20 September 2026

https://www.gq.com/

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Step into your writing shoes, and the cure for your blocks will come” –Blake Powell, 2017

.

Sepulang sekolah, anak saya yang duduk di bangku kelas 4 SD bertanya. “Ayah, apa seragam para penulis?” Saya sempat terhenyak. Jawaban apa yang harus saya berikan kepadanya? Saya tidak pernah memikirkan akan ada pertanyaan seperti ini.

Saya tahu latar belakang pertanyaan itu. Di kelas 4, ada sesi orangtua mengajar. Para orangtua siswa diberi kesempatan untuk mengajar di kelas, mengenalkan profesi masing-masing. Mereka hadir di kelas, dengan seragam dinas masing-masing.

Ada yang polisi, maka beliau hadir di kelas lengkap dengan seragam dinas Polri. Demikian pula yang tentara, hadir di kelas dengan seragam dinas TNI. Yang berprofesi dokter hadir di kelas, lengkap dengan pakaian saat di ruang praktik. Semua menampilkan identitas kedinasan sembari menganlkan profesi tersebut kepada siswa siswi kelas empat SD.

“Ada hal yang sangat menyenangkan ketika kita menjadi penulis, Nak”, jawab saya.

“Penulis itu, seragamnya bebas. Setiap hari ia boleh mengenakan pakaian yang disukainya. Inilah seragam para penulis”, jawab saya.

Kenakan “Sepatu Menulismu”

“How we feel about ourselves determines so much of our actions, and in a way, helps to shape the results of our lives” –Blake Powell, 2017

Blake Powell (2017) menyatakan, bagaimana perasaan kita tentang diri kita sendiri, akan menentukan sangat banyak tindakan dalam kehidupan nyata. Bahkan akan bisa menentukan keberhasilan dalam hidup kita. “Jadi, jika Anda tidak merasa Anda seorang penulis, Anda cenderung tidak akan menulis”, ujar Powell.

Menurut Powell, hal-hal ajaib dalam hidup Anda, tidak akan jatuh begitu saja ke pangkuan Anda. Tidak semudah itu. Anda bisa kehilangan semua peluang jika Anda tidak mengusahakannya. Ini berlaku dalam banyak aspek, seperti posisi, karier, peluang bisnis, pelanggan, dan momentum perbaikan dalam berbagai bidang kehidupan. Termasuk dalam konteks menulis.

“If you don’t feel you’re a writer, you’ll be less likely to write” –Blake Powell, 2017

Seseorang tidak mungkin menjadi Bupati, Walikota atau Gubernur definitif, jika tidak mencalonkan diri dalam Pilkada. Ia harus melewati proses dan prosedurnya. Ia harus menyiapkan segala sesuatu. Juga harus mematut diri agar bisa tampil elegan sebagai calon kepala daerah. Ia harus memakai ‘sepatu walikota’ sebelum ia benar-benar menjadi walikota.

Seseorang tidak mungkin bisa menjadi guru tetap di lembaga pendidikan terkemuka, jika tidak mendaftarkan diri. Ia harus melewati proses dan prosedurnya. Ia harus memiliki kompetensi yang diperlukan untuk menjadi seorang pengajar. Ia memakai ‘sepatu guru’ agar dirinya benar-benar percaya dan merasa bahwa ia layak menjadi guru.

Hanya ada segelintir orang istimewa saja yang diminta oleh pihak lembaga untuk menjadi tenaga pengajar, tanpa melalui proses pendaftaran formal. Sebagian besarnya –lebih dari 90 %, harus melalui proses dan prosedur yang telah ditetapkan lembaga.

“Magical things in your life do not just fall into your lap. You miss all of the opportunities you don’t go after, be they potential partners, careers, or forward momentum in any meaningful sphere of your life, including writing —especially writing” –Blake Powell, 2017

Ini menunjukkan bahwa keajaiban tidak bisa ditunggu dengan diam. Keajaiban juga memerlukan sebab-sebab yang bisa menghadirkannya. Kisah Maryam yang diabadikan dalam kitab suci memberi pelajaran sangat baik tentang hal ini.

Maryam harus menggoyang pangkal pohon kurma, agar buah kurma yang masak bisa jatuh untuk dimakan. Padahal ia dalam kondisi lemah dan lelah. Tak punya tenaga. Namun tetap harus melakukan sesuatu. Bukan diam menunggu keajaiban.

Membiasakan Menulis Setiap Hari

Demikian pula dalam konteks menulis. Anda harus melakukan usaha. “Jika Anda tidak menulis, Anda tidak akan pernah menjadi seorang penulis. Sesederhana itu”, ungkap Powell.

“So if you don’t write, you’ll never become a writer. It’s as simple as that” –Blake Powell, 2017

Bisa jadi, ada hari-hari di mana Anda merasa tidak ingin menulis. “Tidak apa-apa”, ujar Powell, “Namun Anda tetap harus menulis”. Jangan mencari-cari alasan untuk tidak menulis. Sekali Anda menerima alasan, untuk selanjutnya akan selalu hadir alasan-alasan yang menurut Anda masuk akal dan bisa diterima.

Menulis rutin setiap hari adalah usaha untuk terus menerus menjaga hasrat dan semangat. “Jangan biarkan hasrat Anda untuk menulis hilang. Jangan menjadi penulis yang tidak benar-benar menulis”, pesan Powell.

“You may not feel like writing, and that’s okay. But you still have to write” –Blake Powell, 2017

Jika Anda telah mantap untuk memberikan identitas kepada diri Anda sebagai penulis, maka Anda akan lebih termotivasi untuk menulis setiap hari. Anda merasa bahwa Anda adalah penulis. Sedangkan seseorang disebut penulis adalah ketika dirinya menulis. Bukan sesekali waktu, bukan pula kadang kala, namun rutin menulis.

Kenakan ‘sepatu menulis’ Anda, ujar Powell. Ini akan membantu Anda mengatasi berbagai kendala dalam menciptakan tulisan. Dengan demikian Anda merasa benar-benar menjadi penulis. Menyatakan kepada diri sendiri dengan sepenuh keyakinan, bahwa aku adalah penulis. Maka aku menulis setiap hari.

“Don’t let your passion for writing fall by the wayside. Don’t be a ‘writer’ that doesn’t actually write” –Blake Powell, 2017

Selamat menulis, selamat menciptakan karya untuk mengubah dunia.

Bahan Bacaan

Blake Powell, How to Be Unstoppable and Write Every Day, 26 Mei 2017,  https://writingcooperative.com/

.

Ilustrasi : https://www.gq.com/

1 thought on “Kenakan “Writing Shoes”mu Agar Bersemangat Menulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *