19 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Pada tulisan sebelumnya, telah saya sampaikan cara mengatasi kebingungan menulis, dengan menggunakan pendekatan outline atau kerangka tulisan. Pada prinsipnya,  tuliskan bagian yang mudah terlebih dahulu. Setelah semua bagian yang mudah bisa diselesaikan, baru masuk ke bagian yang paling sulit. Silakan simak kembali tulisan saya di sini.

Nah, sekarang, bagaimana menyelesaikan bagian yang paling sulit dari outline yang sudah kita tetapkan? Kali ini, saya mengajak Anda menguraikan kerumitannya. Prinsipnya sama, boleh sulit, tapi jangan bingung. Kebingunganlah yang membuat semuanya menjadi sulit dan rumit.

Mari kita urai satu per satu. Ini memang sulit, namun harus dihadapi dengan tenang. Pelan-pelan saja. Tarik nafas dulu, lalu lepaskan. Trus minum air putih hangat dulu, biar segar. Oke, sudah tidak bingung?

Berikut tiga langkah mengurai kesulitan –dari bagian paling sulit dalam outline.

Pertama, pelajari terlebih dahulu di mana letak kesulitannya

Coba cermati bagian yang Anda anggap sulit itu. Di mana letak kesulitannya? Definisikan, apa yang membuat Anda sulit. Sebab, kesulitan bersifat sangat subyektif. Hal yang mudah bagi seseorang, bisa menjadi sulit bagi orang lain –dan sebaliknya.

Karena kesulitan itu bersifat subyektif, maka Anda harus bisa mendefinisikan di mana letak kesulitannya. Misalnya:

  1. Saya tidak punya ide mau menulis apa di bagian itu
  2. Saya tidak punya data untuk menulis di bagian itu
  3. Saya tidak punya alat analisa
  4. Saya kurang bahan
  5. Saya tidak punya buku referensi yang saya perlukan
  6. Saya tidak tahu dimana sulitnya, tapi saya tak bisa menuliskannya

Tentu saja jenis kesulitan bukan hanya enam poin tersebut. Namun Anda harus bisa mendefinisikan, tipe kesulitan mana yang Anda hadapi? Semakin Anda mampu mendefinisikan jenis kesulitannya, semakin mudah Anda menemukan solusinya. Jadi, jangan bingung.

Meskipun sulit, tetaplah dengan tenang dan jernih mencermati, “hal apa sih yang membuat aku sulit?” Sekali lagi, jangan bingung.

Kedua, coba cari solusi untuk menyelesaikan kesulitannya

Setelah jenis kesulitannya definitif, maka sekarang saatnya mencari solusi yang paling tepat. Misalnya, jenis kesulitannya seperti yang telah saya sampaikan di atas. Mari kita lihat kemungkinan solusinya.

Kesulitan 1 : Saya tidak punya ide mau menulis apa di bagian itu.

Contoh solusi : bacalah tulisan orang lain, yang temanya sama. Dari sana Anda akan mendapatkan ide untuk menulis. Bukan dengan mengutip, tapi menemukan ide.

Kesulitan 2 : Saya tidak punya data untuk menulis di bagian itu.

Contoh solusi : carilah data yang diperlukan, dari sumber-sumber terpercaya. Misalnya dari BPS, atau lembaga Pemerintah, melalui web resmi, dan lain sebagainya.

Kesulitan 3 : Saya tidak punya alat analisa.

Contoh solusi : untuk menganalisa suatu masalah, Anda bisa menggunakan kerangka atau alat dari pengalaman Anda sendiri. Bisa juga dengan menggunakan metodologi yang dibuat para ahli, yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Kesulitan 4 : Saya kurang bahan

Contoh solusi : carilah bahan-bahan dengan membaca, bertanya, wawancara, dan cara-cara lainnya. Bahan bisa dari web, blog, youtube, bahkan postingan facebook, instagram, tweeter, dan lain sebagainya.

Kesulitan 5 : Saya tidak punya buku referensi yang saya perlukan

Contoh solusi : definisikan judul bukunya, cari di perputakaan atau di toko buku. Bisa juga dengan mencari versi ebook di internet.

Kesulitan 6 : Saya tidak tahu dimana sulitnya, tapi saya tak bisa menuliskannya

Contoh solusi : jika ini kesulitan Anda, beralihlah ke plan B, berikut ini.

Ketiga, tempuh plan B

Plan B adalah keputusan yang harus diambil saat tidak bisa mendapatkan solusi seperti yang diharapkan. Jika Anda gagal mendefinisikan kesulitan, atau gagal mendapatkan solusi, atau keduanya, maka saran saya : beralihlah ke plan B.

Plan B bisa banyak bentuknya. Misalnya, mengubah bagian yang paling sulit tersebut, atau justru dengan membuangnya. Nah, sederhana kan? Tidak harus dipaksa untuk menyelesaikan bagian sulit tersebut.

Dalam tradisi penulisan populer, kita leluasa mengubah, menambah, membuang bagian-bagian dari outline, atau bagian-bagian dari tulisan kita. Sangat berbeda dengan tradisi penulisan ilmiah (murni), seperti skripsi, tesis, disertasi, jurnal akademik, dan lain sebagainya.

Maka Plan B ini kembali ke kita masing-masing. Mungkin dilakukan pengubahan. Mungkin dilakukan penambahan. Mungkin pula pengurangan. Sesuai situasi dan kondisi, dan sesuai dengan selera kita sebagai penulis yang bebas merdeka.

Selesailah kesulitan tersebut, dan tuntas pula karya tulis Anda. Selamat mengatasi kesulitan dengan tenang. Jangan terjebak kebingungan.

Bandung, 5 Oktober 2020

3 thoughts on “Agar Tidak Bingung Saat Menulis – 3

  1. Alhamdulillah..noted Gurunda. Dan Plan B selama bukan tulisan ilmiah adalah pilihan bijak manakala sudah buntu berkepanjangan…

  2. Alhamdulillaahirabbil’aalamiin,

    Matur nuwun, Pak Cah.
    Jazakallaahu khair.
    Tulisan Pak Cah mencerahkan. Saya mengalami kesulitan, tetapintulisannya tidak diuraikan dalam tulisan, sehingga tidak terurai.
    Menuliskan kesulitan untuk dipetani satu persatu dan dicari jalan keluarnya.

    Nuwun, Pak.

  3. Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

    Mengatasi kebingungan dalam menulis karena ada bagian yang rumit atau sulit dari sebuah outline :
    1. Pelajari dulu dimana letak kesulitannya.
    2. Coba cari solusi untuk menyelesaikan
    kesulitan.
    3. Tempuh plan B

    #Awali dengan niat yang Ikhlas
    #Berdo’a pada Yang Maha ‘Alim.

    “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai ( dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras ( untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Rabbmulah engkau berharap” 1)

    Syukron pak Cah
    jazakallahu khair

    Selasa 6 Oktober 2020

    1) Terjemahan Al Qur’an surat ke 94 ayat 5,
    6, 7, dan 8.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *