19 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

Adolescence can be a time of both disorientation and discovery. One important component of communicating with teens is helping them understand what lies ahead” – Psychology Today

.

Membuat tulisan untuk remaja, sangat berbeda dengan tulisan untuk orang dewasa. Ada kondisi “disorientation and discovery” pada diri remaja, sebagaimana diungkap oleh web Psychology Today. Mereka tengah melewati masa peralihan yang rumit, dari fase anak-anak menjadi fase dewasa.

Menasehati dan mengarahkan remaja bukan hal yang mudah. Mereka tengah melewati storm, badai. Remaja disebut berada pada fase menggerutu. Mereka tak suka digurui, tak suka diinstruksi, tak suka diceramahi. Maka menyapa mereka memerlukan sentuhan seni tersendiri.

Pada postingan sebelumnya telah saya sampaikan bagaimana tulisan yang bisa memahami dunia remaja. Kita harus memasuki dunia mereka, sebelum menulis untuk segmen mereka.

Berikut beberapa aspek yang perlu dihadirkan saat menulis untuk segmen remaja.

  • Munculkan keseruan

Remaja suka yang seru-seru, rame-rame, heboh-heboh. Lihat saja saat mereka berkumpul, yang muncul adalah keseruan. Mereka melakukan aktivitas rame-rame yang seru. Maka hadirkan tulisan yang memberikan aspek seru pada mereka.

Tulisan fiksi seperti cerpen atau novel lebih mungkin untuk mengekspresikan keseruan remaja itu. Ajak mereka berpetualang, berfantasi, menikmati adegan yang menegangkan. Ini akan lebih mudah menyentuh mereka, ketimbang tulisan datar berupa nasihat dan instruksi langsung.

  • Gunakan gaya bahasa remaja

Menulis untuk segmen remaja, harus menggunakan bahasa remaja. Bagaimana Anda bisa mengetahui tren bahasa remaja? Sangat banyak channel youtube milik remaja, lihat, amati dengan seksama. Ambil kosa kata dan istilah yang sering muncul pada channel mereka.

Kurt Dinan menyatakan, remaja suka menyiarkan berbagai aktivitas hidup mereka. “YouTube is full of videos of teens talking, giving advice, and just being plain. Tuning in is a great way to pick up the flow of their language”, ujar Dinan. Kita bisa mencermati berbagai tayangan yang mereka unggah melalui youtube, untuk mengetahui bahasa mereka.

Gaya bahasa formal dan akademik, sangat membosankan bagi mereka. Bacaan formal dan akademik sudah mereka dapatkan dalam buku-buku pelajaran atau ‘buku wajib’ sebagai siswa. Mereka ingin menikmati pengalaman membaca yang asyik dan bersahabat.

  • Tidak menginstruksi

Instruksi sudah sering mereka dapatkan dari orangtua di rumah dan guru di sekolah, Remaja ingin dimengerti sebagai sahabat. Bukan diinstruksi sebagai anak atau murid. Maka tulisan yang menginstruksi cenderung tidak mereka sukai.

Gaya showing dalam tulisan akan lebih mengena dibanding gaya telling. Dengan gaya showing, mereka akan berimajinasi secara bebas, dan memahami sesuai perspektif remaja. Maka tulisan fiksi dengan ending yang sengaja dibuat menggantung, lebih disukai remaja.

  • Libatkan mereka

Mereka ingin menjadi subyek, bukan obyek. Maka libatkan mereka dalam tulisan Anda. Jika Anda menulis nonfiksi, ajar remaja berkhayal dan beraktivitas. Misalnya Anda minta mereka menjawab kuis, menebak teka-teki, atau menjawab tantangan yang Anda berikan.

Jika Anda membuat buku, bisa menyediakan halaman-halaman kosong untuk ruang imajinasi dan kreativitas yang Anda sediakan bagi mereka. Ini adalah bentuk-bentuk upaya melibatkan remaja dalam tulisan Anda.

Dalam dunia medsos, mereka terbiasa beraktivitas dengan mengunggah sesuatu. Mereka bisa upload foto, video, gambar, tulisan atau apa saja, melalui berbagai fitur media sosial. Intinya, mereka suka menjadi pelaku.

  • Pendek saja, jangan terlalu panjang

Remaja generasi Z, terpola oleh internet. Aktivitas melalui gadget, adalah “scroll and swipe”. Rentang perhatian remaja sangat pendek. Itu sebabnya unggahan 3 menit di youtube lebih disukai dibanding unggahan 30 menit. Di instagram, bahkan hanya diberi ruang 1 menit untuk video.

Demikian pula dalam menulis. Buat tulisan yang pendek saja, jangan terlalu panjang. Cerita pendek di bawah 3.000 kata lebih mudah di akses remaja dibanding cerpen 10.000 kata. Mereka ini minimalis dalam setiap item konten, namun mereka ingin mendapat banyak jumlah item.

Bikin dialog yang ringan, cerdas, simpel, dan menyenangkan. Bukan dialog panjang bertele-tele.

Selamat menulis, selamat menginspirasi.

Bahan Bacaan

Kurt Dinan, How to Write for Teens Without Sounding Like an Adult Writing for Teens, https://www.writersdigest.com, 4 April 2016

Psychology Today, Adolescence, https://www.psychologytoday.com, diakses 28 Desember 2020

3 thoughts on “Membuat Tulisan untuk Remaja – 2

  1. Alhamdulillah di pagi yang cerah mendapatkan nutrisi penuh berkah.
    Terima kasih .jazaakumullah ustadz Cahyadi Takariawan.

  2. Terimakasih Pak Cah motivasi pagi ini tentang remaja …kebetulan putriku yg ke-3 masuk remaja sangat cocok saya untuk memantaunya dan dituliskan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *