19 September 2026

.

Catatan Isoman Hari Ke – 2    

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Sangat banyak masyarakat Indonesia –bahkan dunia, yang hari ini tengah menjalani isolasi mandiri akibat terpapar Covid-19. Tentu kondisi setiap orang berbeda-beda. Ada yang gejala ringan, dan ada yang gejala sangat berat.

Saya pribadi, hari ini Sabtu 7 Agustus 2021 masuk hari kedua isoman. Alhamdulillah kondisi aman terkendali.

Salah satu sebab yang membuat pasien covid semakin terpuruk adalah kondisi mentalnya. Saat seseorang diserang kecemasan, ketakutan, kekhawatiran, yang akan terjadi ada melemahnya imunitas. Daya juang tubuh untuk melawan virus menjadi melemah.

Maka semua orang yang terinfeksi covid-19 harus dengan sadar mengondisikan diri untuk tetap memiliki mental tangguh. Tidak boleh lemah dan bersedih. Tidak boleh cemas dan stress berlebih. Kendalikan diri untuk tetap memiliki kebahagiaan di saat isoman.

Saya tertarik untuk menerapkan konsep ajuan Martin Seligman selama menjalani isoman. Lima aspek yang diyakini bisa memberikan pertumbuhan bagi kebahagiaan, yakni positive emotion (emosi positif), engagement (kelekatan), relationship (relasi yang positif), meaning (kemampuan memberi makna) dan accomplishment (pencapaian / prestasi).

Pada postingan sebelumnya telah saya sampaikan aspek pertama yaitu positive emotion. Simak kembali di sini. Kali ini saya ajak Anda untuk membahas aspek kedua yang mampu memberikan pertumbuhan kebahagiaan, termasuk saat tengah isoman.

Wujudkan Engagement

Engagement adalah sebuah kondisi jiwa yang hanyut menyatu dalam sebuah aktivitas. Seligman menyebut engagement sebagai “being one with the music.” Jika Anda pecinta musik dan tengah mendengarkan musik, maka nikmatilah musik tersebut. Jangan memikirkan hal-hal lain.

Kondisi itulah yang disebut dengan engagement. Kondisi di mana ketika seseorang melakukan sebuah aktivitas, maka seluruh perhatian baik fisik maupun psikis diarahkan secara totalitas terhadap aktivitas tersebut. Saya istilahkan sebagai ‘larut’.

Saat isoman kita sedang ‘dipenjara’, bukan? Selama isoman, makanan dan minuman ditaruh di luar kamar, dan saya akan mengambilnya. Usai makan, semua peralatan kembali saya taruh di luar. Ini untuk mempersedikit interaksi dengan anggota keluarga yang lain.

Jika seseorang merasa dirinya dipenjara di kamar sempit itu –hanya boleh keluar tiap pukul 10 pagi untuk berjemur, maka dunia serasa berhenti. Merasa menjadi orang tidak berguna, merasa dikucilkan, merasa dijauhi, dan ditambah stigma warga masyarakat. Ubah cara pandangmu.

Nikmati saja penjara itu. Nikmati ruang sempitmu, dan ubah menjadi dunia tanpa batas. Saya ‘dikurung’ di kamar ukuran 3 X 4, alhamdulillah cukup luas. Alhamdulillah saya tidak melihat dinding itu. Yang saya lihat adalah dunia yang amat luas.

Engagement itu berarti, saat harus menjalani isolasi mandiri, jalani saja, nikmati saja, melarut dalam ritmenya. Tidak ada gunanya melakukan ‘denial’ –dalam teori Kubler-Ross, atas realitas ini. Semakin Anda menolak, semakin terasa tidak nyaman. Semakin melawan, semakin tersiksa.

Misalnya, seseorang berkhayal dirinya bisa jalan-jalan ke tempat wisata, padahal nyatanya ia sedang berada di kamar saja. Ini tidak engagement. Berhalusinasi yang justru semakin membuat tidak mampu bangkit menjalani penyembuhan.

Ciptakan Keterlarutan Positif

Selama isoman, Anda akan memiliki jadwal rutin mengonsumsi obat dan suplemen. Anda akan diatur pola supan makan. Anda akan diatur pola kegiatan. Semua itu, tinggal menjalani dan menikmati.

Nikmati mengonsumsi obat dan suplemen, karena itu sarana dan usaha kesembuhan. Manusia wajib berusaha sekuat tenaga, dan nikmati usaha itu. Mau mengeluh seperti apapun sudah tidak ada gunanya. Pilihan cerdas adalah menjalani dan menikmati ritmenya.

Anda bisa menciptakan kegiatan rutin yang produktif. Terus berkarya, terus menginspirasi, terus memotivasi selama masa isolasi.  Anda menjadi memiliki waktu untuk menulis, Anda menjadi memiliki waktu untuk mengaji, olah raga, dan hal-hal positif lainnya.

Jika Anda sedang menulis, berkonsentrasilah untuk menulis. Jangan memikirkan hal lain –seperti pekerjaan, ataupun tugas-tugas yang belum selesai. Nikmati proses menulis, sampai Anda larut dalam kenikmatan menulis. Kebahagiaan Anda akan terus bertumbuh.

Jika Anda sedang olahraga di dalam kamar saja, berkonsentrasilah untuk olahraga. Jangan memikirkan hal lain agar Anda larut dalam kenikmatan olahraga. Sangat banyak jenis olah raga bisa dilakukan di dalam kamar. Yang diperlukan adalah kemauan dan kreativitas.

Sama juga dengan ketika Anda sedang beribadah, berkonsentrasilah melakukannya. Shalatlah dengan khusyuk, tadaruslah dengan tenang. Bagi Anda yang mengoptimalkan waktu isoman untuk memperbanyak hafalan Qur’an, nikmatilah dan berkonsentrasilah.

Demikian pula ketika masih bisa menghandle beberapa jenis pekerjaan selama isoman, lakukan dengan konsentrasi –ini yang disebut engagement. Yaitu terkait dengan kehadiran jiwa pada konteks kekinian dan kedisinian. Bahwa Anda tengah melakukan suatu aktivitas sekarang dan di sini, maka nikmati.

Saya masih menikmati menggrinder biji kopi, menyeduh kopi dan menikmatinya di pagi hari. Saya masih bersepeda (statis) pagi dan sore hari. Saya masih menulis tiga artikel setiap hari –satu tema menantu mertua untuk Kompasiana, satu tema tulis menulis untuk Ruang Menulis, dan satu tema konsultan keluarga untuk komunitas Konsultan Keluarga.

Saya masih bisa sharing online setiap hari. Saya masih menghandle kelas membuat buku. Saya masih menjawab pertanyaan online. Semua saya nikmati.

Jika Anda mampu ‘larut’ dalam irama isoman, mampu menciptakan karya, mampu mengubah dinding penjara menjadi jendela dunia tanpa batas, Anda akan bahagia. Anda mampu melawan bosan selama isoman.

Keluarkan Semua Kekuatan

Keluarkan semua daya kreativitas yang Anda miliki. Keluarkan semua kekuatan yang Anda simpan. Gunakan untuk menghadapi masa-masa sulit isoman dengan kebahagiaan.

“People are more likely to experience flow when they use their top character strengths. Research on engagement has found that individuals who try to use their strengths in new ways each day for a week were happier and less depressed after six months” (Melissa Madeson, 2021).

Menurut Melissa Madeson (2021), manusia cenderung mengalami flow (pertumbuhan) ketika mereka menggunakan kekuatan karakter terbaik mereka. Penelitian tentang engagement menemukan bahwa individu yang menggunakan kekuatan mereka dengan cara baru setiap hari selama sepekan, akan lebih bahagia dan tidak tertekan setelah enam bulan.

Kecuali jika di masa isoman, seseorang berada dalam situasi sangat berat. Tidak bisa lagi beraktivitas, maka nikmati saja proses sakit dan istirahat tersebut dengan ridha dan sabar. Jika mampu berikap ridha dan sabar atas sakit yang dihadapi, baginya ampunan dan pahala besar. Inipun bagian dari engagement.

******

Contoh tulisan di atas, saya buat di masa menjalani isolasi mandiri. Menulis adalah salah satu cara melawan kebosanan saat berada dalam penjara. Menulis adalah salah satu cara untuk tetap merasa berdaya dan berguna. Miliki kemampuan engagement agar segala sesuatu terasa ringan dan menyenangkan.

Pada dasarnya Anda bisa menulis kapanpun dan dimanapun. Yang diperlukan hanya kemauan. Sepanjang ada kemauan, pasti ada tulisan. Meskipun tengah isoman.

Bahan Bacaan

Martin Seligman, Flourish, A Visionary New Understanding of Happiness and Wellbeing, Atria Books, 2012

Melissa Madeson, Seligman’s PERMA+ Model Explained: A Theory of Wellbeing, 22 Mei 2021, https://positivepsychology.com/

2 thoughts on ““Larutkan Diri” dalam Ritme Isolasi Mandiri

  1. Meskipun masa isoman, jika ada kemauan maka selalu ada tulisan. Ketika saya meriang rasanya ingin selalu rebahan. Masyaallah ustaz Cahyadi Takariawan selalu aktif kreatif walau di masa sulit. Syukran katsiraa atas engagementnya

  2. Sabar, menerima apa adanya dan melarurkan jiwa dlm sebuah aktivitas positif seperti menulis adalah solusi sehat dlm menghadapi keterpurukan termasuk masa ISOMAN.
    Terima kasih Pak Cah suguhan engagementnya pagi ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *