gorvett, 2019). Pada tahun 1935, Hemingway menjawab pertanyaan dari pembaca di majalah Esquire. Seorang penulis muda bertanya, “Berapa banyak sebaiknya saya menulis dalam sehari?”

Hemingway menjawab, “Cara terbaik adalah berhenti ketika Anda sedang bagus-bagusnya dan ketika Anda tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Jika Anda melakukan itu setiap hari saat menulis novel, Anda tidak akan pernah macet.” Ia meminta si penulis pemula tersebut untuk mengingat rumus ini, dan bahkan menyebutnya nasihat paling berharga yang bisa ia berikan.

Zaria Gorvett (2019) mempertanyakan rumus tersebut. “Apakah nasihat ini manjur?’, tanya Gorvett. Ternyata rumus Hemingway ini mendapat perhatian serius dari Yoshinori Oyama, seorang peneliti dari Universitas Chiba, Jepang. Suatu ketika pada tahun 2017 Oyama duduk-duduk di kafe, mengobrol dengan kawan.

Oyama bercerita, sepanjang hidupnya, ia jauh lebih termotivasi untuk kembali bekerja jika ia meninggalkan pekerjaan saat sedang bagus-bagusnya. Kawannya langsung menyahut, ‘Oh, Hemingway suka melakukan ini”.

“Yoshinori Oyama, the researcher from Japan’s Chiba University was sitting in a café, catching up with a friend, when he had a thought: in his own life, he was much more motivated to get back to tasks if he had left them when they were going well. “My friend was like ‘Oh, Hemingway used to do this!’,” he says” –Zaria Gorvett, 2019.

Setahun kemudian, Oyama mengajak Emmanuel Manalo dari Universitas Kyoto untuk menemukan jawabannya. Mereka berdua melakukan survei dengan melibatkan 260 mahasiswa program sarjana di kelasnya. Penelitian Oyama dan Manalo menemukan bahwa siswa lebih termotivasi untuk menyelesaikan suatu tugas saat mereka hampir menyelesaikannya.

Para peneliti menemukan, mahasiswa yang sisa tugasnya lebih sedikit, secara signifikan lebih termotivasi untuk meneruskan menyelesaikan tugas dibandingkan mereka yang masih punya lebih banyak sisa tugas atau mereka yang bahkan sudah menyelesaikan tugas. Oyama dan Manalo meyakini, optimisme adalah kata kunci untuk memahami hasil studi ini.

“As the researchers expected, the students who had less text left to copy were significantly more motivated to get back into it than those who had more left to do or – oddly – even those who had actually finished their work” –Zaria Gorvett, 2019.

Oyama dan Manalo meyakini, efek ‘interupsi’ yang disarankan Hemingway dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan apa pun, tidak peduli seberapa besar atau kecil tujuan itu. Mereka menyarankan penggunaan efek Hemingway ini sangat berguna di lingkungan pekerjaan dan lingkungan pendidikan.

Para peneliti saat ini sedang meneliti apakah efek Hemingway dapat membantu mahasiswa menyelesaikan gelar PhD mereka. Idenya adalah bahwa dengan membantu siswa untuk membagi pekerjaan mereka, efek Hemingway akan muncul ketika mereka mendekati akhir setiap bagian.

Bagaimana Hemingway Produktif Menulis?

“I write every morning” –Ernest Hemingway.

Dalam sebuah wawancara tahun 1954, Ernest Hemingway menceritakan kebiasaan menulisnya. Ia menyatakan, “Ketika saya sedang menulis sebuah buku atau novel, saya menulis setiap pagi sesegera mungkin setelah muncul cahaya pertama. Tidak ada yang mengganggu, meskipun dingin, akan menjadi hangat saat Anda menulis”.

Disiplin diri, mungkin itu ungkapan yang tepat untuk menggambarkan rutinitas harian Hemingway. Ia menulis “sesegera mungkin setelah muncul cahaya pertama” pada pagi hari. “Mulai menulis pada pukul enam pagi, dan akan berlanjut sampai tengah hari atau sebelum itu”, ujarnya.

Menulis di pagi hari memberinya kesegaran inspirasi. Ia mendisiplinkan diri untuk menulis setiap pagi. Ia bukan tipe burung hantu yang suka menulis di malam hari. Ia termasuk kelompok ayam jago yang suka dengan matahari pagi.

Setelah menulis sejak pagi sampai siang, “Bacalah apa yang telah Anda tulis, kemudian berhentilah ketika Anda sudah mengetahui kisah apa yang akan terjadi selanjutnya. Nanti Anda akan melanjutkan cerita dari sana”, lanjutnya. Ia berhenti sejenak untuk istirahat, di saat ia mengetahui cerita apa yang akan ditulis selanjutnya nanti.

“You have started at six in the morning, say, and may go on until noon or be through before that” –Ernest Hemingway.

“Ketika Anda berhenti menulis, berarti kosong. Jangan pernah pernah kosong, tetapi usahakan selalu mengisi. Tidak ada yang bisa menghentikan Anda sampai hari berikutnya ketika Anda menulis lagi”, ujar Hemingway. Jika berhenti menulis, pastikan tidak dalam keadaan ‘kosong’ –yaitu belum mengetahui kisah apa yang akan Anda tulis selanjutnya.

Jika Anda sudah mengetahui lanjutan kisah yang akan Anda tulis, menghentikan menulis untuk istirahat, membuat Anda tambah bersemangat. Ya, Anda tidak sabar untuk menulis lagi pada keesokan hari. “Penantian sampai hari berikutnya adalah hal yang sulit untuk dilalui,” ujar Hemingway.

Bagaimana dengan Anda? Adakah Anda menunggu besok pagi untuk melanjutkan menulis hari ini?

Bahan Bacaan

Bobby Powers, Ernest Hemingway’s Top 13 Writing Tips, https://writingcooperative.com, 17 Maret 2020

Diva Press, Cara Hemingway Menulis dengan Efektif dan Berkesan, http://blogdivapress.com, diakses 14 September 2021

Jeff Goins, 5 Tips from Hemingway that Will Make You a Better Writer, https://goinswriter.com, diakses 14 September 2021

Maria Puspitasari, 10 Kiat Menulis dari Ernest Hemingway, https://www.bukuindie.com, diakses 14 September 2021

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com

Surabaya Story, Proses Kreatif dan Gaya Sederhana Ernest Hemingway, https://surabayastory.com, 17 November 2018

Vizcardine Audinovic, Ernest Hemingway, https://m.merdeka.com, diakses 14 September 2021

Zaria Gorvett, How to Conquer Work Paralysis Like Ernest Hemingway, https://www.bbc.com, 6 Desember 2019

1 thought on “Agar Selalu Produktif Menulis – 19

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *