.
Oleh : Carolina Destika Kartika Kurniasari, ID – 00501 EEPK 2020
.
“Jika ada suatu masa, dimana engkau menjumpai dirimu tengah terpuruk, bukalah lembaran rasa yang telah engkau abadikan dalam tulisan. Itu akan membangkitkanmu” (Carolina Destika, 2020)
.
Sesuatu yang datang dari hati akan sampai ke hati. Itu pasti. Ada gaung-gaungnya, banyak getaran halus yang membangunkan jiwa di setiap untaian kata-kata yang terucap. Seperti menuntun menuju cahaya.
Hati yang selama ini membeku, mencair sedemikian rupa. Kaki yang selama ini kaku tiba-tiba mampu berjalan lalu berlari dengan kencang. Jari-jari mulai menari mengiringi irama imajinasi.
Suara-suara hati berpacu berlarian dalam huruf-huruf yang berloncatan terhampar di layar. Badan mampu duduk tegak, mata sanggup tidak terpicing, mengembara dari tengah malam sampai akhir.
Inikah yang dinamakan menulis semudah bernapas?
Begitulah yang kurasakan begitu bergabung di kelas Emak-Emak Punya Karya bersama Pak Cah. Bagai seorang Bapak yang sangat sayang sama anak-anaknya. Pengen anaknya jadi baik. Mengajarkan ilmu dengan penuh kesabaran dan telaten.
Mengoreksi, membetulkan dan meluruskan dengan hati-hati. Bagaikan meluruskan bambu yang bengkok, takut patah malah rusak. Pak Cah pandai menyesuaikan umumnya kondisi Emak Emak. Yang dibenarkan tak kerasa kalo dia salah. Yang diluruskan tak tahu kalau sebelumnya bengkok.
Menyuntikkan semangat, memotivasi dan mendorong terus maju jangan berhenti. Teori dan praktek berjalan beriringan. Pada dasarnya semua orang bisa menulis, wong semua orang punya cerita. Perlu sering sering menulis biar punya jam terbang yang tinggi.
Tugas penulis cuma tiga, pertama menulis kedua menulis ketiga menulis. Menulis itu adalah proses menuangkan ide. Biar menulis bisa dilakukan tanpa lelah, cari sesuatu yang membuat motivasi menulis meningkat.
Satu penjelasan yang sangat masuk akal dari Pak Cah adalah bahwa umur manusia itu terbatas, tentu saja amalan yang dilakukan juga terbatas. Rasanya kurang kalau ingin masuk surga dengan hanya mengandalkan amalan yang tak seberapa.
Nah dengan menulis, apalagi yang ditulis adalah kebaikan yang bisa memberi manfaat bahkan menularkan kebaikan. Maka kebaikannya menjadi sambung menyambung, pahalanya terus menerus tak pernah putus. Bisa berkali kali lipat mengalir terus tiada henti selama kebaikan yang diajarkan masih terus dilakukan.
Bagiku menulis tidak hanya menyebarluaskan kebaikan untuk orang lain. Lebih dari itu menulis itu sejatinya untuk diri sendiri. Dengan menulis menyembuhkan hati yang terluka, melipur duka laranya,
Tulisanku sejatinya kutujukan untuk menasehati diri sendiri. Memompakan semangat dan motivasi. Ia adalah mutiara yang sangat berharga. Berguna sepanjang masa. Jika ada suatu masa, dimana engkau menjumpai dirimu tengah terpuruk, bukalah lembaran rasa yang telah engkau abadikan dalam tulisan. Itu akan membangkitkanmu.
Jiwa yang sedang ringkih akan menemukan cahaya dari suara hati yang dulu dituliskan dengan ruh dan cinta. Jangan ragu untuk mengabadikan suara hati dan tulisan yang penuh ruh.
Satu hal yang kuangankan adalah, nantinya tulisanku akan menemani anak keturunanku mengarungi samudera kehidupan. Mereka akan mengenal siapa nenek moyangnya melalui tulisan yang tertinggal.
Tulisanku yang penuh cinta menurunkan cinta turun temurun dan sambung menyambung tak ada putusnya dari generasi ke generasi. Walau aku telah tiada, cahayanya tetap kuterima di alam penantian.
Pak Cah, berkat dirimu, aku percaya Emak-Emak Bisa Punya Karya. Tidak cukup satu, tapi terus berkarya sepanjang usia. Terima kasih telah mengajariku menulis semudah bernapas.
