19 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

Being a writer requires only one thing: actually writing” — Mel Lee-Smith (2017)

.

Menulis itu mengasyikkan. Saking asyiknya, sampai kita merasa tidak memerlukan penghargaan apapun untuk kegiatan menulis yang kita  lakukan. Setiap berhasil menciptakan karya tulis, itu adalah hadiah untuk diri diri kita sendiri. Sekaligus inspirasi bagi orang lain.

Mengapa menulis itu asyik?

Pertama, karena menulis bisa dilakukan oleh siapapun. Kita tidak harus kuliah di Fakultas Sastra dan Bahasa untuk bisa menjadi penulis. Kita tidak harus belajar di Akademi atau Sekolah Tinggi tertentu.

Mel Lee-Smith (2017) menyatakan, menjadi penulis tidak harus kuliah di Fakultas Sastra atau Bahasa, tak juga harus menjadi penerus Rowling. “You don’t have to study writing or language at university”, ujarnya.

Seorang yang tak lulus Sekolah Dasar pun, bisa menuangkan perasaan dan gagasan melalui tulisan. Orang yang tak tersentuh pendidikan tinggi, bisa menulis. Orang tua renta, bisa menulis. Anak muda belia, bisa menulis. Semua orang bisa menulis.

Kedua, syarat menjadi penulis sangatlah mudah, yaitu : rutin menulis. Tidak memerlukan gelar akademik, tidak memerlukan titel, tidak memerlukan standar kompetensi tertentu yang dinilai oleh sebuah badan akreditasi.

Syarat menjadi penulis, hanyalah “benar-benar menulis.” Saat itu, Anda telah menjadi penulis. “Being a writer requires only one thing: actually writing”, ungkap Mel. Tanpa melakukan aktivitas itu, Anda bukan penulis.

Anda tidak harus menjadi Rowling atau King untuk disebut sebagai penulis. “You don’t have to be the next J.K. Rowling or Stephen King”, ungkap Mel. Anda cukup menjadi diri sendiri yang rajin dan rutin menulis.

Ketiga, untuk menjadi penulis tidak harus memiliki bukti berupa lencana penghargaan. Tidak penting deretan panjang status dan penghargaan, karena yang paling penting adalah Anda benar-benar menulis. Sesederhana itu untuk menjadi penulis.

Still, it doesn’t matter what descriptor you tack on – published, award-winning, best-selling, novice – if you write, you’re a writer. Simple as that”, ujar Mel. Mungkin Anda belum memiliki buku sendiri, mungkin buku Anda bukan best seller, mungkin Anda belum pernah menjadi juara dalam bidang kepenulisan.

Tanpa penghargaan apapun, sepanjang Anda benar-benar menulis, Anda adalah penulis. Orang tidak ada yang bisa menggugat Anda, karena Anda telah melakukan ‘tugas profesi’ sebagai penulis, yaitu : menulis.

Keempat, tujuan menulis bisa sangat beragam, sesuai dengan keinginan dan harapan masing-masing orang. Ada tujuan yang kembali kepada diri sendiri. Ada tujuan yang kembali kepada orang lain. Kita bebas merumuskan tujuan sendiri.

Ada tujuan menulis untuk katarsis. Dengan menulis seseorang akan merasa lebih baik keadaannya, karena telah melepas beban melalui tulisan. Ini adalah tujuan yang kembali kepada diri sendiri. Hasil karya tulis tidak untuk dipublikasikan. Hanya untuk sarana pelepasan beban.

Ada tujuan menulis untuk kepentingan perjuangan ideologi. Seseorang yang ingin mempromosikan ideologi yang diyakini, akan sangat halus dilakukan melalui ideologi.  Karya fiksi, membuat pembaca larut menikmati. Tanpa terasa, mereka meyakini ideologi yang disampaikan si penulis tanpa mereka sadari.

Kelima, menulis bisa menghasilkan pengalaman spiritual dan emosional yang mengesankan. Lewat tulisan, kita telah memasuki ruang-ruang tanpa batasan. Kita bisa menjadi siapa saja yang kita kehendaki, melalui karya fiksi. Kita bisa mendapatkan semua yang ingin kita miliki, melalui karya fiksi.

Lewat tulisan, ada sangat banyak pengalaman spiritual dan emosional yang sangat menyenangkan. Kita bisa “membunuh” tokoh yang kita benci. Kita bisa “menghancurkan” sosok yang kita musuhi. Ini benar-benar pengalaman yang mengesankan.

Keenam, menulis bisa membuat semua waktu menjadi produktif. Kadang banyak orang bingung dengan waktu-waktu senggang. Banyak orang tak punya  konsep, akhirnya banyak waktu terbuang percuma. Tanpa produktivitas.

Jika Anda rajin menulis, maka seluruh waktu bisa optimal memghasilkan karya. Setiap ada waktu senggang, langsung digunakan untuk menulis. Dengan demikian sangat banyak karya bisa dihasilkan dalam kehidupan. Tak ada waktu menganggur dan terbuang percuma.

Betap asyik menulis. Sayang jika hanya menjadi pembaca karya. Jadilan pencipta karya.

Bahan Bacaan

Mel Lee-Smith, Stop Calling Yourself an “Aspiring” Writer, https://www.melleesmith.com,  23 Juni 2017

4 thoughts on “Menulis Itu Benar-Benar Mengasyikkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *