.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Puisi adalah salah satu karya sastra yang merupakan ekspresi jiwa penulisnya. Membuat puisi, artinya Anda bekerja dalam ruang imajinasi bebas. Anda bebas berkhayal tentang apa saja, tak ada batasnya. Bebas merdeka.
Lewat puisi Anda telah mengembangkan kemampuan imajinasi, kemampuan berpikir kreatif, kemampuan memilih kosa kata, serta kemampuan mengekspresikan perasaan. Puisi adalah saluran yang terbuka lebar, di saat berbagai saluran lainnya mampat atau sengaja dimampatkan.
Maka menulis puisi bisa menjadi ledakan yang “mematikan”. Seperti seorang buruh, ia bisa ‘membunuh’ majikan zalim melalui puisi. Rakyat jelata, bisa ‘membunuh’ penguasa melalui puisi. Ledakan kata-kata magis, mampu menyuntikkan spirit pergerakan dan perubahan.
Namun, apakah puisi selalu berkonotasi bebas merdeka? Ternyata tidak. Ada jenis puisi yang ritmis dan memiliki pola baku.
Haiku, Imajinasi dalam Kotak-Kotak Pola
Haiku adalah fenomena menarik. Sebagai karya sastra, ia disebut puisi. Namun dari segi imajinasi, ruang yang disediakan berupa pola. Maka ada keterpaduan unik antara kebebasan berimajinasi, dengan ketaatan kepada pola.
Sebagaimana diketahui, haiku adalah puisi Jepang kuno, yang terdiri dari tujuh belas suku kata dengan pola 5-7-5, disertai kigo dan kireji. Baris pertama haiku terdiri dari 5 suku kata, disebut dengan kamigo atau shougo. Baris kedua terdiri dari 7 suku kata, disebut dengan nakashichi. Baris ketiga terdiri dari 5 suku kata, disebut shimogo.
Selain berpola 5-7-5, yang khas dari Haiku adalah keberadaan kigo dan kireji. Unsur kigo dianggap sangat penting dan baku dalam Haiku, yang mengungkapkan empat musim, baik tentang kondisi alam di empat musim, maupun ungkapan perasaan penulis pada empat musim tersebut. Orang yang menciptakan Haiku tanpa kigo, dianggap tidak memiliki rasa peka dan penghormatan terhadap alamnya.
Sedangkan kireji adalah kata-kata yang dipakai untuk memotong frase dalam Haiku, atau kata yang berfungsi sebagai pemenggal ungkapan. Biasanya berupa ungkapan perasaan yang dalam sehingga menjadi salah satu faktor yang menambah keindahan Haiku.
Haiku yang dianggap paling standar adalah karya Matsuo Basho (1644 – 1694). Basho telah menciptakan sekitar 1.000 Haiku, dengan mengikuti pola yang tertib dan baku, selalu berpola 5–7–5, tiga baris, dan selalu menggunakan kigo dan kireji.
Saya ambil satu contoh dulu karya Matsuo Basho, lengkap dengan tulisan asli Jepang, dan terjemahan dalam bahasa Indonesia. Dalam edisi terjemahan, tidak bisa dipertahankan pola 5–7–5. Tak apa. Yang penting mengerti aslinya.
行春や 鳥啼き魚の 目は泪
Yuku haru ya = 5
Tori naki uwo no = 7
Me ha namida = 5
Terjemahan dalam bahasa Indonesia, sebagai berikut.
Musim semi berlalu
Burung menangis, dan mata ikan itu
Mengucur air mata
Basho telah menjadi legenda haiku asli. Di zaman modern, haiku telah mengalami banyak modifikasi. Semakin banyak orang membuat kreasi yang tidak lagi terikat dengan pola baku. Keaslian haiku telah pudar di zaman cyber ini.
Aktivasi Otak Kanan dan Otak Kiri
Kita lihat, dalam contoh haiku karya Basho di atas, selain taat kepada pola baku 5-7-5, juga memasukkan unsur kigo dan kireji. Kita menemukan kata musim semi, burung, ikan, menangis, air mata. Ada perasaan terhadap musim. Bahwa karena musim semi telah berlalu, burung dan ikan bercucuran air mata. Sedih ditinggal musim semi.
Orang Jepang menghargai dan menghayati musim. Mereka memiliki sejumlah ritual yang terkait dengan musim. Ada kedekatan dengan alam, dan apresiasi atas alam semesta. Hal ini membangun kesadaran kosmos, kehadiran manusia di muka bumi yang harus peka terhadap perubahan kondisi dan situasi.
Dalam pembahasan tentang cara kerja otak kanan dan otak kiri, maka haiku telah menyebabkan kedua bagian otak bekerja sama. Imajinasi bebas adalah aktivitas otak kanan, sedangkan ketaatan terhadap pola adalah aktivitas otak kiri. Dengan demikian, mahir membuat haiku, akan meningkatkan kinerja otak, sehingga meningkatkan kecerdasan.
Mendialogkan dan Menikmati Haiku
Anda ingin lebih memahami haiku? Ayuk berdiskusi bersama. Ikuti dan simak Special Webinar, sekaligus launching buku antologi haiku “Melangkah Bersama”.
Hari, tanggal : Kamis 6 Mei 2021
Waktu : Pk 13.00 – 14.30 wib
Narasumber :
1. Indah Fitriani, M.Hum., M.A (Dosen Sastra Jepang Universitas Padjadjaran)
2. Cahyadi Takariawan (Pengelola menulis.nurdin.id)
Bintang Tamu: Bunda Alvika Hening Perwita dan ananda M. Fadli Al-Mousawi (tinggal di Jepang)
Host : Bunda Juliah, M.Pd.I.
Plus pembacaan haiku dan musikalisasi haiku
Media : Zoom Meeting dan Live Streaming Youtube
Link zoom dan youtube, kontak admin mbak Inuoi, nomer WA 0852-3262-1470. Acara ini terbuka untuk umum dan gratis. Ajak keluarga, teman, kerabat untuk menikmati haiku, dan meningkatkan kecerdasan otak kita.
Ditunggu kehadiran Anda. Kita nikmati bersama.
