.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Kita semua akan menjadi tua. Karena tua bukanlah pilihan, dia merupakan keharusan. Namun apakah menjadi tua identik dengan kehilangan produktivitas? Nah ini yang menjadi pilihan.
Mau menjadi orang tua produktif, atau mau menjadi orang tua yang duduk melamun melihat tanaman dan burung-burung di teras rumah? Ini pilihan, dan kita semua bisa memilih.
Saya mengidolakan ulama kharismatik dari Qatar, Dr. Yusuf Al-Qardhawi, dalam hal produktivitas di sepanjang kehidupan. Saya sangat terinspirasi dengan banyaknya buku beliau, dan betapa konsisten beliau menulis setiap hari. Sampai usia 94 tahun saat ini (September 2020), beliau tetap aktif menulis, merampungkan ensiklopedia yang diharapkan berjumlah 100 jilid.
Dalam hal produktivitas menulis, saya ingin seperti Dr. Yusuf Al-Qardhawi. Tentu saya tidak bisa meniru beliau dalam segala aspeknya, namun saya ingin meniru beliau dalam produktivitas menulis.
Saya tidak bisa meniru dari sisi kesalihan, kedalaman ilmu agama, maupun gaya bahasa beliau. Namun saya ingin meniru habit positif beliau, berupa daya tahan dalam menulis, dan produktivitas dalam menghasilkan karya tulis. Buku yang sudah beliau terbitkan, lebih dari 200 judul, dan tetap terus menerus menulis di usia yang sudah 94 tahun sekarang ini.
Saya kutip dari laman Facebook Jauhar Ridloni Marzuq, mengenai kebiasaan harian Dr. Qardhawi. Usai sarapan pagi, beliau menuju ruang tempat menulis. Beliau meninggalkan ruang kerja menulisnya, rata-rata jam duabelas tengah malam.
Sisa waktu usianya dihabiskan untuk menulis. Ini adalah cara memperpanjang usia kemanfaatan, dan menambah amal jariyah bagi beliau. Semangat, energi dan daya tahan beliau dalam menulis, saya sungguh mengidolakannya. Inilah habit positif yang saya ingin miliki dalam kehidupan saya sebagai penulis.
Orang Jawa suka memberi nasehat, “Ojo nganti tuwa ning tuwas. Tambah tuwa ming dadi ampas”.
Boleh tua, namun produktiflah berkarya.

Ojo nganti tuwa ning tuwas. Tambah tuwa ming dadi ampas”. Semangat paginya trimk ustadz