.
Ayuk Menulis Buku Antologi – 19
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Kita kembali ke penerbitan buku antologi ya… Setelah saya jelaskan panjang lebar tentang renik pembuatan buku hingga pemasaran dan penjualan, kita perlu menengok dapur penerbitan.
Apa saja yang terjadi di perusahaan penerbitan buku saat mereka menerima naskah antologi? Saya mengasumsikan, buku antologi diterbitkan di penerbit indi. Sebuah lembaga legal formal, yang memiliki izin sebagai penerbit buku. Penerbit indi bisa melayani sesuai pesanan customer.
Sebuah lembaga penerbitan buku yang lengkap, biasanya mereka menyediakan jasa dan mengerjakan hal-hal berikut:
- Editing dan proofreading
- Setting / layout buku
- Desain cover
- Pengurusan ISBN
- Pencetakan dummy book
- Penerbitan / percetakan buku
Semua poin di atas, sudah saya bahas pada bagian sebelumnya. Simak kembali serial buku antologi ini dari edisi 1 hingga edisi 16.
Yang belum saya bahas adalah poin tentang dummy book, atau buku dummy. Yang dimaksud dengan dummy adalah buku contoh, yang dicetak satu eksemplar untuk menjadi koreksi terakhir bagi penulis / customer.
Sebelum buku dicetak secara massal, perlu dibuat dummy agar bisa dikoreksi sekali lagi. Jika sudah tidak ada yang perlu dikoreksi, baru dicetak sesuai jumlah pesanan.

Contoh-Contoh Kesalahan Setelah Buku Selesai Diterbitkan
Ada banyak contoh kesalahan yang baru diketahui setelah buku diterbitkan. Dari pengalaman banyak penulis yang telah menerbitkan buku, ditemukan beberapa jenis kesalahan yang bisa berakibat merugikan penulis dan pembaca.
Contoh 1 : Kurang Halaman
Di antara contoh yang pernah kami jumpai adalah, buku tercetak dengan beberapa halaman yang hilang atau tidak tercetak. Misalnya, buku dengan jumlah total 200 halaman, ternyata ada 4 halaman yang tidak tercetak. Padahal sudah terlanjur dicetak dalam jumlah banyak.
Kesalahan seperti ini sangat mengganggu pembaca, karena ada informasi yang tidak mereka dapatkan. Termasuk kategori kesalahan fatal yang tidak bisa ditolerir, harus dikembalikan kepada penerbit.
Contoh 2 : Halaman Berantakan
Ada pula buku yang letak halamannya berantakan, tidak berurutan. Misalnya setelah halaman 10, langsung lompat ke halaman 78, lompat lagi ke halaman 160. Ini kesalahan ada pada pihak penerbit yang tidak cermat dalam menyusun halaman buku.
Contoh kesalahan seperti ini, sangat mengganggu bagi pembaca. Karena mereka harus mencari-cari dan mengurutkan sendiri. Maka termasuk kesalahan yang tidak bisa ditolerir, harus dikembalikan kepada pihak penerbit.
Contoh 3 : Ukuran / Dimensi Buku Tidak Sesuai Pesanan
Customer memesan buku dengan ukuran 14 X 21 cm. Hal ini sudah disampaikan dengan jelas kepada pihak penerbit. Namun setelah jadi, ternyata ukuran buku 14 X 20 cm. Kurang 1 cm dari pesanan semula.
Jika buku itu bagian dari sebuah serial yang ukurannya sama semua, yaitu 14 X 21 cm, ketika ada satu buku yang berbeda, menjadi sangat mengganggu. Apalagi ketika serial tersebut dijual secara paket, maka menghajatkan kesamaan ukuran untuk semua bukunya.
Contoh 4 : Tinta Tidak Merata
Dijumpai kasus, hasil cetakan buku yang tidak standar. Semestinya, tinta untuk semua huruf dan ilustrasi memiliki tingkat kecerahan yang sama. Namun ternyata hasil cetakan tidak merata. Tampak belang-belang.
Ada bagian yang tercetak dengan tinta sangat hitam, mirip seperti bold. Namun ada bagian yang tercetak sangat tipis, nyaris tidak terbaca. Jika perbedaannya sangat nyata, bisa dikembalikan kepada penerbit, karena mengganggu keindahan tampilan buku.
Contoh 5 : Letak Terbalik-balik
Sebelum dicetak, sudah diperiksa tata letak buku, dan sudah benar. Namun setelah buku terbit, ternyata tata letak terbalik-balik. Jadi pembaca harus memutar buku untuk bisa membaca, karena pada sebagian halaman posisi tulisannya terbalik.
Contoh kesalahan ini juga sangat fatal, karena akan membuat tidak nyaman pembaca. Jika menemukan kesalahan seperti ini, harus dikembalikan kepada pihak penerbit untuk diperbaiki.
Contoh 6 : Tulisan Terpotong
Ada lagi ditemukan contoh kesalahan setelah buku diterbitkan, yaitu tulisan terpotong. Dalam mencetak buku, terjadi kesalahan yang menyebabkan margin melenceng jauh, sehingga banyak bagian tulisan ikut terpotong.
Kesalahan ini jelas sangat merugikan pembaca. Oleh karena itu harus dikembalikan kepada penerbit untuk perbaikan.
Mengapa Perlu Dummy Book?
Masih banyak contoh-contoh kesalahan lainnya dalam penerbitan buku, disebabkan oleh kesalahan di pihak penerbit. Untuk itu, sebelum dicetak dalam jumlah banyak sesuai pesanan, perlu diterbitkan dulu dummy book.
Dummy adalah buku contoh, dicetak satu eksemplar untuk koreksi akhir. Dengan adanya dummy, akan tampak kualitas percetakan. Adanya kesalahan-kesalahan sebagaimana contoh di atas, sudah bisa diketahui sejak awal.
Pihak penulis atau customer bisa memberikan catatan dan koreksi atas hasil cetakan dalam wujud dummy tersebut. Bisa menyatakan kepuasan atau ketidakpuasan atas hasil pencetakan buku.
Jika terdapat ketidakpuasan, harus dilakukan perbaikan. Jika sudah bagus sesuai harapan, barulah dicetak sesuai jumlah pesanan.

Perlu dummy,agar kesalahan tulisan dan cetakan bisa teratasi dengan baik. Syukran katsiran ustaz Cahyadi Takariawan